Perjalanan Parijoto dari Lereng Muria hingga Tembus Pasar Global, Makin Meroket Berkat BRI
Dukungan BRI melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) memainkan peran penting dalam perkembangan usaha sirup parijoto asli lereng Gunung Muria, Kudus.
Parijoto, buah berwarna ungu yang tumbuh subur di lereng Gunung Muria Kudus ternyata menyimpan potensi luar biasa. Buah berukuran kecil yang selama ini dikenal karena mitosnya yang dipercaya mampu menyuburkan kandungan dan membuat calon bayi lahir cantik atau tampan, kini telah berhasil menembus pasar global.
Salah satu sosok yang berhasil mengangkat potensi prijoto ialah Triyanto R. Soetardjo. Ia adalah founder CV Seleksi Alam Muria (Alammu), sebuah Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) yang menjual berbagai jenis produk olahan parijoto.
Melalui inovasi yang dilakukan, Triyanto berhasil mengembangkan Alammu, merek sirup parijoto kreasinya ke pasar yang lebih luas bahkan diminati hingga luar negeri. Tak hanya itu, dukungan dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) sebagai lembaga perbankan terbesar penyalur Kredit Usaha Rakyat (KUR) juga memainkan peran penting dalam perkembangan bisnisnya.
Ditemui Merdeka.com, Rabu (26/3) di store sekaligus tempat tinggalnya, Triyanto berbagi cerita dari awal mulai eksperimen buah parijoto hingga kini Alammu berkembang pesat. Berikut kisah selengkapnya.
Awal Mula Eksperimen Sirup Parijoto hingga Jadi Bisnis
Perjalanan untuk bereksperimen membuat sirup parijoto berawal sejak 2015 lalu. Saat Triyanto melihat permasalahan yang dihadapi para petani parijoto di sekitar Gunung Muria terkait hasil panen yang melimpah ruah saat musim panen tiba.
"Eksperimen itu awalnya karena melihat masalah yang dihadapi petani, pertama soal musim panen yang tidak stabil. Ketika musim hujan, buah parijoto melimpah ruah, tapi ketika musim kemarau, langka harga bisa melonjak tinggi,” ujar Triyanto dalam wawancara.
Selain itu, Ia juga menyadari jika buah parijoto yang dijual segar sering kali tidak dapat bertahan lama. "Selanjutnya masalah masa simpan. Karena buah ini cepat busuk, seringkali banyak yang terbuang. Ini jadi masalah besar bagi para petani parijoto." jelasnya.
Kondisi tersebut kemudian menginspirasi Triyanto untuk mencari solusi agar buah parijoto dapat diolah menjadi produk yang lebih tahan lama. Pada 2016, Ia bersama istri kemudian bereksperimen untuk mengolah parijoto menjadi sirup.
Awalnya hasil eksperimen yang dilakukan sebagai bentuk edukasi untuk para petani agar mereka bisa mengolah buah parijoto yang jumlahnya melimpah saat musim panen tiba. Namun ternyata para petani lebih memilih menjual buah segar kepada pedagang di sekitar makam Sunan Muria.
"Setelah jadi (sirup parijoto) saya kembalikan ke petani, harapannya biar mereka yang membuat, tapi ternyata dari petani belum bisa menerima, ya dimaklumi sih karena belum pernah ada produk olahan parijoto khususnya sirup, jadi yaudah akhirnya kami olah sendiri barangkali ini jalan rezeki kami." papar Triyanto menceritakan awal mula berbisnis sirup parijoto.
Permintaan Produk Olahan Parijoto Meningkat
Seiring berjalannya waktu, respons pasar terhadap sirup parijoto semakin meningkat berkat dukungan berbagai pihak. Terlebih saat Triyanto mulai banyak mengikuti acara pameran untuk memperkenalkan produk Alammu berupa sirup parijoto.
"Selain pameran, 2017 itu ada liputan dari salah satu stasiun TV, nah setelah itu mulai boom banyak yang tahu produk sirup parijoto, dan alhamdulillah dikenal sampai sekarang" terangnya.
