Wanita Ini Jadi Sutradara Perempuan Pertama di Indonesia, Sukses Berakting hingga Menyanyi
Selain berakting, Ratna juga pintar dalam bernyanyi.
Selain berakting, dirinya juga pintar bernyanyi.
Wanita Ini Jadi Sutradara Perempuan Pertama di Indonesia, Sukses Berakting hingga Menyanyi
Ratna Asmara lahir di Minangkabau, Sumatra Barat pada tahun 1914. Ia lahir dengan nama Suratna. Nama Ratna Asmara ia peroleh setelah menikah dengan Anjar Asmara, seorang wartawan dan penulis naskah tonil untuk sebuah grup opera bernama Dardanella.
Pada saat itu, Dardanella melakukan pertunjukan lintas benua. Ratna dan Anjar ikut serta. Namun setelah pertunjukan di Mumbai, India, pasangan itu memilih pulang ke Tanah Air.
Sesampainya di Hindia Belanda, mereka mendirikan rombongan tunil Bolero. Pada 1940, mereka dikontrak industri film, Java Industrial Film.
Ratna kemudian membintangi film berjudul Kartinah pada tahun 1941. Saat itu ia diduetkan dengan Astaman, mantan rekannya di Dardanella.
Selanjutnya, Ratna membintangi beberapa film salah satunya Noesa Penida. Pembuatan film itu sempat terkendala karena kedatangan Penjajah Jepang. Namun film tersebut berhasil dirilis bersama filmnya yang lain berjudul Ratna Moetoe Manikam.
Seperti mengutip YouTube Penjelajah Waktu, selain pintar berakting, Ratna ternyata juga pintar menyanyi. Beberapa lagu yang ia nyanyikan berhasil masuk dapur rekaman, yaitu Tanah Airku Indonesia, Terang Bulan di Malaya, Nasib Perempuan, dan Sebatang Kara.
Pada saat pendudukan Jepang (1942-1945), Ratna dan Anjar membuat sebuah grup sandiwara bernama Angkatan Muda Matahari, yang kemudian berganti nama menjadi Cahaya Timur.
Setelah kemerdekaan, tepatnya pada 1948, ia bermain film berjudul Jauh di Mata. Pada 1950, Direktur Perusahaan Film Perseroan Artis Indonesia (Persari) menunjuk Ratna sebagai sutradara film pertama mereka berjudul Sedap Malam. Saat itulah ia resmi menjadi sutradara film pertama di Indonesia.
Sedap Malam mengisahkan seorang perempuan bernama Padmah yang diperankan Soekarsih yang merasa dirinya sudah rusak karena dipaksa menjadi “Geisha” pada masa pendudukan Jepang. Dalam cerita itu dikisahkan bahwa Padmah kemudian menjadi wanita tuna susila dan meninggal karena penyakit kotor.
Sedap Malam pun menjadi film pertama bertema pelacuran di Indonesia. Film tersebut sukses di pasaran. Berdasarkan resensi film yang terbit di Majalah Aneka, Sedap Malam merupakan sebuah kemajuan di dunia perfilman Indonesia karena penggarapannya dipimpin sutradara perempuan.
Setelah itu, Ratna membintangi film berjudul Musim Bunga di Selabintana pada 1951 dan Dr. Samsi pada 1952. Pada 1953, Ratna mendirikan perusahaan Ratna Film.
Dia menjadi sutradara, penulis skenario, dan produser film pertama dalam film Nelayan pada tahun yang sama. Film ini mengadaptasi cerita karangan Mochtar Lubis. Ia kemudian membuat film Dewi dan Pemilihan Umum pada 1954.
Namun setelah tahun itu, aktivitas Ratna tak terlacak. Mengutip YouTube Penjelajah Waktu, tak ada informasi pula kapan ia meninggal.