Sosok Berpakaian Hitam Diduga Penembak Jitu Lari Usai Tembak Leher Charlie Kirk
Sosok berpakaian hitam berbaring di atap gedung Losee Center, sekitar 150–200 meter dari lokasi Kirk berbicara di hadapan 3.000 orang.
Polisi Amerika Serikat tengah memburu seorang penembak jitu berpakaian hitam yang terlihat melarikan diri dari atap gedung sesaat setelah Charlie Kirk, influencer konservatif berusia 31 tahun, ditembak di leher ketika berpidato di Universitas Utah Valley, Selasa (9/9) waktu setempat.
Dikutip DailyMail, Rabu (11/9), rekaman video memperlihatkan sosok berpakaian hitam berbaring di atap gedung Losee Center, sekitar 150–200 meter dari lokasi Kirk berbicara di hadapan 3.000 orang.
Sesaat setelah Kirk roboh terkena peluru di bagian leher, sosok tersebut berdiri lalu berlari menyeberangi atap dan menghilang di tengah kepanikan massa.
Kirk, seorang komentator konservatif sekaligus ayah dua anak, tewas di hadapan istri dan kedua anaknya.
Menurut BBC, sang istri, Erika Frantzve, serta putra berusia tiga tahun dan putri 16 bulan yang ikut hadir di lokasi, selamat tanpa luka.
Perburuan Pelaku
Dua pria sempat ditahan di lokasi kejadian, salah satunya disebut sebagai “person of interest”, namun keduanya kemudian dibebaskan.
FBI kini bekerja sama dengan kepolisian lokal untuk memburu pelaku utama yang berhasil melarikan diri.
Gubernur Utah, Spencer Cox, menegaskan komitmen untuk menangkap penembak itu.
“Siapa pun yang melakukan ini, kami akan menemukan Anda, mengadili, dan menghukum dengan seberat-beratnya hukum,” katanya.
Minim Keamanan
Insiden ini menimbulkan sorotan tajam terhadap lemahnya pengamanan acara. Sejumlah saksi menyebut tidak ada pemeriksaan tiket, tas, maupun detektor logam di pintu masuk. Hanya enam petugas kampus yang disiagakan untuk mengamankan ribuan peserta.
“Saya kira akan ada pemeriksaan ketat saat masuk, tapi ternyata tidak ada sama sekali,” kata Tyler McGettigan, salah satu peserta kepada NBC News. Ia menambahkan tiket dengan barcode yang ia bawa bahkan tidak diperiksa.
Saksi lain, Justin Hickens, yang berada sekitar 20 meter dari lokasi penembakan, juga menegaskan minimnya pengamanan.
“Tidak ada metal detector,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan Raydon Dechene, yang menilai absennya pemeriksaan tas terasa janggal.
Kepala Kepolisian Universitas, Jeff Long, mengakui kelemahan pengamanan.
“Kami sudah berlatih untuk situasi seperti ini. Anda pikir semua sudah tertutup, tapi kenyataannya tidak. Hari ini, tragedi ini terjadi karena celah itu,” ucapnya.