Cerita Thomas Raffles Jalan-Jalan di Malioboro, Dapat Sambutan Meriah dari Sultan Jogja
Selama pemerintahannya, Raffles banyak melakukan diplomasi dengan banyak kerajaan untuk mendapat pengakuan atas kedaulatan Inggris
Selama pemerintahannya, Raffles banyak melakukan diplomasi dengan banyak kerajaan untuk mendapat pengakuan atas kedaulatan Inggris
Cerita Thomas Raffles Jalan-Jalan di Malioboro, Dapat Sambutan Meriah dari Sultan Jogja
Malioboro merupakan kawasan yang cukup ikonik di Kota Yogyakarta. Pada zaman dulu, jalan utama pada kawasan itu berfungsi untuk menyambut para tamu agung yang akan berkunjung ke Keraton Yogyakarta.
Pada tahun 1814, Jalan Malioboro digambarkan sebagai “jalan yang berhiaskan bunga dan berbagai dekorasi yang indah”.
Dalam catatan “Java Government Gazette” tertanggal 8 Januari 1814, dikisahkan kedatangan tamu penting saat itu, Gubernur Jenderal Hindia Belanda Thomas Stanford Raflles, ke kawasan Vorstenlanden.
Setelah mengunjungi Keraton Kasunanan Surakarta, Raffles dan jajarannya, mengunjungi Keraton Yogyakarta dengan pengawalan pasukan kavaleri.
Seperti dikutip dari Facebook Roemah Toea, ia beserta rombongan tiba di Yogyakarta pada 8 Desember 1813. Saat itu ia datang dari arah timur dan tiba di Tugu Golong Giling.
Dari Tugu Golong Giling, Raflles beserta rombongan bergerak ke selatan mengunjungi Jalan Margoutomo dan kemudian masuk ke Jalan Malioboro.
Dalam catatan “Java Government Gazette” disebutkan, saat sampai di Jalan Malioboro, ia disambut dengan perayaan yang meriah. Ia disambut dengan gapura penyambutan dengan berbagai macam hiasan. Sepanjang jalan melewati Jalan Malioboro, ia diiringi musik gamelan.
Di kanan dan kiri jalan diiasi berbagai macam hiasan yang indah, termasuk pohon-pohon rimbun yang berjejer rapi di sepanjang tepi jalan.
Sesampainya di Keraton, Raffles disambut oleh Sri Sultan Hamengkubuwono III beserta permaisurinya. Selama tinggal di keraton, ia mendapat perlakuan yang Istimewa.
Keesoka harinya Raffles dan jajarannya diajak untuk menikmati atraksi Rampogan Macan di Alun-Alun Selatan. Kunjungan di Yogyakarta itu berakhir pada 13 Desember 1813.
Pada masa itu, Thomas Stanford Raffles merupakan sosok yang disegani di Hindia Belanda. Selama berkuasa di Hindia Belanda, ia telah berjasa atas sejumlah kebijakan antara lain menghentikan perdagangan budak, mereformasi sistem pertahanan pemerintahan Hindia Belanda, serta berjasa atas sejumlah penelitian flora dan fauna, peninggalan kuno seperti Candi Borobudur dan Candi Prambanan, serta Sastra Jawa.
Ia pun banyak melakukan diplomasi dengan banyak kerajaan untuk mendapat pengakuan dari raja-raja tersebut atas kekuasaan Inggris. Ia tak segan menggunakan kekuatan militer untuk menaklukkan kerajaan yang tidak mengakui kedaulatan Raja Inggris.
Atas misi ini, ia berhasil mendapat dukungan dari Kesultanan Surakarta dan Banjarmasin. Namun ia tidak berhasil mendapat dukungan dari Kesultanan Yogyakarta. Hal ini membuat Raffles menyerbu Keraton Yogyakarta dan merampok harta benda di dalamnya. Peristiwa penyerbuan ini dikenal dengan nama Geger Sepoy atau Geger Sepehi.