Selain itu, dukungan dari BRI juga memiliki peran penting dalam perkembangan bisnis olahan parijoto milik Triyanto. Bahkan saat masa sulit ketika pandemi, Ia masih dipercaya untuk mendapat suntikan modal melalui program KUR BRI.
"Pas pandemi itu kan masa sulit ya, tapi BRI baik banget sama saya, pengajuan pinjaman di-acc, dipermudah pokoknya." ungkap Triyanto mencerita kemudahan saat akses KUR melalui BRI.
Modal yang diterima tersebut kemudian digunakan Triyanto untuk mengembangkan produksi dan memperluas tempat usahanya. Mengingat bisnis sirup parijoto ini dimulai dari dapur mertua kemudian berpindah ke lantai dua rumah milik sang adik hingga kini akhirnya Alammu memiliki tempat produksi sendiri sekaligus sebagai tempat tinggal Triyanto dan keluarga.
"Sebelumnya itu saya bener-bener merintis, dulu awal mulai di rumah mertua, nunut masak ya situ, terus mulai 2018 produksi meningkat nyari kontrakan ditawari di lantai dua rumah adik, terus pas 2020 ada yang jual ini (tempat tinggalnya saat ini) pas kami sudah siap bayar dan juga dibantu BRI buat memperluas tempat produksi" paparnya.
Makin Meroket Berkat BRI dan Media Sosial
Selain itu, BRI juga mendukung pemasaran produk dengan memfasilitasi Triyanto untuk mengikuti berbagai expo atau pameran. Di berbagai kesempatan, BRI Cabang Kudus bahkan kerap menjadi mitra dengan membeli produk-produk hasil inovasi buah parijoto tersebut.
"Dukungan BRI itu gak main-main, gak cuma kasih KUR atau nyuruh ikut pameran, tapi juga sering order pas mereka ada acara. Para pegawai juga support dengan membeli produk kami." ungkap Triyanto menjelaskan dukungan nyata BRI untuk keberlangsungan bisnisnya.
Selain bantuan promosi dari BRI, selama ini Triyanto mengandalkan penjualan dari sosial media, e-commerce dan juga para reseller. Bahkan berkat penjualan di shopee, ia berhasil menggaet pembeli dari luar negeri.
"Pembeli itu dari seluruh Indonesia merata, kemarin bahkan ada yang dari Malaysia, Singapur, Thailand, Hongkong. Itu semua mereka pesen online lewat shopee." papar istri Triyanto yang juga turut berperan dalam keberlangsungan bisnis sirup parijoto Alammu.
Menurut pemaparan istri Triyanto yang juga mengelola penjualan online, dalam sehari produk Alammu bisa terjual 30 hingga 40 produk. Selama sebulan omzet yang diperoleh bahkan mencapai Rp5 juta.
Inovasi Produk Alammu
Tak hanya menjual produk parijoto dalam bentuk sirup, Alammu juga menjual berbagai produk inovasi seperti teh, keripik, permen hingga kombucha yang terbuat dari buah parijoto. Inovasi yang dilakukan Triyanto tentu saja sebagai upaya agar produk olahan parijoto semakin beragam dan lebih banyak dikenal masyarakat luas.
Melihat berbagai inovasi yang dilakukan Triyanto, Kepala BRI Unit Colo Kudus, Vicky Didik Jatmiko mengungkapkan akan terus memberi dukungan untuk perkembangan usaha parijoto sebagai UMKM unggulan di unit tempatnya bertugas.
"Parijoto ini unggulan di Colo, kami dari BRI tentu akan mendukung agar UMKM seperti milik pak Triyanto ini agar bisa semakin naik kelas" papar Vicky saat ditemui Merdeka.com, Rabu (26/3) di kantornya.
Produk Alammu kini dijual dengan harga yang cukup terjangkau. Untuk sirup dibanderol mulai dari Rp45 ribu hingga Rp230 ribu tergantung ukuran. Sementara produk lain seperti permen dan keripik dijual seharga Rp25 ribu dan kombucha Rp150 ribu.
Semua produk Alammu dapat di beli di berbagai e-commerce. Selain itu juga dapat dibeli langsung di rumah produksi yang terletak di Jalan Raya Colo Kudus KM 1, Desa Colo Rt 01 Rw 01 Dawe, Kudus.