Kemenkes Perkuat Imunisasi Nasional, Targetkan Jangkau Hampir Sejuta Anak Zero-Dose
Kemenkes tegaskan komitmen penguatan Imunisasi Nasional, fokus menjangkau hampir 960.000 anak zero-dose yang belum terimunisasi demi kesehatan generasi mendatang.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bersama mitra pembangunan UNICEF dan WHO kembali menegaskan komitmen nasional. Mereka berupaya memperkuat program imunisasi dengan fokus menjangkau anak zero-dose melalui momentum Puncak Pekan Imunisasi Dunia (PID) 2026.
Meskipun menunjukkan kemajuan signifikan, Kemenkes mencatat masih ada sekitar 960.000 anak zero-dose. Anak-anak ini belum menerima imunisasi sama sekali sehingga menjadi target utama intervensi ke depan.
Plt. Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, menyatakan cakupan imunisasi sempat menurun drastis setelah pandemi COVID-19. Kondisi ini memerlukan perhatian serius untuk mencegah kejadian luar biasa penyakit menular.
Tantangan Anak Zero-Dose dan Komitmen Kemenkes
Kondisi pascapandemi COVID-19 telah menyebabkan penurunan cakupan imunisasi rutin secara nasional. Fenomena ini memicu kekhawatiran akan potensi peningkatan kasus penyakit menular yang dapat dicegah dengan vaksinasi. Andi Saguni menekankan risiko kejadian luar biasa seperti campak, difteri, atau pertusis bisa meningkat jika cakupan tidak optimal.
Kemenkes menyoroti keberadaan hampir 960.000 anak zero-dose di seluruh Indonesia yang belum tersentuh program imunisasi. Kelompok rentan ini menjadi fokus utama upaya penguatan imunisasi ke depan. Komitmen ini bertujuan untuk memastikan setiap anak mendapatkan hak dasar perlindungan kesehatan mereka.
Pemerintah melalui Kemenkes memastikan ketersediaan vaksin secara nasional aman dan mencukupi. Stok vaksin bahkan diproyeksikan aman hingga sembilan bulan ke depan. Ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam mendukung kelancaran program imunisasi di seluruh daerah.
Peran Mitra Global dan Inovasi Program Imunisasi
Perwakilan UNICEF Indonesia, Jean Lokenga, menegaskan bahwa imunisasi adalah hak dasar setiap anak yang harus dipenuhi. Ia menyoroti pentingnya menjangkau kelompok anak yang belum terlayani secara optimal. Inisiatif global seperti The Big Catch-Up telah menyalurkan lebih dari 100 juta dosis vaksin di 36 negara, membuktikan komitmen bersama dapat menjangkau semua anak.
Meski demikian, Jean Lokenga mengingatkan bahwa kampanye besar ini bukan pengganti sistem imunisasi rutin yang kuat dan berkelanjutan. Penguatan sistem imunisasi dasar tetap menjadi fondasi utama. Hal ini untuk memastikan perlindungan jangka panjang bagi anak-anak di seluruh dunia.
Dari perspektif global, perwakilan WHO Indonesia, Olivia, menggarisbawahi imunisasi sebagai salah satu intervensi kesehatan masyarakat paling efektif. Dampaknya sangat luas dalam mencegah penyakit dan menyelamatkan jutaan jiwa. WHO mengapresiasi komitmen Indonesia dalam menyelenggarakan Pekan Imunisasi Dunia (PID) secara aktif.
Olivia juga menyoroti bahwa tidak semua negara merayakan PID secara masif seperti Indonesia. Ini mencerminkan komitmen kuat Indonesia dalam meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya imunisasi. Namun, tantangan dalam menjangkau anak zero-dose dan meningkatkan kepercayaan publik masih tetap ada.
Momentum PID 2026 untuk Percepatan Capaian
Direktur Imunisasi Kementerian Kesehatan, Indri, menekankan bahwa momentum PID 2026 sangat penting untuk mempercepat capaian program imunisasi nasional. Rangkaian kegiatan PID dirancang untuk menguatkan kembali kesadaran masyarakat. Tujuannya adalah bahwa imunisasi sangat krusial untuk melindungi generasi penerus bangsa.
Indri menambahkan, berbagai inovasi telah dilakukan untuk mendukung program imunisasi di Indonesia. Inovasi ini mencakup strategi distribusi, peningkatan kualitas rantai dingin, hingga edukasi masyarakat. Ini bukan hanya kegiatan seremonial, melainkan gerakan bersama untuk memastikan anak-anak Indonesia lebih sehat.
Optimalisasi distribusi dan kualitas rantai dingin di daerah menjadi fokus penting yang harus terus dijaga. Hal ini untuk memastikan vaksin tetap efektif saat diberikan kepada anak-anak. Dengan demikian, tidak ada lagi alasan kekurangan vaksin atau masalah distribusi yang menghambat program vital ini.
Sumber: AntaraNews