Advokasi BBPOM Makassar: Waspada Bahaya Resistensi Antimikroba Akibat Antibiotik
BBPOM Makassar gencar melakukan advokasi pengendalian Resistensi Antimikroba di Barru, Sulawesi Selatan, mengingat bahaya serius konsumsi antibiotik tanpa resep dokter yang dapat memicu "silent pandemic" ini.
Balai Besar Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Makassar baru-baru ini menginisiasi kegiatan advokasi penting terkait pengendalian Resistensi Antimikroba di Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan. Advokasi ini secara khusus menargetkan masyarakat yang memiliki riwayat konsumsi obat keras golongan antibiotik. Langkah proaktif ini diambil untuk meningkatkan kesadaran publik terhadap potensi bahaya penggunaan antibiotik yang tidak tepat.
Kepala BBPOM Makassar, Yosef Dwi Irwan, di Makassar pada Sabtu, menyatakan bahwa sebagian besar masyarakat sudah sangat familiar dan bahkan pernah mengonsumsi berbagai jenis antibiotik. Beberapa contoh yang disebutkan termasuk Amoxicillin, Ampicillin, Tetracycline, dan Levofloxacin. Penggunaan obat-obatan ini tanpa resep dokter atau tidak sesuai indikasi dapat memicu Resistensi Antimikroba (AMR) yang sangat berbahaya.
Kegiatan advokasi ini bertujuan untuk menyamakan persepsi, memperkuat koordinasi, serta menyusun strategi yang komprehensif dan berkelanjutan dalam upaya pengendalian Resistensi Antimikroba. Bertempat di Baruga Singkerruadae Rumah Jabatan Bupati Barru, acara ini dihadiri oleh sekitar 35 peserta dari berbagai instansi terkait. Peserta yang hadir meliputi perwakilan Dinas Kesehatan, Dinas Peternakan, Dinas Pertanian, Dinas Perikanan, RSUD Lapatarai, serta berbagai organisasi profesi seperti IDI, PDHI, IAI, PAFI, IBI, PPNI, dan akademisi.
Apa Itu Resistensi Antimikroba dan Dampaknya?
Resistensi Antimikroba (AMR) adalah kondisi serius ketika bakteri, virus, jamur, dan parasit mengalami perubahan seiring waktu, menyebabkan mereka tidak lagi merespons obat-obatan. Fenomena ini mengakibatkan infeksi menjadi semakin sulit untuk diobati, bahkan dengan obat-obatan yang sebelumnya efektif. Kondisi ini menjadi ancaman global bagi kesehatan masyarakat.
Dampak dari Resistensi Antimikroba sangat luas dan merugikan, meliputi peningkatan risiko penyebaran penyakit yang lebih parah. Selain itu, biaya pengobatan untuk infeksi yang resisten terhadap obat cenderung lebih tinggi karena memerlukan terapi yang lebih kompleks dan mahal. Dalam kasus terburuk, AMR dapat menyebabkan peningkatan angka kematian secara signifikan.
Yosef Dwi Irwan secara tegas mengingatkan masyarakat untuk selalu berhati-hati dalam mengonsumsi antibiotik. Penggunaan antibiotik harus selalu berdasarkan resep dan indikasi yang tepat dari dokter. Mengabaikan anjuran ini dapat mempercepat munculnya Resistensi Antimikroba, yang pada akhirnya akan merugikan diri sendiri dan masyarakat luas.
Ancaman Global dan Pemicu Utama Resistensi Antimikroba
Resistensi Antimikroba bukan hanya masalah lokal, melainkan permasalahan global yang disebut sebagai “silent pandemic” atau pandemi senyap yang membunuh dalam keheningan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan telah menetapkan Resistensi Antimikroba sebagai salah satu dari sepuluh ancaman terbesar bagi kesehatan masyarakat global. Hal ini menunjukkan betapa seriusnya isu ini di mata dunia.
Apabila tidak ada langkah pengendalian yang efektif dan segera diambil, diperkirakan angka kematian akibat Resistensi Antimikroba dapat mencapai 10 juta jiwa per tahun pada tahun 2050. Proyeksi ini menggarisbawahi urgensi untuk bertindak cepat dan terkoordinasi dalam memerangi ancaman ini. Ancaman ini memerlukan perhatian serius dari semua pihak, mulai dari pemerintah hingga individu.
Beberapa faktor utama yang memicu kejadian Resistensi Antimikroba adalah penggunaan antibiotik yang tidak rasional dan tidak sesuai ketentuan, baik pada manusia maupun hewan. Penyerahan antibiotik tanpa resep dokter juga menjadi kontributor signifikan. Selain itu, pembuangan sampah sisa antibiotik secara sembarangan turut memperparah masalah ini karena dapat mencemari lingkungan dan menyebarkan resistensi.
Pendekatan One Health dalam Mengatasi Resistensi Antimikroba
Pengendalian Resistensi Antimikroba memerlukan pendekatan yang holistik dan terintegrasi, yang dikenal sebagai One Health Approach atau pendekatan kesehatan terpadu. Pendekatan ini mengakui bahwa kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan saling terkait erat. Oleh karena itu, solusi untuk AMR harus melibatkan kerja sama lintas sektor yang kuat.
Yosef Dwi Irwan menjelaskan bahwa upaya pengendalian Resistensi Antimikroba harus melibatkan berbagai kementerian dan lembaga. Lembaga-lembaga tersebut antara lain Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Kementerian Pertanian (Kementan), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), dan Kementerian Lingkungan Hidup (KLHK). Kolaborasi ini penting untuk memastikan penanganan yang komprehensif.
Antibiotik tidak hanya digunakan untuk pengobatan pada manusia, tetapi juga pada produk ternak. Apabila penggunaannya tidak sesuai ketentuan, residu antibiotik dapat ditemukan dalam daging, telur, atau udang yang dibudidayakan. Jika produk-produk ini dikonsumsi oleh manusia, residu tersebut dapat memicu Resistensi Antimikroba, menambah kompleksitas masalah ini.
Sumber: AntaraNews