Perjalanan UMKM Kulit Premium Asal Bantul CFTM, Dulu Gengsi Berjualan Kini Sukses Capai Omzet Puluhan Juta
CFTM berhasil terpilih sebagai salah satu peserta BRIncubator yang diselenggarakan oleh Bank BRI.
Bermula dari keisengan di masa kuliah dan kecintaan pada sepak bola Italia, seorang pemuda asal Tuban, Jawa Timur, bernama Ikhsanudin, justru menemukan arah baru dalam hidupnya. Ia menapaki jalan berbeda dari impiannya menjadi jurnalis, dan malah sukses mendirikan usaha berbasis produk kulit premium bernama Coffeetime Leathergoods atau kini dikenal sebagai CFTM.
Pada usia 19 tahun, saat masih menjadi mahasiswa di Akademi Teknologi Kulit atau kini dikenal Politeknik ATK Yogyakarta, Ikhsan mulai merintis usahanya dengan cara sederhana, yaitu meminjam produk milik alumni, memotretnya, lalu memasarkannya secara online. Meski sempat merasa gengsi, ia menemukan bahwa berjualan bukan hanya soal uang, tapi juga proses belajar.
Kini, di usianya yang ke-24, Ikhsan tak hanya menjalankan bisnis lokal, melainkan juga telah menjangkau pasar internasional, mempekerjakan puluhan orang, serta menjadi peserta berbagai pameran kenamaan di dalam dan luar negeri.
“Dulu saya jualan gengsi banget. Tapi setelah tahu hasilnya, saya tekuni sampai sekarang,” cerita Ikhsan kepada merdeka.com pada Minggu (6/4/2025).
Perjalanan CFTM: Awalnya Malu Berjualan Kini Sukses di Dunia UMKM
Ikhsan mengaku masuk ke dunia industri kulit bukan karena cita-cita, melainkan karena ‘nyasar’ diterima di Akademi Teknologi Kulit Yogyakarta yang berada di bawah naungan Kementerian Perindustrian atau kini dikenal dengan Politeknik ATK Yogyakarta.
Meski awalnya merasa tak cocok karena lebih tertarik pada dunia jurnalistik, lambat laun Ikhsan mulai tertarik dengan dunia perkulitan, apalagi setelah terlibat dalam organisasi kampus dan menjalin hubungan dengan para alumni yang sudah lebih dulu menekuni UMKM.
Langkah awalnya dalam bisnis dimulai dengan menjual produk-produk buatan alumni, tanpa modal besar. Ia hanya perlu meminjam produk, memotretnya dengan baik, dan menjualnya secara online.
“Waktu itu, saya foto produk alumni, lalu saya jualin. Ternyata ada hasilnya,” kenangnya.
Ia juga sempat menjalani magang di sebuah brand kulit di Bandung yang sudah berdiri sejak 2006. Di sanalah ia mendapat banyak pelajaran, termasuk bagaimana membangun alur bisnis yang kelak menjadi bahan skripsinya.
Usai menyelesaikan sidang akhir, Ikhsan dan dua temannya nekat membuka workshop kecil-kecilan di kosan. Tiga bulan pertama hasilnya belum memuaskan, namun cukup untuk bertahan hidup. Lambat laun, teman-temannya mundur satu per satu, hingga akhirnya Ikhsan bertahan sendiri dan melanjutkan usaha dengan penuh komitmen.
Pameran, Branding, dan Momentum Rebranding
Tahun 2022 menjadi titik balik penting bagi Ikhsan. Untuk pertama kalinya ia mengenal dan mengikuti pameran, dimulai dari ajang di Jogja Expo Center (JEC) hingga Trade Expo Indonesia di ICE BSD yang difasilitasi Kementerian Perdagangan dan Dinas Perindustrian.
“Waktu itu saya buka dua booth, dan sejak saat itu saya belajar pentingnya branding,” jelasnya.
Ia mulai paham bahwa penampilan visual dan filosofi brand menjadi aspek penting dalam memperluas pasar meskipun banyak orang awal menyangka bisnisnya adalah kafe.
Di tahun yang sama, ia menyadari bahwa nama Coffeetime Leathergoods perlu didaftarkan HAKI, namun karena nama brand pertama terlalu panjang akhirnya diganti. Atas saran dari pihak Kemenperin, ia mulai melakukan rebranding menjadi CFTM, yang kini telah melalui proses pendaftaran HAKI meski belum terbit.
