Bukan Sekadar Menyembelih: Jagal Sapi dan Semangat Gotong Royong Idul Adha
Jagal sapi keliling ini rutin menyembelih kurban setiap Iduladha tanpa imbalan, sebagai bentuk ibadah dan pengabdian tulus pada sesama.
Kala gema takbir menggema di udara dan hewan-hewan kurban mulai berdatangan dari berbagai penjuru, Muhammad Shodiq (62), warga Desa Ngadilangkung, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, kembali bersiap menjalani perannya sebagai jagal kurban. Bukan profesi utama, namun keahliannya dalam menyembelih hewan sesuai syariat Islam telah menjadikannya sosok yang selalu ditunggu-tunggu setiap Idul Adha tiba.
"Biasanya saya menyembelih kambing dan sapi. Tapi tahun ini kebanyakan kambing, insyaallah tahun depan ada sapi," ujar Shodiq saat ditemui di halaman mushala dekat rumahnya.
Ia telah menjalani kegiatan penyembelihan hewan kurban ini selama lebih dari dua dekade. Berawal dari pembelajaran sederhana yang diberikan oleh pakdhe-nya, seorang tokoh masyarakat di kampungnya, Shodiq kemudian melatih dirinya hingga mahir dalam menyembelih hewan secara halal dan penuh tanggung jawab. "Dulu saya minta petunjuk ke pakdhe bagaimana cara menyembelih sesuai syariat. Dari situ saya belajar," kenangnya.
Persiapan Matang Sejak H-1
Setiap tahunnya, kesibukan Shodiq dimulai sejak H-1 Idul Adha. Ia bersama warga lain mempersiapkan tempat penyembelihan, area untuk menguliti, serta lokasi pencucian daging dan bagian dalam hewan. Semua berada dalam satu area luas yang terbagi menjadi beberapa bagian.
"Kami menyiapkan tempat penyembelihan, tempat kotor untuk motong, tempat nyuci. Semuanya diatur rapi, walaupun lokasinya satu, tapi setiap fungsi kami pisahkan agar tidak tercampur," jelas Shodiq.
Tempat khusus tersebut terletak di sebelah mushala desa, lokasi yang ia sebut sejuk dan nyaman. Di sinilah proses kurban berlangsung setiap tahunnya, disaksikan oleh warga sekitar yang turut bergotong royong.
Tantangan di Balik Kesakralan
Meski proses penyembelihan telah dijalani puluhan kali, tetap ada tantangan yang dihadapi setiap tahunnya. Salah satunya adalah kesiapan lokasi dan penanganan hewan yang datang malam hari."Kadang malam hari hewan baru datang, tempatnya belum siap. Hewan juga bisa lepas. Makanya kami sering berjaga malam untuk memastikan semuanya aman," ungkap Shodiq.
Namun, secara keseluruhan, tantangan tersebut tidak menjadi beban berat baginya. Dukungan warga dan semangat gotong royong menjadi kekuatan utama. "Kami di sini terbiasa kerja sama. Semua warga terlibat, tanpa memandang agama. Non-muslim pun ikut bantu. Itulah indahnya momen Idul Adha di kampung kami," ujarnya haru.
Puncak Kesibukan di Hari Pertama Idul Adha
Menariknya, Shodiq bukanlah jagal profesional. Kegiatan ini ia jalani sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat. Di luar Idul Adha, ia bekerja seperti biasa dan hanya sesekali menerima panggilan untuk menyembelih pada acara pernikahan atau hajatan.
"Kadang ada yang minta tolong saat pernikahan, atau punya hajat. Tapi ini hanya kerja sampingan. Saat Idul Adha, saya sering diminta bantuan oleh perorangan, sekolah, bahkan instansi seperti Hotel Grand Kanjuruhan," ujarnya.
Hari paling sibuk bagi Shodiq adalah tepat saat Idul Adha. Selepas salat Ied, prosesi penyembelihan langsung dimulai.
"Biasanya selesai salat, langsung kami potong. Hari pertama paling sibuk. Hari Tasyrik sudah tidak banyak lagi," katanya.
Dalam satu hari, ia bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Untuk itu, ia menyusun jadwal berdasarkan skala prioritas.
"Kalau ada banyak panggilan, saya lihat dulu mana yang lebih penting. Misalnya tahun lalu saya ke SMK, lalu ke tempat lain. Kadang saya tinggal motong, lalu warga lain yang lanjut," tuturnya.
Mengutamakan Kebersihan dan Keamanan
Dalam proses penyembelihan, Shodiq selalu menekankan pentingnya menjaga kebersihan dan keamanan. Ia mempersiapkan semua peralatan sendiri, dibantu warga yang turut membawa perlengkapan masing-masing. Proses dilakukan secara hati-hati agar daging tetap higienis dan layak konsumsi.
“Dalaman (isi perut hewan) kami bilas dengan air mengalir. Ada terpal miring yang langsung mengalir ke pembuangan. Daging juga dijaga agar tidak menyentuh tanah. Kalau kotor, ya kami cuci lagi sebelum dibagikan,” paparnya. Prinsip ini terus ia pegang demi memastikan daging kurban sampai ke tangan warga dalam kondisi terbaik.
Makna Spiritual dan Filosofi Kurban
Bagi Shodiq, kurban bukan sekadar menyembelih hewan. Lebih dari itu, ia melihatnya sebagai bentuk kepatuhan dan kecintaan kepada Allah SWT.
"Kurban itu ibadah yang paling disukai Allah. Kalau orang mampu, ya wajib. Ini bukan hanya tradisi, tapi keikhlasan," ucapnya mantap.
Ia juga menekankan pentingnya menyebut nama Allah saat menyembelih. "Kalau tidak baca bismillah, menurut saya itu bisa seperti makan bangkai. Karena kita harus motong atas nama Allah. Itu syarat sahnya," imbuhnya.
Prosedur penyembelihan menurut syariat pun ia hafal di luar kepala. "Pertama niat, lalu baca bismillah, kemudian pisau harus tajam supaya tidak menyakiti hewan. Kita juga sebut untuk siapa hewan itu dikurbankan," jelasnya.
Kurban sebagai Sarana Persatuan
Momen Idul Adha di Desa Ngadilangkung tak hanya menghadirkan aroma sate dan gulai, namun juga mempererat ikatan sosial. Semua warga berkumpul, bahu-membahu dalam setiap tahapan, mulai dari penyembelihan hingga pembagian daging.
"Kami tidak pandang siapa. Semua berkumpul, semua bantu. Itulah semangat desa kami. Kurban ini menyatukan," pungkas Shodiq dengan mata berkaca-kaca.
Dari pengalaman Muhammad Shodiq, kita belajar bahwa ibadah kurban bukan semata prosesi fisik. Ia adalah bentuk pengorbanan, ketulusan, dan persaudaraan yang melampaui sekat sosial dan agama. Di balik setiap tetesan darah yang mengalir, ada cinta dan keikhlasan yang tak ternilai harganya.