Anggota DPD RI Desak Pemerintah Segera Lakukan Evaluasi Bangunan Sekolah, Cegah Insiden Ambruk Terulang
Anggota DPD RI Muhdi mendesak pemerintah segera melakukan evaluasi bangunan sekolah di seluruh Indonesia menyusul insiden ambruknya gedung di Bogor dan Bandung. Langkah ini krusial untuk mencegah korban jiwa.
Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Muhdi, mendesak pemerintah segera menginventarisasi seluruh bangunan sekolah di Indonesia. Imbauan ini disampaikan untuk mencegah terulangnya insiden ambruknya gedung sekolah yang mengancam keselamatan siswa.
Desakan tersebut muncul menyusul kejadian tragis di SMKN 1 Gunung Putri, Kabupaten Bogor, dan SMPN 1 Pasundan, Kota Bandung, yang menelan korban luka. Muhdi menegaskan pentingnya tindakan cepat, terutama mengingat kondisi cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi.
Pemerintah daerah diharapkan proaktif dalam mengidentifikasi sekolah-sekolah yang memerlukan perbaikan atau bantuan. Langkah ini dianggap krusial demi memastikan lingkungan belajar yang aman dan terhindar dari risiko bangunan roboh.
Pentingnya Inventarisasi dan Bantuan Mendesak
Muhdi menekankan bahwa pemerintah harus serius melakukan inventarisasi bangunan sekolah, baik negeri maupun swasta. Proses ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi struktural gedung yang berpotensi membahayakan.
"Pemerintah harus betul-betul menginventarisasi sekolah-sekolah mana yang memang harus segera dibantu," ujar Muhdi. Ia menambahkan bahwa tindakan ini sangat mendesak, terutama mengingat cuaca ekstrem yang dapat memperparah kondisi bangunan rapuh.
Jika hasil inventarisasi menunjukkan adanya bangunan yang mengkhawatirkan, bantuan harus segera dikucurkan tanpa penundaan. Muhdi, yang juga Ketua PGRI Jawa Tengah, mengingatkan bahwa program bantuan untuk sekolah swasta juga tersedia dan harus dimanfaatkan.
"Terlalu mahal kalau sampai harus ada anak yang jadi korban," tegasnya, menyoroti urgensi perlindungan terhadap siswa. Keselamatan para pelajar menjadi prioritas utama dalam setiap kebijakan pembangunan dan pemeliharaan fasilitas pendidikan.
Insiden Ambruk dan Faktor Penyebab
Peringatan dari DPD RI ini bukan tanpa alasan, melainkan respons terhadap serangkaian insiden bangunan ambruk yang terjadi baru-baru ini. Salah satunya menimpa SMKN 1 Gunung Putri, Kabupaten Bogor, pada Senin (3/11) sore.
Kejadian di Bogor menyebabkan setidaknya 44 siswa mengalami luka-luka, diduga akibat pohon tumbang yang menimpa bangunan saat hujan deras. Peristiwa ini menunjukkan kerentanan infrastruktur sekolah terhadap kondisi alam yang tidak terduga.
Di hari yang sama, SMP Negeri 1 Pasundan, Kota Bandung, juga mengalami insiden serupa sekitar pukul 11.00 WIB. Robohnya ruang kelas VII D di Bandung melukai enam siswa, dengan dugaan faktor usia bangunan sebagai penyebab utama.
Bangunan di SMPN 1 Pasundan diketahui sudah diusulkan untuk revitalisasi ke dinas terkait, namun ambruk sebelum perbaikan dilakukan. Dua insiden ini menjadi bukti nyata perlunya tindakan preventif melalui evaluasi bangunan sekolah secara menyeluruh.
Komitmen Keselamatan dalam Pembangunan Baru
Di sela-sela peletakan batu pertama pembangunan SD Islam Supriyadi 2 Semarang, Muhdi turut memastikan aspek keselamatan. Sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Al-Falah, ia berkomitmen tinggi terhadap standar keamanan.
Muhdi menjelaskan bahwa pagar seng di lokasi pembangunan akan ditinggikan untuk mencegah siswa masuk area berbahaya. Langkah ini merupakan bagian dari upaya menjaga "safety" selama proses konstruksi berlangsung.
"Kami betul-betul menjaga agar pembangunan di sekolah ini juga 'safety'-nya terjaga," katanya, didampingi Kepala SD Islam Supriyadi 2. Komitmen ini diharapkan menjadi contoh bagi pembangunan fasilitas pendidikan lainnya.
Perhatian terhadap keselamatan bangunan sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan sangatlah penting. Hal ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan bebas dari kekhawatiran akan risiko struktural.
Sumber: AntaraNews