Brand Coffeetime Leathergoods waktu itu terbentuk karena terinspirasi dari budaya Dolce far Niente di Kota Milan, Italia. Dolce far Niente merupakan sebuah budaya menikmati waktu senggang sambil ngopi di kafe dengan outfit kulit yang elegan.
“Saya suka AC Milan, terus cari tahu soal budayanya, dan dari situlah nama Coffeetime muncul,” cerita Ikhsan.
Dengan pendekatan branding yang kuat, Ikhsan ingin menanamkan budaya baru, yakni pergi ke kafe dengan outfit kulit. Ia berharap CFTM menjadi ikon gaya hidup urban yang menghidupkan kembali citra kulit khas Jogja yang kini mulai pudar.
CFTM Fokus pada Produk dan Strategi Maklon
CFTM kini memiliki dua produk unggulan, yaitu tas ransel kulit dan tali atau strap jam tangan handmade. Kedua produk ini dinilai memiliki kesulitan tinggi dalam proses produksi, dan tidak banyak brand kulit lain yang berani memproduksinya secara massal.
“Strap jam itu kecil, tapi bikinnya susah banget karena harus dijahit manual. Tapi saat pameran, produk ini yang cepat balik modal,” cerita Ikhsan bangga kepada merdeka.com ketika ditemui di salah satu kafe di Bantul.
Karena itulah, ia fokus mengembangkan SDM yang benar-benar ahli dalam membuat produk spesifik tersebut. Tas ransel juga menjadi produk andalan karena tidak semua brand kulit mampu memproduksinya dengan presisi.
Kulit yang digunakan di CFTM adalah jenis kulit sapi. Bahan baku itu kebanyakan Ikhsan dapat dari Yogyakarta. Namun, terkadang kulit sapi juga didapat impor dari Italia serta Denmark tergantung dari pesanan pelanggan.
CFTM yang menggunakan bahan baku kulit ini perlu sangat berhati-hati dalam proses produksinya. Terlebih hampir semua produknya dibuat secara handmade. Jika salah potong atau cacat, tidak bisa diperbaiki. Hal ini menjadikan tali jam tangan dan tas ransel sebagai produk dengan tingkat risiko tinggi.
Selain menjual langsung ke konsumen, CFTM juga membuka sistem maklon atau produksi pesanan untuk brand lain yang ingin menggunakan jasa produksinya. Ini memberikan peluang kerja sama luas dan membantu memperluas portofolio usaha.
Produk lain yang juga ditawarkan CFTM meliputi dompet, strap kamera, gantungan kunci dengan inisial nama, hingga aksesori kulit lainnya. Harga produk yang dijual di CFTM berkisar dari Rp25.000 hingga Rp3,5 juta tergantung jenis dan spesifikasi produk.
Tampil Mandiri Tanpa Ketergantungan hingga Sukses Tembus Pasar Global
Sejak 2023, Ikhsan mulai mengikuti pameran secara mandiri tanpa dukungan pemerintah. Ia percaya bahwa UMKM harus mampu berdiri di atas kaki sendiri untuk belajar menghitung risiko dan memperkuat strategi bisnis.
“Dulu saya dapat fasilitas pemerintah, tapi mentor saya bilang UMKM enggak boleh bergantung terus. Jadi saya mulai mandiri dan bayar booth sendiri,” katanya.
Kini, CFTM telah merambah ke berbagai kota besar seperti Jakarta dan mengikuti event besar seperti Jakcloth.
CFTM juga berhasil menjangkau pasar luar negeri seperti Malaysia, Turki, Meksiko, Pakistan, dan Timor Leste. Biasanya, pelanggan luar negeri ini didapat dari media sosial atau saat mengunjungi pameran.
“Mereka biasanya janjian dulu via DM Instagram, terus datang langsung ke booth pas pameran,” ujar Ikhsan.
Pelanggan luar negeri pun menjadi semacam representasi branding internasional bagi CFTM.
Sudah Punya Tim Produksi, Kini Omzet Puluhan Juta per Bulan
Produksi CFTM kini didukung oleh tim solid yang terdiri dari 6 penjahit tetap, 10 penjahit borongan, serta tim desain dan marketing yang tersebar di Jakarta dan Yogyakarta.
