Kisah Warung Makan Bu Sum Beringharjo, Berjualan Sejak 1950-an dan Pertahankan Resep Nenek
Kuliner legendaris Bu Sum di Pasar Beringharjo sukses ekspansi warung berkat bantuan pinjaman Simpedes BRI.
Di tengah hiruk-pikuk Pasar Beringharjo, terdapat sebuah warung makan legendaris yang nyaris tak pernah sepi dari antrean pembeli. Warung ini bukan restoran besar dengan papan nama mencolok, melainkan sebuah tempat makan sederhana yang dikenal luas berkat cita rasanya yang autentik dan konsisten selama puluhan tahun. Namanya adalah Warung Makan Bu Sum.
Bagi para wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta, menyantap sepiring nasi gudeg atau sate kere di Warung Makan Bu Sum menjadi semacam ritual wajib. Saking terkenalnya, warung ini bahkan kerap diliput oleh media nasional hingga kanal YouTube kuliner.
Para pelanggan yang datang bukan hanya dari berbagai penjuru Indonesia, melainkan juga dari mancanegara. “Kadang ada yang dari Jakarta, Jawa Barat, bahkan luar negeri,” kata Sumiyati ketika ditemui merdeka.com pada Senin (21/4/2025).
Warung Makan Bu Sum bukan hanya menjadi simbol kuliner lokal, melainkan juga cerminan semangat wirausaha perempuan yang tangguh. Di balik racikan bumbu dan aneka menu khas Jawa, tersimpan kisah ketekunan, kerja keras, dan keberanian mengambil langkah besar untuk berkembang. Dari kios warung sederhana, Bu Sum kini memiliki beberapa ruko, tanah, rumah, hingga kendaraan untuk anak-anaknya.
Warung Kecil dengan Cita Rasa Besar, Melanjutkan Warisan Kuliner Sang Nenek
Sumiyati atau akrab disapa Bu Sum (73) bukanlah pendiri pertama warung makan yang terletak di sisi timur lantai satu Pasar Beringharjo ini. Ia merupakan generasi kedua yang melanjutkan usaha kuliner milik neneknya. Meski tak ingat pasti tahun berapa sang nenek memulai usaha ini, Bu Sum yakin warung makan tersebut telah hadir sejak sekitar tahun 1950-an, saat kawasan Pasar Beringharjo mulai ramai oleh aktivitas perdagangan dan wisata.
Mengambil alih warung sejak hampir 45 tahun, Bu Sum tidak mengubah banyak hal dari warisan resep sang nenek. Menu khas seperti nasi gudeg, nasi rames, nasi gulai, dan soto tetap menjadi andalan. Ia bahkan menambahkan ragam variasi masakan seperti nasi mercon dan oseng-oseng hingga total ada 17 jenis masakan yang tersedia setiap harinya.
“Dari dulu ya seperti ini jualannya, dari nasi sampai soto,” tuturnya.
Ketika ditanya soal menu paling favorit, Bu Sum menyebut dua nama yang langsung melejit popularitasnya, yaitu sate kere dan soto. Sate kere, meskipun sederhana, menjadi primadona yang membuat pelanggan rela antre panjang. Tak heran, dalam sehari sate di Warung Makan Bu Sum mampu menghabiskan 100 kg daging ayam dan koyor.
Bukan tanpa alasan, sate ini menawarkan rasa khas, harga terjangkau, dan kehangatan racikan rumahan yang tak lekang oleh waktu. Untuk menikmati seporsi soto hangat cukup merogoh kocek sebesar Rp12 ribu sedangkan satu tusuk sate kere dan ayam seharga Rp3 ribu.
Dalam mempertahankan cita rasa, Bu Sum tetap menggunakan cara-cara tradisional. Bumbu digiling manual, rempah-rempah diracik dengan telaten, dan semua proses masak dijaga kualitasnya.
“Alhamdulillah, semua menu disukai pengunjung,” katanya bangga.
Kesetiaan pada rasa inilah yang menjadi kunci mengapa warung ini tetap eksis meski kuliner kekinian terus bermunculan.
Seiring waktu, meski usia tak lagi muda, Bu Sum tetap aktif mengatur dapur dan memantau aktivitas di warungnya. Ia juga dibantu oleh sekitar 15 karyawan yang mengelola warung setiap harinya, memastikan layanan tetap optimal dari pukul 06.00 hingga 15.00.
