Yadnya Kasada, Perayaan Sakral di Bromo yang Satukan Manusia, Alam, dan Budaya Tengger
Perayaan Yadnya Kasada menjadi simbol keharmonisan antara manusia, alam dan budaya yang dijaga turun-temurun oleh masyarakat Suku Tengger.
Setiap tahun, Gunung Bromo menjadi saksi bisu dari sebuah perayaan agung yang sarat makna dan nilai-nilai spiritual: Yadnya Kasada. Lebih dari sekadar ritual adat, Yadnya Kasada telah menjelma menjadi simbol harmoni antara manusia, alam, dan budaya yang dijaga turun-temurun oleh masyarakat Suku Tengger. Perayaan ini tak hanya memperlihatkan ketaatan spiritual, namun juga memperkuat identitas budaya bangsa di tengah gelombang modernisasi dan globalisasi.
Makna Sakral Yadnya Kasada
Yadnya Kasada merupakan ritual tahunan yang dilaksanakan masyarakat Suku Tengger pada malam ke-14 dan puncaknya pada hari ke-15 bulan Kasada dalam penanggalan Jawa Tengger. Puncak dari upacara ini adalah persembahan hasil bumi ke kawah Gunung Bromo, sebagai bentuk rasa syukur kepada Sang Hyang Widhi dan penghormatan terhadap para leluhur.
Tradisi ini bukan hanya prosesi spiritual, tetapi juga bentuk interaksi harmonis antara manusia dan alam. Di tengah lanskap megah Bromo, warga Tengger datang dengan berbagai hasil panen, ternak, bahkan sesaji lain, lalu dilemparkan ke dalam kawah. Ritual ini menjadi simbol bagaimana manusia menggantungkan hidup pada alam dan bagaimana mereka menjaga hubungan sakral dengannya.
Simbol Harmoni: Manusia, Alam, dan Budaya
Dalam acara malam resepsi Yadnya Kasada 2025, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan bahwa budaya seperti ini adalah fondasi identitas bangsa yang tidak boleh luntur. Ia menyebut Yadnya Kasada sebagai simbol keharmonisan antara manusia, alam, dan nilai-nilai budaya luhur yang diwariskan secara berkelanjutan.
“Budaya adalah aset nasional, kekayaan yang tidak habis dieksplorasi dan diwariskan secara berkelanjutan dari generasi ke generasi. Di tengah tantangan globalisasi, budaya adalah fondasi pembangunan dan identitas bangsa,” ujar Fadli seperti dikutip dari Antara.
Ia juga mengingatkan bahwa kekayaan budaya Indonesia adalah national treasure yang tak bisa diklaim bangsa lain. Kebudayaan merupakan soft power yang mampu memperkuat diplomasi bangsa dalam konteks global, jauh lebih ampuh dari kekuatan fisik.
Jawa Timur Jadikan Budaya sebagai Prioritas Pembangunan
Resepsi Yadnya Kasada juga dihadiri oleh Pelaksana Tugas (Plt.) Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, yang menyampaikan komitmen pemerintah provinsi dalam menjadikan budaya sebagai prioritas pembangunan daerah.
“Budaya tidak bisa dimanufaktur atau diklaim oleh bangsa lain. Karena itu, Jawa Timur berkomitmen menjadikan kebudayaan sebagai salah satu prioritas pembangunan,” kata Emil. “Apa yang kita lakukan malam ini di Tengger adalah pengukuhan ekosistem budaya yang hidup dan berkarakter.”
Pernyataan ini mempertegas bahwa Yadnya Kasada tidak hanya ritual lokal semata, namun juga bagian penting dari strategi pelestarian budaya dan pengembangan karakter bangsa di tingkat regional maupun nasional.
Penghormatan Nasional: Penutupan Total Kawasan TNBTS
Sebagai bentuk penghormatan terhadap perayaan sakral ini, Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) menutup seluruh aktivitas wisata di kawasan taman nasional selama empat hari, yakni dari 10 hingga 13 Juni 2025. Penutupan ini merupakan hasil koordinasi dengan berbagai pihak termasuk TNI, Polri, dan pecalang.
“Penutupan ini sebagai bentuk menghormati upacara ritual Yadnya Kasada,” ujar Kepala Balai Besar TNBTS, Rudijanta Tjahja Nugraha.
Selama masa penutupan, kawasan hanya dapat diakses oleh masyarakat yang mengikuti upacara. Setelah puncak upacara pada 10–11 Juni, tanggal 12–13 Juni digunakan untuk pembersihan kawasan, guna memastikan bahwa alam Bromo tetap terjaga dari sisa-sisa aktivitas manusia.
Gelar Kehormatan dan Apresiasi untuk Masyarakat Tengger
Dalam kesempatan tersebut, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menerima Gelar Warga Kehormatan Sesepuh Masyarakat Tengger sebagai bentuk penghargaan atas komitmen dan dukungannya dalam menjaga kebudayaan lokal. Ia menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada masyarakat Tengger yang telah menjaga nilai-nilai luhur warisan budaya tersebut.
“Saya menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada masyarakat Tengger yang menjaga nilai-nilai luhur warisan budaya ini. Semoga rahmat Tuhan senantiasa mengalir bagi kita semua,” ungkap Fadli.
Selain itu, beberapa tokoh lain juga dikukuhkan sebagai warga kehormatan Tengger, menunjukkan bahwa upacara ini tak hanya menjadi ritual keagamaan tetapi juga peristiwa budaya yang inklusif, membuka ruang untuk kolaborasi antara masyarakat adat, pemerintah, dan pihak luar.
Warisan Budaya yang Relevan dan Abadi
Yadnya Kasada tidak hanya bicara soal masa lalu, tetapi juga tentang masa depan. Dalam dunia yang semakin digital dan serba instan, upacara seperti ini mengajarkan nilai-nilai kesabaran, penghormatan terhadap leluhur, dan penghargaan terhadap alam. Ia menghidupkan kembali semangat gotong royong, solidaritas, dan spiritualitas yang mulai memudar di tengah arus zaman.
Kehadiran pemerintah dalam perayaan ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya bukan hanya tugas komunitas adat, tetapi juga tanggung jawab bersama. Momen seperti ini adalah bentuk nyata sinergi antara masyarakat, pemerintah, dan lingkungan, yang dapat menjadi contoh ekosistem budaya yang lestari dan kuat secara karakter.
Bromo dan Kasada, Warisan untuk Dunia
Perayaan Yadnya Kasada adalah wajah dari Indonesia yang kaya akan tradisi dan spiritualitas. Gunung Bromo yang megah, sesaji yang melayang ke kawah, dan nyanyian doa masyarakat Tengger menjadi saksi bahwa harmoni antara manusia, alam, dan budaya bukan hanya mungkin, tapi nyata adanya.
Melalui upacara ini, masyarakat Tengger mengingatkan kita semua: menjaga budaya berarti menjaga jati diri bangsa. Dan di tengah hiruk-pikuk dunia modern, Yadnya Kasada tetap berdiri sebagai penanda bahwa keagungan bisa lahir dari kesederhanaan dan keikhlasan.