Tim di Jakarta khusus menangani pengadaan suvenir perusahaan, BUMN, dan instansi pemerintahan. Beberapa klien besar CFTM meliputi Kementerian PUPR, Bappenas, Kemenkes, serta perusahaan seperti Bank Mandiri, BRI, BTN, hingga Volvo yang memproduksi TransJakarta.
Untuk segmen pasar, Ikhsan menargetkan kalangan pria dan wanita dewasa aktif, terutama yang bekerja dan suka nongkrong di kafe-kafe urban seperti di Jakarta.
Soal omzet, Ikhsan mengaku sangat bersyukur karena perkembangan cukup signifikan. “Dulu sebulan dapat Rp10 juta itu udah sujud syukur. Sekarang per bulan bisa Rp25 sampai Rp100 juta dengan profit sekitar 75 persen,” cerita Ikhsan bangga.
Bank BRI Jadi Jembatan bagi CFTM Menuju Kesuksesan
Pada 2023, Ikhsan mendaftar BRIncubator pada Mei 2023. CFTM berhasil terpilih sebagai salah satu peserta BRIncubator yang diselenggarakan oleh Bank BRI.
Waktu itu pelatihan dari BRIncubator berjalan selama satu bulan, dengan total 8 – 10 kali pertemuan. Ketika mengikuti BRIncubator, Ikhsan aktif di hampir seluruh sesi pelatihan.
Berkat ketekunannya mengikuti pelatihan, Ikhsan mendapat predikat peserta teraktif serta meraih Juara 2 dan mendapatkan hadiah Rp1,5 juta. Ikhsan mengaku pelatihan pada program BRIncubator ini sangat luar biasa.
“Ada materi fotografi produk, strategi iklan, manajemen SDM. Dan aku masih buka catatannya sampai sekarang,” cerita laki-laki kelahiran 2000 yang besar di Kulon Progo ini.
Selama pelatihan berlangsung, peserta BRIncubator wajib mengikuti pelatihan tanpa boleh absen. Menariknya, pelatihan ini bukan sekadar teori, tetapi juga dilengkapi dengan bimbingan langsung dari praktisi yang berpengalaman di bidangnya.
“Setiap kendala yang dihadapi langsung dicarikan solusi nyata. Mulai dari pengelolaan keuangan, strategi ekspor, hingga detail seperti teknik pengemasan dan pengiriman barang, semua dipelajari,” ujar Ikhsan.
Bagi Ikhsan, ilmu dari pelatihan program BRIncubator yang sangat berkesan dan berpengaruh pada bisnisnya adalah tentang digital marketing, manajemen keuangan dan relasi.
“Selain dapat ilmu bisnis dari praktisi, yang sangat berkesan adalah bisa bertemu dengan relasi baru. Soalnya dari situ bisa menemukan mindset baru,” cerita Ikhsan sumringah.
Kenapa Pelaku UMKM Baru Harus Ikut Program BRIncubator?
Bagaskara Priyambodo selaku Koordinator Rumah BUMN BRI Yogyakarta (RuBY) mengatakan, UMKM menjadi salah satu nasabah mitra strategis bank BRI. Karena UMKM sudah identik dan dekat dengan BRI. Jadi BRI mengembangkan berbagai program seperti BRIncubator, Pengusaha Muda BRILiaN dan Brilianpreneur untuk para pelaku UMKM.
“Program-program ini menjadi salah satu cara Bank BRI untuk mendukung UMKM naik kelas, salah satunya BRIncubator,” kata Bagas kepada merdeka.com, Rabu (12/3/2025).
BRIncubator bukan hanya program pelatihan biasa. Selama proses inkubasi, para peserta dibekali dengan beragam materi yang dirancang khusus untuk meningkatkan daya saing usaha mereka. Materi pelatihan mencakup penguatan pola pikir kewirausahaan, strategi pemasaran digital, hingga manajemen bisnis yang efisien. Seluruh rangkaian pelatihan ini bertujuan untuk membantu UMKM agar mampu bertahan dan tumbuh di tengah persaingan pasar yang semakin ketat.
Selain memperoleh pengetahuan teknis yang bermanfaat, Ikhsan juga mengaku bahwa nilai utama dari program BRIncubator justru terletak pada jaringan yang berhasil mereka bangun selama mengikuti kegiatan tersebut. Dalam dunia usaha, koneksi yang luas sering kali menjadi pintu pembuka bagi berbagai peluang yang tak terduga.
