Rempah Bikin Cuan Melimpah, Begini Kisah Septi Setiani Jadikan Warisan Budaya Punya Nilai Jual Tinggi
Sekar Jawi ingin mengangkat potensi rempah di Indonesia yang sering kali dianggap remeh.
Bungkusan aneka jenis rempah tersusun rapi di rak jadi pemandangan tak biasa ketika masuk ke rumah produksi Sekar Jawi yang terletak di Peleman RT.09 Kaliandru, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul. Seakan-akan sedang masuk ke toko obat herbal, aroma rempah begitu terasa bikin suasana semakin rileks. Begitu lah sekiranya pemandangan sehari-hari di rumah produksi rempah Sekar Jawi milik Septi Setiani.
Septi (49) merupakan lulusan Diploma Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM). Kecintaannya pada dunia farmasi membawanya untuk ingin memiliki produk sendiri dari olahan rempah. Baginya, rempah bukan hanya sekadar bahan dapur atau ramuan tradisional biasa. Ia melihat bahwa rempah merupakan hasil kekayaan alam yang menyimpan potensi besar. Dengan keyakinan tersebut, ia tertantang untuk mendirikan Sekar Jawi.
Kisah Perjuangan Ingin Perkenalkan Produk Rempah
Perjalanan bisnis Septi dengan rempah dimulai di bangku kuliah. Di semester akhir kuliah, Septi melakukan berbagai riset dengan memanfaatkan fasilitas laboratorium dari kampus. Ia memanfaatkan waktu luangnya di sela-sela kuliah untuk melakukan uji coba, mengolah bahan rempah menjadi produk minuman kesehatan.
“Mumpung masih mahasiswa, saya mulai riset dengan dibantu alat-alat laboratorium yang ada di kampus dan mendapat bimbingan dari dosen untuk penelitian terkait bahan-bahan alami,” kenang Septi ketika ditemui di rumah produksi Sekar Jawi pada Rabu (19/2/2025).
Setelah menyelesaikan studi di tahun 2007, ia kemudian bekerja di sebuah universitas selama lima tahun. Namun, keinginannya untuk menjalankan usaha sendiri tak pernah padam. Ia tetap mengembangkan produknya di sela-sela waktu luang sebelum akhirnya memutuskan fokus pada bisnisnya.
Keputusan besar perjalanan bisnisnya terjadi pada tahun 2015. Setelah menikah, Septi mantap mendirikan Sekar Jawi pada 28 September 2015. Di tahun yang sama, ia mulai mengurus legalitas usahanya dan memperkenalkan brand Sekar Jawi sebagai identitas produknya.
“Saat itu, saya merasa ini adalah waktu yang tepat untuk serius menjalankan bisnis. Saya ingin mengangkat kearifan lokal melalui produk berbahan rempah,” kata perempuan asal Cilacap kepada merdeka.com.
Dengan latar belakang pendidikan farmasi, ia memahami betul manfaat berbagai bahan alami dan ingin mengemasnya menjadi produk yang bernilai tinggi. Dengan modal Rp750 ribu, ia mulai memproduksi jamu dan minuman rempah secara mandiri. Ia mulai memproduksi produknya dari rumah yang masih menyatu dengan tempat tinggal. Seiring berjalannya waktu, produknya mulai dikenal lebih luas dan permintaan semakin meningkat.
Dulu Rempah Dianggap Remeh, Kini Jadi Produk Bernilai Tinggi
Visi utama Sekar Jawi memang ingin mengangkat potensi rempah di Indonesia yang sering kali dianggap remeh. Septi melihat bahwa banyak bahan alami yang sebenarnya memiliki manfaat luar biasa, namun kurang mendapat perhatian.
“Saya mengeksplor bahan-bahan alam seperti pohon dan tanaman yang memiliki unsur budaya dalam penggunaannya,” ceritanya melanjutkan.
Tak berhenti pada jamu dan minuman rempah, Septi mulai mengembangkan produk kosmetik berbahan alami berupa masker dan lulur serbuk. Menurutnya, pemanfaatan bahan lokal memiliki nilai lebih dibandingkan produk yang bergantung pada bahan impor. Dengan menggunakan rempah yang melimpah, produk Sekar Jawi memiliki fundamental bisnis yang kuat serta kontribusi melestarikan budaya tradisional.
Membangun bisnis berbasis kearifan lokal memiliki tantangannya sendiri. Salah satu kendala yang kerap dihadapi adalah edukasi pasar terkait manfaat produk berbahan alami. Banyak masyarakat yang masih meragukan efektivitas jamu dan kosmetik berbahan rempah dibandingkan produk modern berbahan kimia.
“Saya harus terus melakukan edukasi ke pelanggan tentang manfaat bahan alami yang Sekar Jawi gunakan. Jadi bukan hanya sekadar berjualan, namun juga memberikan pemahaman bahwa bahan alami memiliki manfaat luar biasa jika digunakan dengan tepat,” kata Septi menjelaskan.
Selain itu, proses perizinan dan legalitas produk juga menjadi tantangan tersendiri. Namun, dengan tekad yang kuat, ia berhasil melewati berbagai hambatan dan terus mengembangkan usahanya ke skala yang lebih besar.
Cuan Puluhan Juta per Bulan
Septi punya ketekunan berinovasi. Memasuki satu dekade berdiri, Sekar Jawi masih terus konsisten memproduksi 5.000 bungkus setiap bulannya. Produk-produk rempah Sekar Jawi di antaranya kosmetik, obat tradisional, produk spa hingga minuman tradisional.