Transformasi Warung Makan Bu Sum Beringharjo
Apa yang kini berdiri kokoh sebagai beberapa petak ruko, dulu hanyalah sebuah gerobak kecil. Bu Sum mengenang masa-masa saat warung ini hanya berupa tempat makan sepetak yang nyaris tersembunyi di sudut pasar.
Namun berkat ketekunan dan kegigihannya, ia berhasil membeli petak demi petak hingga kini memiliki beberapa unit dengan sertifikat atas nama sendiri.
“Warung saya cuma ada di sini (Beringharjo) tidak ada jualan di tempat lain. Dulu warung saya cuma sampai sini aja (sepetak gerobak). Lalu saya beli warung pertama Rp500 juta dan warung kedua Rp300 juta dan ada sertifikatnya,” ujar Bu Sum.
Kini, warung-warung itu menjadi aset penting dalam menopang usaha dan penghidupan keluarganya.
Dari hasil usahanya, Bu Sum mampu membeli tanah dan rumah di kawasan Sonopakis, Bantul. Ia juga sukses membeli empat mobil, masing-masing untuk anak-anaknya. Sebuah pencapaian luar biasa dari seorang ibu yang memulai usaha dari warisan sederhana neneknya.
Berkat Modal dari Bank BRI, Usaha Kian Berkembang
Kesuksesan Bu Sum tidak lepas dari peran perbankan, khususnya Bank BRI. Ia menjadi nasabah aktif yang memanfaatkan berbagai layanan seperti Simpedes dan pinjaman usaha. Dengan jaminan sertifikat tanah, Bu Sum mulai meminjam dana sejak nominal Rp25 juta, lalu meningkat menjadi Rp50 juta, Rp100 – 200 juta, hingga Rp300 juta pada tahun 2024.
Pinjaman itu digunakan sepenuhnya untuk kebutuhan usaha, seperti membeli bahan baku, peralatan masak, hingga ekspansi warung. Ia juga menggunakannya untuk keperluan keluarga seperti membeli hunian dan kendaraan.
“Saya pinjam untuk keperluan usaha dan keluarga. Jangka waktu pelunasan saya ambil yang 2 tahun, InsyaAllah Mei 2025 ini lunas,” katanya.
Menariknya, sistem pembayaran pinjaman kini makin praktis berkat integrasi QRIS dari Bank BRI. Bu Sum mulai menggunakan QRIS sejak satu tahun lalu, dan hasilnya cukup signifikan. Pemasukan dari QRIS kadang mencapai Rp12 juta hingga Rp15 juta per bulan dan langsung digunakan untuk membayar angsuran pinjaman secara disiplin.
Pengalaman Bu Sum menjadi bukti bagaimana akses perbankan dapat membantu usaha berkembang secara berkelanjutan. Ia merasa terbantu dengan sistem digital yang memudahkan transaksi, pencatatan, hingga pembayaran.
“Sejak pakai QRIS, pelanggan makin banyak,” ucapnya.
QRIS tidak hanya memberi kemudahan, tetapi juga membuka peluang pencatatan keuangan yang lebih rapi dan modern.
Tak hanya itu, dengan ikut program Simpedes BRI sejak enam tahun lalu, Bu Sum juga punya tabungan dan sistem perencanaan keuangan yang baik. Keseimbangan antara usaha, keluarga, dan pengelolaan keuangan menjadi kunci keberlanjutan usahanya yang kini sudah puluhan tahun berkiprah.
Merajut Mimpi dengan Berangkat Umrah Bersama Keluarga
Ibu empat anak ini tidak hanya bersyukur atas pencapaian usaha, tapi juga tengah bersiap untuk mewujudkan impian pribadi dan spiritual. Ia tengah mengumpulkan dana agar bisa berangkat umrah pada Juli 2025, bertepatan setelah Hari Raya Iduladha. Rencananya, ia akan berangkat bersama anak, menantu, dan cucu.
Bagi Bu Sum, perjalanan ke Tanah Suci bukan sekadar liburan, melainkan bentuk syukur atas berkah yang diterimanya selama ini. Ia ingin membawa seluruh keluarga agar mereka turut merasakan hasil kerja keras yang telah dicapai bersama.
Perjalanan panjang dari warung sederhana ke keberkahan finansial yang ia miliki saat ini menjadi inspirasi banyak orang, terutama perempuan pelaku usaha mikro. Ia menunjukkan bahwa usaha yang ditekuni dengan sepenuh hati dan dikelola dengan bijak, mampu membuka jalan tidak hanya untuk keberhasilan ekonomi, tetapi juga untuk kebahagiaan keluarga.
