Tips Sehat Setelah Lebaran: Kendalikan Pola Makan hingga Cek Kesehatan Rutin
Periode pasca-Lebaran waktu yang tepat untuk refleksi dan penataan ulang prioritas hidup, terutama setelah meningkatnya pengeluaran.
PT Asuransi Jiwa Sequis Life mengajak masyarakat untuk melakukan reset finansial dan gaya hidup pasca-Lebaran. Momentum ini dinilai penting untuk menata kembali prioritas hidup setelah periode konsumtif selama Ramadan dan libur Idulfitri.
Ajakan tersebut disampaikan Chief of Human Resources & Corporate Services Sequis Life, Agustina Samara, dalam acara Halalbihalal bertajuk "Better Tomorrow Starts Today: Feel Good, Stay Healthy, Be Protected" yang diselenggarakan bersama media.
Dalam kegiatan ini, Sequis Life menghadirkan diskusi mengenai perencanaan keuangan dan kesehatan bersama Faculty Head Sequis Quality Empowerment (STAE), Yan Ardhianto Handoyo, serta Spesialis Gizi Klinik RSPI Pondok Indah, Juwalita Surapsari. Turut hadir pula Brand Ambassador Sequis Life, Donna Agnesia.
Agustina Samara, yang akrab disapa Tina, menekankan bahwa periode pasca-Lebaran merupakan waktu yang tepat untuk refleksi dan penataan ulang prioritas hidup, terutama setelah meningkatnya pengeluaran dan perubahan pola hidup selama Ramadan.
"Feel Good bukan sekadar suasana hati, tetapi rasa tenang karena kondisi keuangan terkendali dan kesehatan terjaga. Ini adalah bentuk tanggung jawab kita terhadap keluarga sebagai #YangPalingBerarti dalam hidup," ujar Tina.
Ia menambahkan, gaya hidup sehat dan disiplin dalam perencanaan keuangan merupakan fondasi penting untuk mencapai masa depan yang lebih baik. Menurutnya, kesehatan dan finansial harus berjalan beriringan—pola hidup sehat perlu dilengkapi proteksi, sementara proteksi tanpa disiplin finansial tidak akan optimal.
Strategi Finansial Pasca-Lebaran dan Pentingnya Proteksi
Tekanan keuangan pasca-Lebaran kerap meningkat akibat akumulasi pengeluaran, mulai dari kebutuhan mudik, konsumsi, hingga pemberian hadiah. Karena itu, diperlukan strategi pemulihan yang terencana agar tidak berkembang menjadi risiko finansial jangka panjang.
Yan Ardhianto Handoyo menegaskan bahwa ketahanan finansial tidak hanya bergantung pada besarnya penghasilan, tetapi juga pada kemampuan mengelola arus kas, mengendalikan utang, serta menyiapkan dana darurat.
"Pasca-Lebaran merupakan momen yang tepat untuk melakukan reset finansial. Langkah sederhana yang dapat dilakukan antara lain disiplin mengelola arus kas, mengendalikan utang, menyiapkan dana darurat, serta lengkapi dengan proteksi guna menjaga kondisi keuangan dari risiko tidak terduga," ujar Yan.
Ia juga menyarankan penataan ulang pos keuangan, terutama yang berpotensi memicu utang konsumtif. Alokasi keuangan ideal mencakup 50–60% untuk kebutuhan rutin, 10–20% untuk tabungan dan dana darurat, serta dilengkapi dengan proteksi.
"Asuransi jiwa dan kesehatan merupakan bagian penting dalam membangun ketahanan finansial keluarga. Asuransi bukan sekadar biaya, melainkan instrumen perlindungan untuk meminimalkan dampak finansial dari risiko yang tidak terduga," tegasnya.
Di tengah proses pemulihan tersebut, masyarakat juga diimbau untuk tetap prudent (bijaksana), cermat dalam mengambil keputusan keuangan, serta adaptif terhadap dinamika ekonomi global. Dengan pengelolaan yang tepat, kondisi finansial pasca-Lebaran dapat pulih lebih cepat sekaligus memperkuat ketahanan jangka panjang.
Waspada Risiko Kesehatan Pasca-Lebaran
Selain finansial, aspek kesehatan juga perlu mendapat perhatian. Perubahan pola makan, jam tidur, dan aktivitas selama Ramadan dan Lebaran dapat berdampak pada kondisi tubuh.
Peningkatan konsumsi makanan tinggi gula, garam, dan lemak berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan. Bahkan, tanpa perubahan berat badan yang signifikan, seseorang tetap dapat mengalami peningkatan kadar kolesterol, gula darah, dan tekanan darah.
Dr. Juwalita menekankan pentingnya kesadaran terhadap indikator kesehatan melalui prinsip "Know Your Numbers", seperti tekanan darah, gula darah, kolesterol, dan indeks massa tubuh.
"Seseorang dapat saja merasa sehat secara fisik. Namun, indikator kesehatannya belum tentu optimal. Bahkan, dapat mengalami gangguan metabolik. Deteksi dini melalui pemeriksaan berkala merupakan langkah preventif yang lebih cerdas dibandingkan pengobatan jangka panjang," jelas dr. Juwalita.
Data Profil Kesehatan Indonesia 2025 dari Kementerian Kesehatan RI menunjukkan peningkatan kasus Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti hipertensi, diabetes melitus, dan obesitas, terutama pada kelompok usia muda 16–30 tahun. Tren ini dipengaruhi oleh pola konsumsi dan gaya hidup yang kurang sehat, termasuk rendahnya aktivitas fisik.
Memulai Hari Esok dari Kebiasaan Kecil
Menutup diskusi, Donna Agnesia menekankan pentingnya konsistensi dalam membangun kebiasaan baik, baik dalam menjaga kesehatan maupun perencanaan finansial.
"Olahraga yang konsisten akan menjadi kebutuhan tubuh secara alami. Kesibukan seharusnya tidak menjadi alasan untuk mengabaikan kesehatan," ujarnya.
Proteksi Bagian Perencanaan Jangka Panjang
Ia juga mengingatkan bahwa proteksi merupakan bagian dari perencanaan hidup jangka panjang.
"Asuransi jiwa dan kesehatan adalah wujud cinta untuk keluarga yang paling berarti, mengingat risiko tidak terduga dapat terjadi kapan saja."
Melalui pendekatan yang menyeluruh—menggabungkan disiplin finansial, gaya hidup sehat, dan perlindungan yang memadai—Sequis Life mendorong masyarakat untuk memanfaatkan momentum pasca-Lebaran sebagai titik awal membangun masa depan yang lebih baik.