Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengeluarkan perintah blokade Selat Hormuz. Hal itu usai negosiasi antara AS-Iran yang digelar di Islamabad, Pakistan tidak menemui titik temu.
Dalam sebuah unggahan di media sosial pada hari Minggu (12/4), Trump menuduh Iran memaksa kapal-kapal yang melintas untuk membayar biaya tertentu.
Ia menegaskan bahwa Angkatan Laut AS akan mengejar dan mencegat kapal-kapal yang melakukan pembayaran tersebut di perairan internasional. Selain itu, Trump juga menyatakan bahwa pasukan AS akan mulai membersihkan ranjau yang diduga dipasang oleh Iran di kawasan tersebut.
"Jadi, begitulah adanya, pertemuan berjalan baik, sebagian besar poin disepakati, tetapi satu poin yang paling penting, NUKLIR, tidak."
"Mulai saat ini, Angkatan Laut AS, yang terbaik di dunia, akan memulai proses MEMBLOKADE setiap kapal yang mencoba masuk atau keluar dari Selat Hormuz."
Sejak dimulainya perang antara AS dan Israel melawan Iran pada 28 Februari, Iran semakin memperketat kontrolnya atas Selat Hormuz, yang merupakan jalur strategis penting bagi perdagangan energi global. Pada hari yang sama, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memperingatkan bahwa kapal sipil masih diperbolehkan melintasi selat dengan mematuhi peraturan tertentu, namun kapal militer yang mendekati wilayah tersebut akan dianggap melanggar gencatan senjata.
Akibat dari situasi ini, arus lalu lintas di selat yang sempit tersebut dilaporkan melambat drastis, mengakibatkan hampir seperlima pengiriman minyak dan gas alam cair dunia terhambat, yang pada gilirannya memicu guncangan pada perekonomian global.
Pernyataan Trump juga menimbulkan kekhawatiran mengenai kelanjutan gencatan senjata yang rapuh, yang sebelumnya disepakati berlangsung selama dua minggu dan diumumkan pada 7 April. Koresponden Al Jazeera, Zein Basravi, melaporkan dari Dubai bahwa pernyataan presiden AS tersebut terdengar "sangat bombastis, panjang, rinci, dan menunjukkan tingkat frustrasi yang tinggi."
Ia menambahkan bahwa negara-negara di kawasan Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) kini merasa cemas karena sebelumnya mereka berharap gencatan senjata dapat diperpanjang menjadi perdamaian jangka panjang yang stabil.
Sejumlah mediator internasional mendesak kedua pihak untuk kembali mengutamakan diplomasi dan menghindari eskalasi konflik. Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi, dalam unggahannya di media sosial, menyatakan, "Saya mendesak agar gencatan senjata diperpanjang dan pembicaraan dilanjutkan. Keberhasilan mungkin memerlukan pengorbanan yang berat, tetapi itu tidak sebanding dengan penderitaan akibat kegagalan dan perang."
Sementara itu, Iran membantah klaim AS bahwa dua kapal perangnya baru-baru ini melintasi selat untuk operasi pembersihan ranjau. Iran memperingatkan bahwa setiap kapal militer yang mencoba melakukan hal tersebut akan menghadapi respons keras dari mereka.
Dalam pernyataan terpisah, Trump kembali menyebut kendali Iran atas Selat Hormuz sebagai "pemerasan terhadap dunia" dan menegaskan bahwa setiap pasukan Iran yang menyerang pasukan AS atau kapal non-militer akan "dihancurkan."
Trump juga menekankan bahwa blokade ini akan melibatkan "negara-negara lain," meskipun ia tidak memberikan rincian lebih lanjut. Ia menegaskan bahwa AS akan mencegat setiap kapal di perairan internasional yang telah membayar biaya kepada Iran.
Dalam wawancara dengan Fox News, Trump menyatakan bahwa AS tidak akan membiarkan Iran mendapatkan keuntungan dari penjualan minyak, "Kami tidak akan membiarkan Iran menghasilkan uang dari menjual minyak kepada pihak yang mereka sukai. Ini akan menjadi semuanya atau tidak sama sekali," ujarnya.
Trump mengklaim bahwa Inggris dan beberapa negara lain akan mengirim kapal penyapu ranjau untuk membantu operasi tersebut, meskipun klaim ini belum dikonfirmasi oleh pemerintah Inggris. Di dalam negeri, pernyataan Trump mendapatkan kritik dari anggota parlemen Partai Demokrat.
Senator Mark Warner mempertanyakan logika kebijakan tersebut dalam wawancaranya dengan CNN, "Saya tidak mengerti bagaimana memblokade selat justru akan mendorong Iran untuk membukanya," tuturnya. "Saya tidak melihat keterkaitannya."
Di sisi lain, Iran tetap mengirim kapal-kapalnya melalui Selat Hormuz sejak konflik dimulai, serta mengizinkan sejumlah kapal dari negara lain untuk melintas. Pejabat Iran sempat membahas kemungkinan penerapan sistem biaya atau tol bagi kapal yang melintasi selat setelah konflik berakhir.
Koresponden Al Jazeera, Ali Hashem, melaporkan dari Teheran bahwa Iran menyadari bahwa kendali atas Selat Hormuz merupakan alat tawar utama mereka. "Semakin tinggi ketegangan, semakin tinggi harga energi, dan ini berdampak langsung pada ekonomi global," ujarnya.
Advertisement
CENTCOM Mulai Blokade
Pada hari Minggu, Komando Pusat AS, yang dikenal sebagai United States Central Command (CENTCOM), mengumumkan bahwa mereka akan mulai menerapkan blokade terhadap semua lalu lintas maritim yang berangkat dari dan menuju pelabuhan Iran.
"CENTCOM akan mulai menerapkan blokade terhadap seluruh lalu lintas maritim yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran pada 13 April pukul 10.00 waktu Timur AS, sesuai dengan proklamasi presiden," demikian pernyataan CENTCOM melalui platform X. Dengan demikian, blokade tersebut akan dimulai hari ini pukul 21.00 WIB.
CENTCOM menegaskan bahwa blokade ini akan diterapkan secara netral terhadap semua kapal dari berbagai negara yang beroperasi di pelabuhan dan wilayah pesisir Iran. Blokade tersebut mencakup seluruh pelabuhan Iran yang terletak di Teluk Arab dan Teluk Oman.
"Pasukan CENTCOM tidak akan menghambat kebebasan navigasi bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz menuju dan dari pelabuhan non-Iran," tambah mereka.
Selain itu, pihak komando juga menyatakan bahwa mereka akan memberikan pemberitahuan kepada kapal-kapal komersial sebelum blokade dilaksanakan. Semua kapal yang berada di Teluk Oman dan Selat Hormuz diimbau untuk memantau siaran maritim serta menghubungi Angkatan Laut AS jika diperlukan.