“Sekarang saya mau mengumpulkan uang buat umrah pada Juli besok bersama anak, manantu dan cucu setelah Lebaran Iduladha. Alhamdulillah,” ucap Bu Sum penuh haru dan syukur.
Bagi banyak orang, Bu Sum bukan sekadar penjual makanan, tetapi penjaga rasa, memori, dan bukti bahwa kesetiaan pada warisan bisa menjadi jalan menuju kesuksesan yang hakiki.
Mengenal Singkat tentang Pinjaman Simpedes Bank BRI
Pinjaman Simpedes adalah fasilitas kredit yang ditawarkan oleh Bank BRI untuk mendukung kebutuhan modal kerja dan atau investasi bagi nasabah yang telah memiliki tabungan Simpedes. Fasilitas ini menawarkan berbagai keuntungan seperti bunga bersaing, syarat yang mudah, dan fleksibilitas dalam pembayaran angsuran.
Mengutip situs BRI, Pinjaman Simpedes atau Kredit Umum Pedesaan (Kupedes) dari Bank BRI adalah fasilitas keuangan yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan modal kerja dan investasi, terutama bagi usaha mikro yang layak. Program ini membantu berbagai sektor usaha seperti pertanian, perdagangan, perindustrian, dan jasa lainnya.
Kupedes BRI memiliki jangkauan luas di wilayah pedesaan dan memberikan kemudahan bagi petani, peternak, pedagang, dan pelaku UMKM lainnya untuk mendapatkan modal usaha.
Keuntungan Pinjaman Simpedes BRI:
Mendukung Pemenuhan Kebutuhan: Mendukung pemenuhan kebutuhan modal kerja dan atau investasi sampai dengan Rp500 juta.
Sektor Usaha: Berlaku untuk semua sektor usaha, meliputi pertanian, perdagangan, perindustrian maupun jasa lainnya.
Bunga: Bunga bersaing dan syarat mudah.
Agunan: Aguna tidak harus sertifikat.
Angsuran: Angsuran sesuai dengan kebutuhan (bulanan, musiman dan lain-lain). Pembayaran angsuran dapat dilakukan di seluruh BRI Unit dan seluruh channel BRI.
Biaya Administrasi: Biaya administrasi mulai dari Rp50 ribu dan biaya provisi mulai dari Rp0 (nol rupiah).
Asuransi: Pinjaman Simpedes BRI dapat di-cover asuransi jiwa kredit, asuransi jiwa, asuransi kecelakaan, kesehatan, dan meninggal dunia.
Syarat Pengajuan Pinjaman Simpedes BRI
Memiliki Tabungan Simpedes: Syarat utama adalah nasabah harus memiliki tabungan Simpedes di BRI.
Usaha Produktif: Pinjaman ini diperuntukkan bagi usaha yang produktif dan layak, termasuk pertanian, perdagangan, perindustrian, dan jasa lainnya.
Data Usaha: Data usaha seperti omset, pengeluaran, dan aset akan dibutuhkan dalam pengajuan.
Identitas Diri: KTP, Kartu Keluarga (KK), dan surat izin usaha (jika ada).
Agunan (Jika Dibutuhkan): Agunan dapat berupa aset yang layak sesuai ketentuan BRI.
Apa Bedanya Pinjaman Simpedes dengan KUR BRI?
Simpedes BRI dan KUR BRI adalah produk pinjaman dari Bank BRI, namun keduanya memiliki perbedaan. Simpedes adalah pinjaman umum dengan bunga kompetitif, cocok untuk berbagai kebutuhan, termasuk perbaikan rumah, biaya pendidikan, dan pembelian kendaraan. Sedangkan KUR BRI yang merupakan program pemerintah, berfokus pada pembiayaan UMKM dengan bunga lebih ringan.
Target Nasabah: Pinjaman Simpedes BRI lebih ditargetkan untuk nasabah yang sudah memiliki tabungan Simpedes, sementara KUR BRI lebih umum bagi UMKM.
Jangkauan Usaha: Pinjaman Simpedes BRI dapat digunakan untuk berbagai sektor usaha, sementara KUR BRI memiliki fokus pada usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Syarat: Pinjaman Simpedes BRI memiliki syarat yang lebih mudah, terutama bagi nasabah Simpedes, dibandingkan dengan KUR BRI.
Untuk informasi lebih detail mengenai persyaratan, suku bunga, dan cara pengajuan, Anda dapat mengunjungi website BRI atau menghubungi kantor BRI terdekat.