Waspada! Hantavirus Merebak, WHO Keluarkan Peringatan untuk 12 Negara
Negara-negara yang termasuk dalam peringatan WHO adalah mereka yang mengalami wabah penyakit menular atau risiko kesehatan masyarakat yang tinggi.
Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah mengeluarkan peringatan kepada 12 negara untuk meningkatkan pemantauan terhadap penumpang kapal pesiar MV Hondius, menyusul munculnya wabah hantavirus mematikan di Atlantik Selatan. Hingga 8 Mei 2026, WHO mencatat adanya lima kasus terkonfirmasi, dengan tiga di antaranya berujung pada kematian yang berkaitan dengan kapal ekspedisi tersebut, seperti yang dilaporkan oleh Al Jazeera pada Sabtu (9/5/2026).
Negara-negara yang diminta untuk memperketat pengawasan mencakup Inggris, Kanada, Denmark, Jerman, Belanda, Selandia Baru, Saint Kitts dan Nevis, Singapura, Swedia, Swiss, Turki, dan Amerika Serikat. WHO menyatakan bahwa wabah ini melibatkan strain Andes dari hantavirus yang diduga berasal dari kawasan Amerika Selatan. Hantavirus ini dikenal sebagai salah satu varian yang dalam beberapa kasus dapat menular antar manusia, meskipun penularannya tergolong jarang.
WHO menjelaskan bahwa sebagian besar hantavirus umumnya menyebar melalui kontak dengan hewan pengerat atau melalui paparan terhadap urine, air liur, dan kotoran tikus yang terinfeksi. Untuk itu, organisasi ini meminta otoritas kesehatan di negara-negara yang terlibat untuk melacak penumpang yang turun dari kapal sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan penyebaran virus lebih lanjut. "Risiko penularan global secara lebih luas tetap rendah," ungkap pernyataan resmi dari WHO.
Kapal MV Hondius sendiri merupakan kapal ekspedisi yang beroperasi di wilayah kutub dan Atlantik Selatan. Saat ini, perhatian utama otoritas kesehatan internasional tertuju pada riwayat perjalanan penumpang serta kemungkinan kontak erat yang terjadi selama pelayaran.
WHO juga mengimbau negara-negara terkait untuk meningkatkan pengawasan terhadap gejala-gejala yang berkaitan dengan infeksi hantavirus, seperti demam tinggi, nyeri otot, gangguan pernapasan, dan komplikasi paru-paru yang dapat berkembang dengan cepat. Hingga kini, belum ada informasi lebih lanjut mengenai asal pasti paparan virus maupun identitas korban yang meninggal dunia.