Puisi Menggugah Wiji Thukul, Mengenang 60 Tahun Suara Rakyat yang Tak Pernah Padam

Perjalanan hidup Wiji Thukul, penyair revolusioner Indonesia, dari masa Orde Baru hingga misteri kehilangannya, menginspirasi hingga kini.

Titah Mranani
Oleh Titah Mranani - Reporter
Puisi Menggugah Wiji Thukul, Mengenang 60 Tahun Suara Rakyat yang Tak Pernah Padam
Puisi Menggugah Wiji Thukul, Mengenang 60 Tahun Suara Rakyat yang Tak Pernah Padam (Merdeka.com)

Nama Wiji Thukul bukanlah sekadar catatan dalam sejarah sastra Indonesia. Ia adalah simbol perlawanan, suara keras dari akar rumput, dan penyair jalanan yang berani menggugat tirani lewat kata-kata. Lewat puisi-puisinya yang sederhana namun menohok, Wiji Thukul melawan rezim Orde Baru dengan satu senjata andalan: suara. Suara yang tak bisa dibungkam, bahkan oleh peluru dan bayang-bayang gelap kekuasaan. 

Mari kita gali lebih dalam jejak perjuangan Wiji Thukul yang hingga hari ini, meski raganya tak pernah ditemukan, namanya tetap menggema di hati banyak orang. Bukan karena dia tokoh yang dielu-elukan media, melainkan karena puisinya adalah napas banyak orang kecil yang tak didengar. 

Wiji Thukul adalah penyair sekaligus aktivis yang dikenal lantang dalam menyuarakan ketidakadilan. Lahir di Solo pada 1963, ia tumbuh dari keluarga sederhana. Bukan dari kampus atau institusi sastra bergengsi, tapi dari lorong-lorong kampung, dari denyut rakyat kecil yang selalu jadi korban pembangunan.

Di masa Orde Baru, di mana kebebasan berekspresi bisa dianggap makar, puisi-puisi Wiji Thukul seperti “bom waktu”. Tulisannya dianggap berbahaya karena berani menyentil kekuasaan. Karena itu pula, pada 1998, di tengah gejolak reformasi, Wiji Thukul menghilang. Hingga kini, nasibnya masih misteri. Tapi seperti yang ia tulis sendiri, “sesungguhnya suara itu tak bisa diredam”.

Wiji Thukul bukan tipe penyair yang bersembunyi di balik metafora yang rumit. Puisinya lugas, langsung, dan bicara dari hati ke hati. Seperti dalam “Peringatan”, ia menulis:

Peringatan (Karya Wiji Thukul)

Jika rakyat pergi

Ketika penguasa pidato

Kita harus hati-hati

Barangkali mereka putus asa

Kalau rakyat bersembunyi

Dan berbisik-bisik

Ketika membicarakan masalahnya sendiri

Penguasa harus waspada dan belajar mendengar

Bila rakyat berani mengeluh

Itu artinya sudah gasat

Dan bila omongan penguasa

Tidak boleh dibantah

Kebenaran pasti terancam

"Apabila usul ditolak tanpa ditimbang

 Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan

 Dituduh subversif dan mengganggu keamanan

 Maka hanya ada satu kata: lawan!"

Bait ini bukan sekadar sajak, tapi semacam manifesto. Ia mengajak rakyat biasa untuk tidak tinggal diam. Gaya bahasa yang dipilih pun sangat membumi. Gak ribet, tapi nusuk.

Lalu dalam “Di Bawah Selimut Kedamaian Palsu”, ia menguliti para intelektual yang bungkam:

 Di Bawah Selimut Kedamaian Palsu (Karya Wiji Thukul)

apa guna punya ilmu

kalau hanya untuk mengibuli

apa gunanya banyak baca buku

kalau mulut kau bungkam melulu

di mana-mana moncong senjata

berdiri gagah

kongkalikong

dengan kaum cukong.

di desa-desa

rakyat dipaksa

menjual tanah

tapi, tapi, tapi, tapi

dengan harga murah.

apa guna punya ilmu

kalau hanya untuk mengibuli

"Apa gunanya banyak baca buku

 Kalau mulut kau bungkam melulu"

Baris ini sering dijadikan kutipan para aktivis dan mahasiswa hingga sekarang. Ya, Wiji Thukul memang jagonya “menampar” nurani.

Wiji Thukul tidak menulis dari ruang nyaman ber-AC, melainkan dari realitas keras di lapangan. Dalam puisiNyanyian Akar Rumput”, ia menggambarkan nasib rakyat miskin kota yang terusir demi pembangunan:

Nyanyian Akar Rumput (Karya Wiji Thukul)

jalan raya dilebarkan

kami terus terusir

kami mendirikan kampung

kami terus tergusur

menempel di tembok-tembok

tercabut dan terbuang

kami rumput butuh tanah

hai dengarlah

ayo gabung ke kami

kami rumput butuh tanah

hai dengarlah

ayo gabung ke kami

biar jadi mimpi buruk presiden 

"Kami rumput

 Butuh tanah

 Dengar!

