Kisah Mbah Min dan Biola Bambu, Inovasi Alat Musik Produk Lokal yang Kini Mendunia
Berkat inovasi yang dilakukan dan sokongan modal BRI, Mbah Min berhasil membuktikan jika produk UMKM lokal bisa mendunia.
Sebuah rumah sederhana yang terletak di Desa Japan, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus menjadi saksi bisu lahirnya karya alat musik istimewa, biola bambu. Rumah itu milik Ngatmin atau yang akrab disapa Mbah Min, seorang perajin alat musik gesek dari bahan bambu.
Perjalanan Mbah Min sebagai pembuat biola dimulai dari pengalaman hidupnya sebagai tukang kayu sejak lulus SD. Kemampuan mengolah kayu yang ia miliki kemudian menjadi modal awal untuk membuat alat musik gesek setelah terinspirasi dari kerabatnya yang pandai bermain biola dan membuka les musik di Bogor.
Tahun 2009 saat tinggal di Kota Hujan menjadi titik balik Mbah Min. Berbekal keahlian mengolah kayu, Ia mendapat tantangan untuk membuat biola.
Meski tak mempunyai background dan pengetahuan soal musik, Mbah Min menyanggupi tantangan tersebut. Pada awalnya Ia gagal membuat biola, namun karena kegigihannya, sebuah alat musik gesek berhasil dibuat berkat tangan kreatifnya.
"Saya uji coba bikin biola dari kayu berkali-kali. Gagal coba lagi hingga akhirnya jadi. Nggak cuma bikin aja, akhirnya saya juga belajar untuk memainkan biola agar tahu nada dasar biola." ungkap Mbah Min yang kini lihai memainkan biola.
Seiring berjalannya waktu setelah berhasil membuat biola kayu, pesanan untuk membuat alat musik gesek dari Italia Utara itu semakin meningkat. Namun karena berbagai pertimbangan, Mbah Min justru memutuskan untuk pulang ke kampung halaman di Desa Japan, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus pada 2012 lalu.
"Biar deket dengan keluarga waktu itu saya pilih pulang kampung aja." jelas Mbah Min.
Semakin Serius untuk Produksi Biola dari Bambu
Kendati demikian, semangat kreatifnya pun tak surut. Ia bahkan mulai lebih serius untuk menekuni produksi biola dan memilih bambu sebagai bahan utama.
"Setelah di rumah, inspirasi bikin biola dari bambu muncul saat lihat banyak bambu di sekitar yang terbuang sia-sia. Terus kepikiran, kenapa gak dibikin biola aja." ungkap pria berusia 48 tahun itu.
Jenis bambu yang digunakan untuk membuat biola pun tak boleh sembarangan. Mbah Min hanya memilih bambu petung dan bambu wulung agar menghasilkan kualitas suara terbaik.
"Untuk suara sopran itu pakai bambu petung, untuk (suara) tenor pakai wulung" terangnya lebih lanjut.
Bambu petung dan wulung yang digunakan juga harus bambu istimewa yang berumur sekitar 10 tahun dan tumbuh di ketinggian kurang lebih 1000 meter di atas permukaan laut. Proses pengeringan bambu pun memakan waktu 5-6 bulan untuk memastikan kualitas terbaik.
Selain itu, sebagai identitas produk lokal Indonesia, Mbah Min juga menambahkan unsur khas melalui ukiran pada kepala biola dan motif batik untuk tempat penyimpanan biola. "Untuk membedakan dengan produk buatan Eropa atau Cina, saya sengaja bikin hardcase motif batik, sama ini (bagian kepala biola) ada ukirannya." ungkap Mbah Min.
Biola Bambu Banyak Diminati hingga Dapat Apresiasi Gubernur Jateng
Dengan standar produksi yang tak main-main, tak heran jika produk biola bambu karya Mbah Min banyak diminati. Produk yang dihasilkan telah merambah ke berbagai kota di Indonesia bahkan ke luar negeri.
"Biola buatan saya pernah dikirim sampai Malaysia dan Hongkong." paparnya.
