Tahukah Anda? Tumpek Wariga, Hari Suci Penghormatan Tumbuhan yang Dijadikan Pondasi Kebijakan Bali
Gubernur Bali Wayan Koster mengajak masyarakat melestarikan kearifan lokal melalui Tumpek Wariga, hari suci penghormatan tumbuhan yang kini menjadi kebijakan resmi Pemprov Bali.
Gubernur Bali Wayan Koster menyerukan masyarakat untuk terus melestarikan kearifan lokal melalui perayaan Tumpek Wariga. Seruan ini disampaikan saat persembahyangan di Pura Pengubengan, Besakih, pada 25 Oktober lalu. Hari suci ini diisi dengan ritual Wana Kerthi, sebuah simbol penghormatan mendalam kepada tumbuh-tumbuhan sebagai sumber kehidupan.
Ritual Tumpek Wariga, yang jatuh setiap 210 hari sekali berdasarkan kalender Bali, memiliki makna spiritual yang mendalam. Ini merupakan bentuk komunikasi spiritual manusia dengan tumbuhan. Perayaan ini menunjukkan kesadaran ekologis tinggi dari leluhur masyarakat Bali.
Koster menegaskan pentingnya memuliakan "Sarwa Tumbuh" atau tumbuh-tumbuhan, yang dalam kepercayaan Bali dianggap sebagai saudara tua. Tumbuhan dipandang sebagai pemberi kehidupan tanpa pamrih. Mereka menyediakan makanan, udara, dan kesejahteraan bagi manusia.
Makna Filosofis Tumpek Wariga dalam Kehidupan Masyarakat Bali
Gubernur Wayan Koster menjelaskan bahwa perayaan Tumpek Wariga berakar pada ajaran Siwa Nata Raja. Ajaran ini menyatakan bahwa Dewa Siwa memutar dunia dalam gerakan menari (tandava) untuk menghadirkan kehidupan. Dalam proses penciptaan tersebut, tumbuh-tumbuhan adalah entitas pertama yang hadir di dunia.
Dalam kepercayaan masyarakat Bali, tumbuhan dihormati layaknya kakek yang wajib dijunjung tinggi. Mereka senantiasa memberi tanpa mengharapkan balasan, menyediakan kebutuhan esensial bagi kelangsungan hidup manusia. Tumbuhan tidak pernah "berbohong" kepada manusia, selalu membalas perawatan dengan kesuburan.
Koster mengibaratkan, bila tumbuhan dirawat dengan kasih sayang, pasti akan berbuah, berbunga, dan berdaun lebat. Hal ini menjadi tanda kesuburan dan kesejahteraan yang melimpah. Kesadaran ekologis ini telah diwariskan secara turun-temurun oleh leluhur Bali.
Hari suci Tumpek Wariga jatuh 24 hari sebelum Hari Raya Galungan. Pada momen ini, umat memohon kepada Sang Hyang Sangkara agar tumbuhan berbuah dan memberikan hasil melimpah saat Galungan tiba. Ini menunjukkan keterkaitan erat antara alam dan perayaan keagamaan.
Tumpek Wariga sebagai Pondasi Kebijakan Pemerintah Provinsi Bali
Tradisi merayakan Tumpek Wariga dan tumpek lainnya telah lama dijalankan oleh masyarakat Bali. Namun, Gubernur Koster mengungkapkan bahwa tradisi ini belum secara resmi menjadi kebijakan pemerintah. Oleh karena itu, ia menetapkannya dalam kebijakan resmi melalui Surat Edaran Gubernur Bali pada tahun 2022.
Kebijakan ini mewajibkan pemerintah daerah untuk mengingatkan masyarakat. Tujuannya adalah agar terus melestarikan kearifan lokal ini. Hal ini penting agar tradisi luhur tidak punah di tengah arus modernisasi yang semakin pesat.
"Mari bergotong royong menjaga dan memuliakan alam," ujar Gubernur Koster. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk melakukannya dengan disiplin, tanggung jawab, dan kesadaran spiritual. Tujuannya adalah mewujudkan Bali yang ajeg, sejahtera, dan lestari.
Penetapan ini menunjukkan komitmen Pemprov Bali dalam menjaga harmoni antara manusia dan alam. Ini juga merupakan upaya nyata untuk mengintegrasikan nilai-nilai budaya lokal ke dalam tata kelola pemerintahan. Tumpek Wariga kini menjadi bagian integral dari pembangunan berkelanjutan di Bali.
Edukasi Lingkungan di Taman Gumi Banten dan Usadha
Setelah persembahyangan, jajaran Pemprov Bali mengunjungi Taman Gumi Banten dan Usadha. Taman ini berlokasi di Banjar Kedungdung, Desa Besakih, Karangasem. Kunjungan ini selaras dengan semangat perayaan Tumpek Wariga.
Taman seluas 4,2 hektare ini menjadi rumah bagi lebih dari 800 jenis tanaman. Tanaman-tanaman tersebut digunakan dalam 118 jenis prosesi upacara keagamaan rutin di Pura Agung Besakih setiap tahunnya. Ini menjadikannya pusat konservasi botani yang vital.
Gubernur Koster mengarahkan agar taman tersebut ditata dengan pengelompokan tanaman. Pengelompokan ini berdasarkan jenis dan tema agar lebih mudah dipahami oleh pengunjung. Ia juga mengarahkan pembuatan blok-blok khusus untuk tanaman tertentu.
Selain itu, Koster menekankan pentingnya aturan pengambilan tanaman dengan prosesi upacara. Hal ini bertujuan agar pengambilan tidak dilakukan secara sembarangan. "Saya ingin taman ini menjadi kebun edukatif yang hidup," ucapnya, berharap pengunjung memahami makna spiritual tanaman.
Sumber: AntaraNews