Tim SAR gabungan melakukan penyisiran lokasi ditemukannya barang-barang milik kru dan penumpang pesawat Indonesia Air Transport (IAT) ATR 42-500 yang kecelakaan di Gunung Bulusaraung. Hingga hari keempat operasi, tim SAR gabungan juga belum bisa mengevakuasi dua jenazah yang telah ditemukan akibat cuaca buruk.
Kepala Basarnas Makassar selaku SAR Mission Coordinator (SMC), Muhammad Arif Anwar, mengatakan bahwa fokus utama pencarian hari keempat diarahkan pada penyisiran lanjutan lokasi temuan, baik barang-barang milik korban maupun bagian-bagian pesawat.
"Pada hari keempat operasi, tim SAR gabungan kembali menyisir area-area yang sebelumnya telah ditemukan barang milik korban dan serpihan pesawat. Penyisiran dilakukan secara bertahap dan terukur menyesuaikan rencana operasi," ujarnya di kantor Basarnas Makassar, Selasa (20/1).
Ia menjelaskan bahwa tim SAR gabungan yang dibagi ke dalam 9 Search and Rescue Unit (SRU) memfokuskan pencarian pada sektor-sektor yang telah terpetakan berdasarkan koordinat temuan korban, barang milik korban, serta bagian badan pesawat. Lokasi kejadian berada di kawasan tebing curam dengan perkiraan kedalaman ratusan meter dari puncak.
"SRU 1 hingga SRU 5 melaksanakan penyisiran di beberapa terapan yang menjadi titik temuan awal, antara lain lokasi korban pertama, serpihan dan jendela pesawat, mesin pertama dan tangga kursi, lokasi temuan korban kedua beserta barang pribadi, hingga area sayap dan mesin kedua pesawat di sekitar air terjun," ujarnya.
Advertisement
Tim Cek Ekor Pesawat
Sementara itu, SRU 6 melakukan pengecekan lanjutan terhadap lokasi ekor pesawat yang berada di kedalaman sekitar 200 meter. Untuk proses evakuasi, SRU 7 melaksanakan pemindahan korban menuju area persawahan Kampung Baru, dengan pengamanan jalur evakuasi oleh SRU 8.
Advertisement
Kerahkan Helikopter dari Lanud Hasanuddin
Dari sektor udara, SRU 9 melaksanakan penyisiran menggunakan unsur helikopter dari Lanud Hasanuddin menuju kawasan Pegunungan Bulu Saraung untuk menyisir seluruh sektor pencarian dan memperkuat pemetaan lokasi bagi tim darat.
"Seluruh SRU bekerja berdasarkan data koordinat dan hasil temuan di lapangan. Medan yang curam dan cuaca ekstrem masih menjadi tantangan. Namun operasi tetap dilaksanakan dengan mengutamakan keselamatan personel," ucapnya.