 Ayo gabung ke kami

 Biar jadi mimpi buruk presiden!"

Puisi ini terasa liar tapi nyata. Siapa pun yang pernah melihat pemukiman digusur demi jalan tol pasti bisa relate. Dan bukan cuma soal gusuran, tapi juga tentang harapan dan perlawanan yang terus tumbuh, meski di tengah himpitan.

PuisiBunga dan Tembok” adalah salah satu karya Wiji Thukul yang paling terkenal. Simbolisasi bunga sebagai rakyat dan tembok sebagai kekuasaan sangat kuat:

Bunga dan Tembok (Karya Wiji Thukul)

seumpama bunga

kami adalah bunga yang tak

kau kehendaki tumbuh

engkau lebih suka membangun

rumah dan merampas tanah

seumpama bunga

kami adalah bunga yang tak

kaukehendaki adanya

engkau lebih suka membangun

jalan raya dan pagar besi

seumpama bunga

kami adalah bunga yang

dirontokkan di bumi kami sendiri

dalam keyakinan kami

di manapun tirani harus tumbang! 

"Jika kami bunga

 Engkau adalah tembok itu

 Tapi di tubuh tembok itu

 Telah kami sebar biji-biji

 Suatu saat kami akan tumbuh bersama

 Dengan keyakinan: engkau harus hancur!"

 Dalam keyakinan kami

Di manapun tirani harus tumbang! 

Gak berlebihan kalau puisi ini dianggap semacam “lagu kebangsaan” gerakan sosial. Ini bukan sekadar puitis, tapi penuh spirit perubahan.

Dalam puisiSuara dari Rumah-Rumah Miring”, Wiji Thukul membedah kehidupan kaum miskin kota secara detail dan getir. Ia tidak romantis. Ia jujur dan keras:

Suara dari Rumah-Rumah Miring (Karya Wiji Thukul)

di sini kamu bisa menikmati cicit tikus

di dalam rumah miring ini

kami mencium selokan dan sampan

bagi kami setiap hari adalah kebisingan

di sini kami berdesak-desakan dan berkeringat

bersama tumpukan gombal-gombal

dan piring-piring

di sini kami bersetubuh dan melahirkan

anak-anak kami

di dalam rumah miring ini

kami melihat matahari menyelinap

dari atap ke atap

meloncati selokan

seperti pencuri

radio dari segenap penjuru

tak henti-hentinya membujuk kami

merampas waktu kami dengan tawaran-tawaran

sandiwara obat-obatan

dan berita-berita yang meragukan

"Kami bermimpi punya rumah untuk anak-anak

 Tapi bersama hari-hari pengap yang menggelinding

 Kami harus angkat kaki

 Karena kami adalah gelandangan"

Gak semua orang sanggup menulis seperti ini. Butuh nyali dan empati yang dalam. Puisi ini seperti potret dokumenter, tapi dengan kata-kata.

Meski nasib Wiji Thukul tak pernah diketahui dengan pasti, warisannya tetap hidup. Puisinya masih dibaca, dipentaskan, bahkan dijadikan bahan ajar dan inspirasi bagi gerakan sosial. Karya-karya seperti “Catatan Suram”, “Jalan”, dan “Tanah” menjadi semacam pengingat bahwa suara rakyat kecil itu ada dan harus didengar.

Dalam puisi “P E N Y A I R”, Wiji Thukul menegaskan:

jika tak ada mesin ketik

aku akan menulis dengan tangan

jika tak ada tinta hitam

aku akan menulis dengan arang

jika tak ada kertas

aku akan menulis pada dinding

"Jika aku menulis dilarang

 Aku akan menulis dengan

 Tetes darah!"

Kalimat ini bukan sekadar metafora dramatis. Ini cermin dari kegigihan seorang penyair yang benar-benar hidup bersama rakyat dan siap menanggung akibatnya.

Tentu saja, mengenang Wiji Thukul bukan soal romantisasi masa lalu. Ini tentang bagaimana puisi bisa menjadi alat perjuangan. Di era sekarang, ketika kita lebih sering scroll medsos daripada baca puisi, sosok seperti Wiji Thukul penting untuk diingat.

Ia mengingatkan kita bahwa menulis itu bisa berdampak. Bahwa kata-kata punya kekuatan. Dan bahwa diam bukanlah pilihan kalau ketidakadilan terus terjadi.

Wiji Thukul pernah menulis:

"Sesungguhnya suara itu akan menjadi kata

 Ialah yang mengajari aku bertanya

 Dan pada akhirnya tidak bisa tidak

 Engkau harus menjawabnya"

Hari ini, kita mungkin tak tahu di mana Wiji Thukul berada. Tapi pertanyaan-pertanyaan yang ia ajukan lewat puisi-puisinya masih menggema. Ia telah menjadi semacam roh dari suara-suara kecil yang terus menuntut jawaban.

Dan sejauh ini, tak ada tembok kekuasaan yang cukup tebal untuk membendung puisi. Apakah kamu pernah membaca puisi Wiji Thukul? Mana yang paling menggugah menurutmu?

Rekomendasi