Produk biola bambu karya Mbah Min juga sempat mendapat apresiasi dari Gubernur Jawa Tengah yang kala itu dijabat oleh Ganjar Pranowo. Pada 2021, Ganjar bahkan mengunjungi rumah Mbah Min untuk melihat langsung proses pembuatan biola bambu.
Merangkum dari laman jatengprov.go.id, dalam kunjungannya Ganjar mengaku terkesan dengan produksi alat gesek dari bambu asal Kudus itu. “(Biola) ini dari bambu. Saya kira ini pertama yang ada dan istimewanya ini dari Kudus. Biola dari bambu ini keren." puji Ganjar kala itu.
Terus Berinovasi dan Makin Pesat Berkat Dukungan BRI
Melihat peminat produk bambu yang makin meningkat, Mbah Min juga terus berinovasi. Pada 2024, ia mulai membuat gitar bambu dari limbah potongan bambu yang tidak terpakai.
Selain itu Ia juga membuat miniatur Menara Kudus dari limbah kayu jati yang dibanderol mulai Rp150 ribu hingga Rp350 ribu. Sementara untuk produk biola bambu yang diproduksi dijual mulai Rp3 juta, dan untuk biola dari bahan kayu dijual lebih murah mulai Rp1,5 juta.
Dalam mengembangkan usaha kreatif ini, Mbah Min tidak berjalan sendiri. Ia mendapat dukungan penuh dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) melalui fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR).
Pinjaman pertama Ia gunakan untuk membeli bahan baku seperti kayu dan bambu untuk produksi biola. "Pinjaman pertama gak berani banyak, dikit-dikit biar bisa kerja santai." ungkap Mbah Min menceritakan awal mulai mengambil pinjaman KUR untuk modal.
Namun seiring berjalannya waktu, melihat peminat semakin meningkat namun modal yang dimiliki masih terbatas, membuat Mbah Min kembali mengajukan pinjam KUR. Suntikan modal sebesar Rp30 juta digunakan untuk tambahan modal dengan tenor cicilan selama 2 tahun.
“Prosesnya sangat mudah, dan saya sangat terbantu dengan adanya pinjaman ini,” ungkapnya saat ditemui peserta Jurnalis on Site BRI Fellowship 2025.
Tak hanya bantuan modal, BRI juga mendukungnya dengan memberi ruang untuk berkembang melalui program pendampingan dan lomba UMKM. Mbah Min bahkan pernah meraih juara dua dalam lomba UMKM se-Jawa Tengah yang diadakan BRI. Pencapaian tersebut tentu membuat Mbah Min semakin termotivasi untuk terus berkarya.
Perjalan Mbah Min dari tukang kayu menjadi perajin biola yang kini dikenal luas hingga luar negeri menjadi bukti bahwa kreativitas dan kerja keras dapat mengubah nasib seseorang. Berkat inovasi yang dilakukan dan sokongan modal BRI, Mbah Min berhasil membuktikan jika produk UMKM lokal bisa mendunia.
KUR BRI Mendorong UMKM Naik Kelas
Kesuksesan Mbah Min memang tidak lepas dari dukungan BRI melalui program KUR. Program ini memberikan akses permodalan bagi pelaku UMKM untuk mengembangan bisnisnya.
Menurut data yang dihimpun dari Antara, hingga akhir Triwulan 1 2025, BRI telah menyalurkan KUR sebesar Rp 42,23 triliun, atau 24,13% dari alokasi tahun 2025 yang ditetapkan Pemerintah, yaitu Rp 175 triliun. Penyaluran KUR terbesar tercatat pada sektor perdagangan, mencapai 40,8% untuk mengembangkan bisnis para pelaku UMKM.
Bagi para pelaku UMKM, KUR BRI memang menawarkan solusi pembiayaan yang sangat bermanfaat. Kemudahan akses KUR juga menjadi bukti nyata jika BRI hadir untuk mendorong UMKM naik kelas.
Hal tersebut sejalan dengan apa yang disampaikan Supari, Direktur Bisnis Mikro BRI terkait dukungan BRI untuk memberdayakan UMKM. "Melalui KUR, kami tidak hanya menyediakan pembiayaan, tetapi juga memberdayakan UMKM agar mampu tumbuh lebih berkelanjutan," ungkapnya dikutip dari laman bri.co.id.