Serunya Berkunjung ke Desa Wisata Jangglengan Sukoharjo, Bisa Lihat Lomba Kano di Sungai
Desa wisata ini punya nilai lebih karena berada di tepian Sungai Bengawan solo dan punya lahan pertanian yang subur
Desa wisata ini punya nilai lebih karena berada di tepian Sungai Bengawan solo dan punya lahan pertanian yang subur
Serunya Berkunjung ke Desa Wisata Jangglengan Sukoharjo, Bisa Lihat Lomba Kano di Sungai
Desa Jangglengan merupakan salah satu desa yang terletak di tepian Sungai Bengawan Solo. Letaknya yang strategis di pinggir sungai membuatnya potensial untuk menjadi desa wisata.
Terpilihnya Jangglengan sebagai desa wisata terhitung baru. Bahkan sebelum berdiri desa, tempat itu hanyalah belantara hutan jati. Nama “jangglengan” sendiri berarti buah jati.
Namun Raja Solo Pakubuwono IX meminta untuk dibuatkan pesanggrahan di tempat itu.
Tempat itu kemudian sering digunakan Pakubuwono IX untuk melakukan meditasi.
Pada awal tahun 2023, Desa Jangglengan ditetapkan menjadi salah satu desa wisata di Kabupaten Sukoharjo. Ikon desa wisata itu adalah Sungai Bengawan Solo. Hal ini dikarenakan keberadaan sungai itu memberikan manfaat pada masyarakat terutama untuk pertanian.
Saat mengunjungi Desa Jangglengan, wisatawan dapat melakukan aktivitas yang beragam mulai dari wisata budaya, petualangan, edukasi, wisata tirta, hingga wisata minat khusus. Bahkan mereka juga dapat menginap di homestay penduduk yang tersedia.
Desa itu juga dilengkapi fasilitas lain seperti tempat parkir, ruang pelayanan, restoran dan kafe, ruang publik, area evakuasi, dan lain-lain.
Sebagai desa dengan aset budaya yang beragam, maka di desa wisata itu mudah dijumpai kegiatan seni budaya seperti latihan menari bersama dengan pesertanya yang berasal dari berbagai kalangan usia.
Sebagai promosi, pihak pengelola Desa Wisata Jangglengan menyelenggarakan lomba kano pada Sabtu (23/9). Walaupun cuaca terik, namun para peserta tetap antusias mengikuti lomba tersebut.
Dalam lomba ini sebagian besar peserta merasa kesulitan karena tidak terbiasa menggunakan kano dari bahan kayu. Sehingga mereka butuh penyesuaian.
“Untuk kesulitannya, mungkin karena aku baru pertama kali menggunakan kano yang dari kayu, jadi aku merasa sedikit kesusahan ketimbang dibuat langsung dari pabrik. Tapi sangat senang sekali,”
kata Pandreas, salah satu peserta lomba tersebut, dikutip dari kanal YouTube Liputan6 pada Selasa (26/9).
Lomba kano tersebut digelar pemerintah Desa Jangglengan untuk memperkenalkan desanya sebagai desa wisata olahraga. Mereka mendeklarasikan kampungnya sebagai kampung bengawan.
Peserta lomba menempuh jarak sekitar 300 meter hingga ke garis finish. Lomba tersebut dibagi kembali menjadi tiga kategori yaitu tunggal putra, double putra, dan double putri.