Nama Wiji Thukul bukanlah sekadar catatan dalam sejarah sastra Indonesia. Ia adalah simbol perlawanan, suara keras dari akar rumput, dan penyair jalanan yang berani menggugat tirani lewat kata-kata. Lewat puisi-puisinya yang sederhana namun menohok, Wiji Thukul melawan rezim Orde Baru dengan satu senjata andalan: suara. Suara yang tak bisa dibungkam, bahkan oleh peluru dan bayang-bayang gelap kekuasaan.
Mari kita gali lebih dalam jejak perjuangan Wiji Thukul yang hingga hari ini, meski raganya tak pernah ditemukan, namanya tetap menggema di hati banyak orang. Bukan karena dia tokoh yang dielu-elukan media, melainkan karena puisinya adalah napas banyak orang kecil yang tak didengar.
Advertisement
Wiji Thukul adalah penyair sekaligus aktivis yang dikenal lantang dalam menyuarakan ketidakadilan. Lahir di Solo pada 1963, ia tumbuh dari keluarga sederhana. Bukan dari kampus atau institusi sastra bergengsi, tapi dari lorong-lorong kampung, dari denyut rakyat kecil yang selalu jadi korban pembangunan.
Di masa Orde Baru, di mana kebebasan berekspresi bisa dianggap makar, puisi-puisi Wiji Thukul seperti “bom waktu”. Tulisannya dianggap berbahaya karena berani menyentil kekuasaan. Karena itu pula, pada 1998, di tengah gejolak reformasi, Wiji Thukul menghilang. Hingga kini, nasibnya masih misteri. Tapi seperti yang ia tulis sendiri, “sesungguhnya suara itu tak bisa diredam”.
Advertisement
Wiji Thukul bukan tipe penyair yang bersembunyi di balik metafora yang rumit. Puisinya lugas, langsung, dan bicara dari hati ke hati. Seperti dalam “Peringatan”, ia menulis:
Peringatan (Karya Wiji Thukul)
Jika rakyat pergi
Ketika penguasa pidato
Kita harus hati-hati
Barangkali mereka putus asa
Kalau rakyat bersembunyi
Dan berbisik-bisik
Ketika membicarakan masalahnya sendiri
Penguasa harus waspada dan belajar mendengar
Bila rakyat berani mengeluh
Itu artinya sudah gasat
Dan bila omongan penguasa
Tidak boleh dibantah
Kebenaran pasti terancam
"Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversif dan mengganggu keamanan
Maka hanya ada satu kata: lawan!"
Bait ini bukan sekadar sajak, tapi semacam manifesto. Ia mengajak rakyat biasa untuk tidak tinggal diam. Gaya bahasa yang dipilih pun sangat membumi. Gak ribet, tapi nusuk.
Lalu dalam “Di Bawah Selimut Kedamaian Palsu”, ia menguliti para intelektual yang bungkam:
Di Bawah Selimut Kedamaian Palsu (Karya Wiji Thukul)
apa guna punya ilmu
kalau hanya untuk mengibuli
apa gunanya banyak baca buku
kalau mulut kau bungkam melulu
di mana-mana moncong senjata
berdiri gagah
kongkalikong
dengan kaum cukong.
di desa-desa
rakyat dipaksa
menjual tanah
tapi, tapi, tapi, tapi
dengan harga murah.
apa guna punya ilmu
kalau hanya untuk mengibuli
"Apa gunanya banyak baca buku
Kalau mulut kau bungkam melulu"
Baris ini sering dijadikan kutipan para aktivis dan mahasiswa hingga sekarang. Ya, Wiji Thukul memang jagonya “menampar” nurani.
Advertisement
Wiji Thukul tidak menulis dari ruang nyaman ber-AC, melainkan dari realitas keras di lapangan. Dalam puisi “Nyanyian Akar Rumput”, ia menggambarkan nasib rakyat miskin kota yang terusir demi pembangunan:
Nyanyian Akar Rumput (Karya Wiji Thukul)
jalan raya dilebarkan
kami terus terusir
kami mendirikan kampung
kami terus tergusur
menempel di tembok-tembok
tercabut dan terbuang
kami rumput butuh tanah
hai dengarlah
ayo gabung ke kami
kami rumput butuh tanah
hai dengarlah
ayo gabung ke kami
biar jadi mimpi buruk presiden
"Kami rumput
Butuh tanah
Dengar!
Ayo gabung ke kami
Biar jadi mimpi buruk presiden!"
Puisi ini terasa liar tapi nyata. Siapa pun yang pernah melihat pemukiman digusur demi jalan tol pasti bisa relate. Dan bukan cuma soal gusuran, tapi juga tentang harapan dan perlawanan yang terus tumbuh, meski di tengah himpitan.