Di tangan Septi, rempah yang sering dianggap remeh keberadaan dan khasiatnya, kini bisa punya nilai jual tinggi. Produk yang diolah Septi dijual dengan harga mulai dari Rp8.500 hingga Rp40 ribu.
Untuk mendapatkan produk-produk Sekar Jawi bisa ditemukan di online maupun offline store. Untuk offline store bisa ditemui di toko retail Transmart, Hypermart, Superindo, toko oleh-oleh, hotel hingga tempat spa. Sedangkan online bisa ditemui di marketplace, website hingga Instagram di @sekarjawi_officialig.
Perjuangan Septi kini membuahkan hasil. Produknya laku di pasaran. Banyak orang menyukai minuman rempah hingga kosmetik dari Sekar Jawi yang kini menjadi produk unggulan yang selalu diminati.
Kini, misinya memperkenalkan rempah ke masyarakat luas mengantarkannya pada kesuksesan. Berawal dari modal yang minim, kini Sekar Jawi mampu memperoleh omzet mencapai Rp85 juta per bulan.
Perluas Jaringan Bisnis dengan Bergabung di RuBY
Untuk memperluas jejaring bisnisnya, Septi aktif mengikuti dan bergabung di berbagai komunitas bisnis yang ada di Jogja. Salah satu yang diikutinya adalah bergabung di Rumah BUMN BRI Yogyakarta (RuBY) pada tahun 2024. Namun dirinya mengaku belum aktif di RuBY karena kesibukannya mengelola Sekar Jawi.
Rumah BUMN merupakan sebuah langkah kolaborasi BUMN dalam meningkatkan kapasitas dan kapabilitas UMKM yang diinisiasi oleh Kementerian BUMN sejak 2017. Di Jogja, Rumah BUMN berkolaborasi dengan Bank BRI untuk memberdayakan UMKM melalui berbagai pelatihan hingga pembinaan. Peran Rumah BUMN antara lain sebagai wadah pengembangan UMKM, tanggung jawab sosial lingkungan (Satgas Bencana), program Kredit Usaha Rakyat (KUR), co-working space hingga jadi basecamp millenials.
Selain itu, RuBY juga menyelenggarakan bazar atau pameran UMKM dan memberikan pendampingan sertifikasi. Salah satu acara dari Bank BRI untuk mendukung pelaku UMKM adalah Brilianpreneur.
Brilianpreneur merupakan acara tahunan yang diselenggarakan BRI sejak tahun 2019. Brilianpreneur jadi salah satu event yang paling ditunggu oleh pelaku UMKM se-Indonesia. Pasalnya, Brilianpreneur memiliki tujuan untuk mempertemukan pelaku UMKM dengan pembeli atau buyer internasional agar bisa ekspor produk.
Meskipun Septi belum aktif di RuBY, namun dirinya sangat tertarik dan terkesan dengan acara BRI UMKM EXPO(RT) Brilianpreneur 2025 yang diadakan di ICE BSD pada Februari lalu. Sekar Jawi ikut serta pada acara pameran UMKM bergengsi dari Bank BRI itu.
“Saya sebelumnya sudah masuk ke grup Rumah BUMN Yogyakarta namun belum terlalu aktif. Ikut acara di BRI UMKM di ICE BSD kemarin melalui proses mengisi link, kurasi produk, mengirimkan produk, hingga terpilih menjadi salah satu peserta di BRI UMKM EXPORT 2025. Lalu setelah itu masuk ke bagian ekosistem UMKM Binaan Bank BRI,” cerita Septi.
Ada 1.000 peserta UMKM yang berhasil dikurasi untuk mengikuti Brilianpreneur 2025. Peserta dari Jogja menyumbang 103 UMKM, salah satu peserta yang berhasil lolos kurasi adalah Sekar Jawi. Meskipun baru bergabung dan belum aktif mengikuti rangkaian kegiatan dari RuBY, namun UMKM bisa bebas ikut dan mengikuti seleksinya.
“Untuk Brilianpreneur peserta mendaftar ulang lagi, jadi tidak harus yang sudah bergabung di RuBY. Kemudian mengikuti tahapan kurasi dari kurator sesuai kategori,” kata Bagaskara Priyambodo selaku Koordinator RuBY ketika ditemui pada Rabu (12/3/2025).
Brilianpreneur selalu memberikan kesan positif bagi pelaku UMKM, termasuk Sekar Jawi. Pertama kali mengikuti acara pameran UMKM dari Bank BRI, Septi merasa begitu senang karena ada banyak pengalaman yang bisa dirasakan. Berbeda dengan jenis pameran UMKM yang pernah ia ikuti sebelumnya, membuat Septi begitu tergugah ingin mengikuti kegiatan lainnya dari RuBY untuk ke depannya.
“Ternyata saat kita di Jogja kita merasa UMKM kita sudah di posisi seperti ini. Ketika kita dimasukkan ke pasar dan ekosistem yang lebih besar lagi, ternyata kita masih harus banyak berbenah, banyak inovasi, perlu improvisasi lagi. Karena melihat dari UMKM banyak yang lebih maju, mereka kelasnya sudah lebih dari kita, sehingga bisa menjadi motivasi kita,” kata Septi.