Kabar Keluarga Wiji Thukul: Sajak dan Suara Hidup Sampai Hari ini
Wiji Thukul menulis keresahannya terhadap nasib rakyat kecil dengan jujur. Kata-katanya pedas. Dia memandang realitas sosial dari sudut paling dekat.
“Besok pagi kita ke pabrik. Kembali bekerja, sarapan nasi bungkus, ngutang seperti biasa.”
Sepenggal kalimat yang ditulis Wiji Thukul tahun 1996 itu masih hidup hingga hari ini. Kalimat penutup dari Sajak berjudul Nonton Harga itu melekat dalam ingatan. Karena digores oleh tinta kejujuran dan kesederhanaan. Kalimat yang merekam jelas kerasnya kehidupan buruh di zaman orde baru.
Keluarga merawat warisan berharga seorang buruh bernama Wiji Thukul. Fajar Merah membawa sajak sang ayah ke panggung kesenian. Tidak dibacakan. Disuarakan dengan alunan musik. Saban kali Fajar Merah bercerita melalui lagu, penonton terbius. Mereka diam. Menghayati satu demi satu bait puisi yang dinyanyikan.
“Fajar Merah sekarang menghidupkan sajak Wiji Thukul dengan musikalisasi,” ujar Wahyu Susilo, adik bungsu Wiji Thukul.
Salah satunya, Bunga dan Tembok yang jadi lagu penutup di Film Istirahatlah kata-Kata. Puisi Wiji Thukul itu diterbitkan dalam Kumpulan Nyanyian Akar Rumput tahun 1999. Satu tahun setelah hilangnya Wiji Thukul secara misterius. Hingga hari ini, nasibnya tidak pernah diketahui. Hanya satu yang pasti, napas dari sajak Wiji Thukul terus hidup hingga hari ini.
Fajar meneguhkan komitmennya. Menyuarakan kembali puisi sang ayah melalui lagu. Puisi untuk Adik, salah satu sajak Wiji Thukul yang dimusikalisasi Fajar. Saat itu, Wiji Thukul memilih berhenti sekolah dan bekerja. Dia ingin membiayai pendidikan adik-adiknya.
Wiji Thukul anak pertama dari empat bersaudara. Kehidupan keluarga dari kelas ekonomi bawah. Berkorban untuk adik adalah pilihan saat itu.
Puisi Wiji Thukul lain yang dilantunkan adalah Sajak Suara. Dengan rambut keriting yang dibiarkan terurai, jari Fajar Merah menari di leher Gitar. Suaranya pelan, menyanyikan puisi sang ayah.
Fajar juga menggubah puisi yang berjudul ‘Bernafas Panjanglah’. Kata yang menyuarakan kritik terhadap penguasa. Bernafas Panjanglah, digunakan sebagai simbol keberanian.
Sama seperti sang ayah, Fajar mengikuti jejak melakukan perlawanan melalui dunia kesenian. Sejak kecil, Fajar sudah sangat akrab dengan kehidupan dan kesenjangan sosial. Tumbuh dewasa dan bersahabat dengan realita kehidupan yang tampaknya sesuai dengan gambaran dalam sajak sang ayah.
“Saya kira kehidupan sehari-hari yang menempa dia (Fajar). Puisi-puisi itu juga keseharian yang dialami Fajar,” jelas Wahyu.
Untuk Bapak dan Ibu, Kau Berhasil jadi Peluru
Seperti sang adik, Fitri Nganti Wani, anak pertama Wiji Thukul, juga bersuara lantang. Wani baru berumur 9 tahun saat ayahnya menghilang tanpa kabar. Dia menyaksikan langsung saat aparat menggeledah rumahnya mencari sang ayah. Luka kesedihan dan trauma yang tak pernah hilang.
Wani tumbuh dalam ingatan akan ketidakadilan yang dirasakan keluarganya. Kecintaannya dan kerinduan pada sang ayah, berbuah sebuah buku puisi bertajuk “Kau Berhasil jadi Peluru”. Dalam puisinya, Wani sering memunculkan sosok bapaknya. Dia juga menunjukan rasa cintanya kepada Wiji Thukul yang begitu dalam. Bagian itu ia ulas pada karya,”Apa yang Berharga, Bapak?”.
Tak cuma bapaknya, dia juga menggambarkan keteguhan dan keberanian sang ibu, Siti Dyah Sujirah atau Sipon melalui puisi berjudul “Definisi Ibu”. Ibu yang dalam pandangan matanya, sosok dengan luka yang tak kunjung sembuh.
Bagi Wahyu Susilo, sajak, puisi dan semangat solidaritas Wiji Thukul terus hidup bukan hanya karena keluarga. Tapi, kehidupan sosial hari ini yang membuat sajak-sajak itu semakin keras menggema.
“Sajak dan puisi Wiji Thukul masih sangat relevan, banyak puisi tentang kehidupan buruh karena memang dia pernah menjadi buruh dan sepanjang hidup didedikasikan untuk mengorganisir buruh,” kata Wahyu.
Wiji Thukul menulis keresahannya terhadap nasib rakyat kecil dengan jujur. Kata-katanya pedas, namun sesuai dengan kondisi saat itu. Dia memandang realitas sosial dari sudut yang paling dekat.
“Realitasnya direkam keseharian, tidak melihat situasi dari menara gading. Itu mengapa puisinya sangat relevan. Mengandung dimensi kritik sosial. Realitas yang dilihat,” tegas Wahyu.
Sampai hari ini, baik Fajar Merah dan Fitri Nganti Wani masih terus bersuara lewat kata-kata. Sajak dan puisi itu juga menghidupi Wahyu Susilo dan para buruh migran untuk mencapai kesejahteraan.
Keberanian dan sikap Wiji Thukul menular ke sang adik, Wahyu Susilo. Semangat Wiji Thukul memperjuangkan kaum buruh, dibawa dalam upaya Wahyu berjuang bersama buruh migran.
Wahyu menyampaikan ada beberapa puisi Wiji Thukul yang dibawanya dalam perjuangan dengan buruh migran. Puisi tentang perempuan, tentang kehidupan buruh yang tidak jauh dari realitas yang dihadapi buruh migran.
“Ada satu puisi dia tentang pekerja migran ketika dia ketemu dengan pekerja migran di kapal dari Kalimantan ke Jawa.”
Judul sajak itu, Masihkah Kau Membutuhkan Perumpamaan. Sajak yang ditulis untuk Prof Dr W.F Wertheim pada ulang tahun ke-90 tahun 1997. Wiji Thukul bertemu para TKW dari Malaysia yang hendak mudik ke kampung halamannya.
Puisi itu juga menceritakan ketika Wiji Thukul ditendang tentara dalam aksi pemogokan buruh. Saat itu, Wiji Thukul berkata dalam hati bahwa mereka lebih ganas dari serigala.
Di akhir sajak itu, Wiji Thukul bercerita saat menjadi buronan politik. Rumahnya digerebek, istrinya diintimidasi di hadapan anaknya yang masih berusia empat tahun.
“Masihkah kau membutuhkan perumpamaan untuk mengatakan: AKU TIDAK MERDEKA” tulis Wiji Thukul.