Advertisement
Puisi “Bunga dan Tembok” adalah salah satu karya Wiji Thukul yang paling terkenal. Simbolisasi bunga sebagai rakyat dan tembok sebagai kekuasaan sangat kuat:
Bunga dan Tembok (Karya Wiji Thukul)
seumpama bunga
kami adalah bunga yang tak
kau kehendaki tumbuh
engkau lebih suka membangun
rumah dan merampas tanah
seumpama bunga
kami adalah bunga yang tak
kaukehendaki adanya
engkau lebih suka membangun
jalan raya dan pagar besi
seumpama bunga
kami adalah bunga yang
dirontokkan di bumi kami sendiri
dalam keyakinan kami
di manapun tirani harus tumbang!
"Jika kami bunga
Engkau adalah tembok itu
Tapi di tubuh tembok itu
Telah kami sebar biji-biji
Suatu saat kami akan tumbuh bersama
Dengan keyakinan: engkau harus hancur!"
Dalam keyakinan kami
Di manapun tirani harus tumbang!
Gak berlebihan kalau puisi ini dianggap semacam “lagu kebangsaan” gerakan sosial. Ini bukan sekadar puitis, tapi penuh spirit perubahan.
Advertisement
Dalam puisi “Suara dari Rumah-Rumah Miring”, Wiji Thukul membedah kehidupan kaum miskin kota secara detail dan getir. Ia tidak romantis. Ia jujur dan keras:
Suara dari Rumah-Rumah Miring (Karya Wiji Thukul)
di sini kamu bisa menikmati cicit tikus
di dalam rumah miring ini
kami mencium selokan dan sampan
bagi kami setiap hari adalah kebisingan
di sini kami berdesak-desakan dan berkeringat
bersama tumpukan gombal-gombal
dan piring-piring
di sini kami bersetubuh dan melahirkan
anak-anak kami
di dalam rumah miring ini
kami melihat matahari menyelinap
dari atap ke atap
meloncati selokan
seperti pencuri
radio dari segenap penjuru
tak henti-hentinya membujuk kami
merampas waktu kami dengan tawaran-tawaran
sandiwara obat-obatan
dan berita-berita yang meragukan
"Kami bermimpi punya rumah untuk anak-anak
Tapi bersama hari-hari pengap yang menggelinding
Kami harus angkat kaki
Karena kami adalah gelandangan"
Gak semua orang sanggup menulis seperti ini. Butuh nyali dan empati yang dalam. Puisi ini seperti potret dokumenter, tapi dengan kata-kata.
Advertisement
Meski nasib Wiji Thukul tak pernah diketahui dengan pasti, warisannya tetap hidup. Puisinya masih dibaca, dipentaskan, bahkan dijadikan bahan ajar dan inspirasi bagi gerakan sosial. Karya-karya seperti “Catatan Suram”, “Jalan”, dan “Tanah” menjadi semacam pengingat bahwa suara rakyat kecil itu ada dan harus didengar.
Dalam puisi “P E N Y A I R”, Wiji Thukul menegaskan:
jika tak ada mesin ketik
aku akan menulis dengan tangan
jika tak ada tinta hitam
aku akan menulis dengan arang
jika tak ada kertas
aku akan menulis pada dinding
"Jika aku menulis dilarang
Aku akan menulis dengan
Tetes darah!"
Kalimat ini bukan sekadar metafora dramatis. Ini cermin dari kegigihan seorang penyair yang benar-benar hidup bersama rakyat dan siap menanggung akibatnya.
Advertisement
Tentu saja, mengenang Wiji Thukul bukan soal romantisasi masa lalu. Ini tentang bagaimana puisi bisa menjadi alat perjuangan. Di era sekarang, ketika kita lebih sering scroll medsos daripada baca puisi, sosok seperti Wiji Thukul penting untuk diingat.
Ia mengingatkan kita bahwa menulis itu bisa berdampak. Bahwa kata-kata punya kekuatan. Dan bahwa diam bukanlah pilihan kalau ketidakadilan terus terjadi.
Advertisement
Wiji Thukul pernah menulis:
"Sesungguhnya suara itu akan menjadi kata
Ialah yang mengajari aku bertanya
Dan pada akhirnya tidak bisa tidak
Engkau harus menjawabnya"
Hari ini, kita mungkin tak tahu di mana Wiji Thukul berada. Tapi pertanyaan-pertanyaan yang ia ajukan lewat puisi-puisinya masih menggema. Ia telah menjadi semacam roh dari suara-suara kecil yang terus menuntut jawaban.
Dan sejauh ini, tak ada tembok kekuasaan yang cukup tebal untuk membendung puisi. Apakah kamu pernah membaca puisi Wiji Thukul? Mana yang paling menggugah menurutmu?