Bagi Ikhsan, keikutsertaan dalam BRIncubator bukan sekadar ajang pelatihan, tetapi juga kesempatan emas untuk menjalin relasi dengan banyak pihak yang berpotensi mendorong pertumbuhan CFTM di masa depan. Selain itu, perjalanan di dunia bisnis bukan sekadar menciptakan produk berkualitas, tetapi juga bagaimana memanfaatkan setiap peluang yang ada.
“Pengusaha butuh networking untuk eksplor bisnis, jadi pelaku usaha harus ikut BRIncubator. Mentornya mau dan mampu menjelaskan secara teknis. Itu yang membedakan dari kegiatan inkubasi lainnya. Dan itu yang penting,” cerita Ikhsan.
Selain itu, peserta bisa konsultasi dengan mentor yang ahli di bidangnya tentang masalah yang sedang dihadapi bisnis. “Setiap kendala yang dihadapi langsung dicarikan solusi nyata. Mulai dari pengelolaan keuangan, strategi ekspor, hingga detail seperti teknik pengemasan dan pengiriman barang, semua dipelajari,” tutup Ikhsan.
Program BRIncubator 2025 Sudah Dibuka, Segera Daftar!
Program BRIncubator kembali digelar untuk membantu para pelaku UMKM mengembangkan usaha dan menjangkau pasar internasional. Melalui program ini, peserta akan mendapatkan pembinaan intensif, pelatihan dari para mentor profesional, serta panduan strategi bisnis dan pemasaran digital yang mudah diterapkan.
Tak hanya menyediakan pelatihan, BRIncubator juga membuka akses permodalan serta memperluas peluang jejaring bisnis, sehingga UMKM dapat tumbuh lebih cepat dan kompetitif di era digital. Dengan pendekatan yang langsung menyentuh kebutuhan pelaku usaha, program ini menjadi sarana konkret untuk mendorong UMKM naik kelas.
Pendaftaran dibuka hingga 31 Mei 2025. Jangan lewatkan kesempatan emas ini untuk membawa bisnismu selangkah lebih maju. Simak cara mudah mendaftar BRIncubator 2025 di bawah ini.
Syarat dan Ketentuan Ikut Program BRIncubator 2025
1. Usaha merupakan milik sendiri
2. Usaha telah berdiri minimal 6 (enam) bulan
3. Kategori food & beverages, home decor & craft, dan fashion & beauty
4. Merupakan Nasabah BRI (Simpanan/Pinjaman)
5. Aktif dalam penjualan e-commerce
6. Anggota aktif Rumah BUMN BRI
7. Memiliki Legalitas Usaha NIB
8. Tidak sedang mengikuti program inkubasi serupa
9. Berkomitmen mengikuti seluruh rangkaian program
10. Calon peserta bukan/belum pernah mengikuti program:
- BRILianpreneur 2019-2023
- UMKM EXPO(RT) 2025
- Alumni BRIncubator 2018-2024
- Pengusaha Muda BRILian
- Growpreneur
11. Bersedia menandatangani surat komitmen untuk mengikuti seluruh rangkaian kegiatan pelatihan dan pendampingan.
12. Bersedia menyatakan bahwa seluruh data yang diinput atau yang diberikan merupakan data yang sebenarnya.
Cara Daftar Program BRIncubator 2025
1. Akses situs linkumkm pada browser dengan menuliskan linkumkm.id
2. Klik “Masuk” pada website linkumkm
3. Masukkan Email/NIK/No HP dan Password akun Anda
4. Jika belum memiliki akun linkumkm bisa melakukan pendaftaran dengan klik “Daftar”
5. Klik “Masuk”
6. Setelah berhasil “Masuk/Daftar” pada website linkumkm, klik bagian banner BRIncubator
7. Anda telah sampai pada halaman pendaftaran
8. Lengkapilah data Anda yang terdiri dari :
a. Profil Diri
b. Profil Usaha
c. Tentang Produk
d. Profil Bank
9. Pastikan anda telah mengisi seluruh data dengan benar
10. Klik “Selanjutnya” pada masing masing Sub-Pertanyaan
11. Selesai. Anda telah terdaftar pada Program BRIncubator 2025