Kesibukan Tukang Sate Madura Saat Idul Adha, Mengolah Daging Kurban dengan Sentuhan Tradisi
Pak Agus, tukang sate Madura di Kepanjen, sibuk olah daging kurban saat Idul Adha, sambil jalani tradisi pulang kampung setiap tahun.
Menjelang Idul Adha, suasana di Kepanjen, Kabupaten Malang, mulai terasa berbeda. Di salah satu sudut jalan, warung sate Madura milik Pak Agus, 45 tahun, yang biasanya tak pernah sepi pengunjung, justru tutup sementara. Bukan karena sepi pembeli, melainkan karena Agus pulang kampung ke Sampang, Madura, untuk merayakan Idul Adha bersama keluarga.
Pak Agus telah berjualan sate lebih dari 15 tahun di Kepanjen. Setiap tahun, menjelang Hari Raya Kurban, ia selalu menutup warung sementara demi menjaga tradisi pulang kampung atau toron. Meski begitu, selepas libur lebaran, warungnya selalu dibanjiri pesanan, terutama dari warga yang ingin mengolah daging kurban mereka menjadi sate.
Tradisi Toron yang Tak Pernah Absen
"Setiap Idul Adha pasti pulang kampung ke Sampang, Madura. Sudah tradisi dari dulu," tutur Pak Agus sambil mengatur tusukan sate di lapaknya.
Toron, atau tradisi mudik bagi masyarakat Madura, memang menjadi momen penting, lebih sakral dari sekadar libur biasa. Bagi Pak Agus, momen pulang kampung tak hanya untuk bersilaturahmi, tapi juga untuk menghormati leluhur dan mempererat hubungan dengan keluarga besar.
Meski demikian, di balik tradisi ini ada dilema tersendiri. Menjelang Idul Adha biasanya justru saat di mana permintaan sate melonjak tajam. Banyak pelanggan setia berharap lapaknya buka untuk mengolah daging kurban mereka.
"Kalau saya buka waktu Idul Adha, pasti rame banget. Tapi keluarga di kampung juga menunggu. Ya harus adil bagi waktu," ungkapnya.
Ramai Pesanan Usai Pulang Kampung
Selepas kembali dari Madura, Pak Agus tak bisa berleha-leha. Hari kedua atau ketiga setelah Idul Adha justru menjadi puncak kesibukannya. Sejak pagi buta, sudah ada pelanggan yang datang membawa kantong plastik berisi daging kurban.
"Banyak pelanggan lama yang sudah tahu saya habis pulang kampung. Biasanya mereka datang bawa daging kambing atau sapi, minta dibikinin sate," katanya.
Layanan unik ini memang cuma ada di momen Idul Adha. Alih-alih membeli sate jadi, para pelanggan membawa daging kurban mereka sendiri dan mempercayakan Pak Agus untuk mengolahnya.
"Saya tanya dulu mau bumbu apa, kacang atau kecap. Ada juga yang mau campur dua-duanya. Kalau minta pedas, saya tambahin cabai rawit di sambalnya," jelasnya sambil tersenyum.
Pesanan pun tak tanggung-tanggung. Satu keluarga bisa memesan 50 hingga 100 tusuk sate. Bahkan ada yang rela antre lama demi rasa khas bumbu Madura racikan Pak Agus.
"Kalau pas ramai, bisa sampai malam bakar sate terus. Untung ada istri dan dua anak saya yang bantu. Kalau sendiri, nggak sanggup," akunya.
Tantangan Mengolah Daging Kurban
Mengolah daging kurban bukan perkara gampang. Menurut Pak Agus, daging hewan kurban terutama kambing atau sapi dewasa, sering kali lebih alot dibanding daging muda yang biasa ia gunakan sehari-hari.
"Kalau daging buat jualan, saya pilih kambing muda biar empuk. Tapi daging kurban biasanya dari hewan tua, seratnya kasar, jadi butuh trik khusus," jelasnya.
Untuk mengatasi kealotan ini, Pak Agus punya resep rahasia. Daging rendaman bumbu rempah Madura dipadukan dengan air nanas atau daun pepaya.
"Kalau mau lebih empuk, daging saya pukul-pukul dulu sebelum ditusuk. Baru setelah itu dibalur bumbu. Ada juga yang saya rendam semalaman biar bumbu meresap," tambahnya.
Selain itu, teknik membakar pun harus tepat. Api arang tak boleh terlalu besar agar daging matang merata tanpa gosong. Inilah alasan mengapa pelanggan lebih percaya pada tangan terampil Pak Agus dibanding memanggang sendiri di rumah.
"Banyak yang takut sate gosong, atau malah masih mentah dalamnya. Makanya mereka pilih bawa daging ke sini, saya yang olah," ujarnya.
Idul Adha, Rezeki dan Kebahagiaan yang Berlipat
Meski lelah bekerja dari pagi hingga malam, Pak Agus justru merasa momen Idul Adha sebagai berkah tersendiri. Bukan hanya soal penghasilan yang meningkat, tapi juga perasaan bahagia karena membantu banyak orang.
"Rezeki Alhamdulillah lebih dari hari biasa. Tapi yang paling bikin senang itu lihat orang puas bawa pulang sate buatan saya," katanya tersenyum.
Bagi Pak Agus, berdagang sate bukan sekadar urusan untung-rugi. Ia merasa menjadi bagian dari tradisi besar yang menghubungkan banyak hati dalam momen berbagi.
"Idul Adha itu kan soal berbagi. Saya juga merasa berbagi lewat sate ini. Bukan cuma sate yang dibawa pulang, tapi juga rasa senang dan kebersamaan," tuturnya.
Meski selepas Idul Adha pesanan kembali normal, kenangan tentang hiruk-pikuk pelanggan yang berebut sate buatan tangannya selalu tersimpan dalam ingatan.
"Setiap tahun selalu ada cerita baru. Kadang ada pelanggan baru, kadang ada yang cerita soal kambing kurban mereka. Semua jadi bagian dari perjalanan saya sebagai tukang sate," pungkasnya.
Setiap momen Idul Adha, Pak Agus bukan hanya sekadar penjual sate. Ia menjadi bagian dari tradisi warga yang ingin menikmati daging kurban dalam bentuk olahan yang lezat dan praktis. Meski melelahkan, ia tetap melayani pesanan demi pesanan dengan tekun, dibantu keluarganya.
Baginya, Idul Adha membawa rezeki tambahan sekaligus kesempatan untuk membantu banyak orang yang kesulitan mengolah daging kurban sendiri. Dari tusuk demi tusuk sate yang terpanggang di atas bara, ada kerja keras dan kesabaran yang jarang terlihat. Sebuah pengingat bahwa rezeki bisa datang dari mana saja, bahkan dari asap sate di pinggir jalan Kepanjen.