Mojtaba Khamenei Akhirnya Muncul ke Publik, Ajak Masyarakat Iran Solid hingga Balas Dendam ke AS-Israel
Mojtaba menegaskan Iran tidak akan tinggal diam dan berjanji membalas kematian akibat serangan militer Amerika Serikat dan Israel.
Ayatollah Seyed Mojtaba Khamenei akhirnya muncul ke publik dengan melakukan pidato perdana usai terpilih menjadi pemimpin baru Revolusi Islam Iran. Dalam pidatonya pada Kamis (12/3) Waktu setempat, Mojtaba menegaskan Iran tidak akan tinggal diam dan berjanji membalas kematian akibat serangan militer Amerika Serikat dan Israel.
"Saya meyakinkan semua orang bahwa kami tidak akan mengabaikan pembalasan atas darah para martir Anda. Pembalasan yang kami maksud tidak hanya terkait dengan kesyahidan Pemimpin Besar Revolusi; setiap anggota bangsa yang gugur sebagai martir akibat serangan musuh merupakan kasus tersendiri dalam berkas pembalasan," kata Mojtaba dalam pesannya dikutip dari situs berita Tasnim News Agency yang berhubungan dekat dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Jumat (13/3).
Mojtaba memulai pidato perdananya dengan belasungkawa dan mendoakan para korban kebengisan Amerika Serikat dan Israel. Termasuk terhadap pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei yang tewas dalam serangan gabungan militer Amerika Serikat dan Israel di Teheran.
"Setiap ayat yang Kami hapus atau Kami jadikan dilupakan, Kami datangkan yang lebih baik darinya atau yang sebanding dengannya," kata Mojtaba yang juga putra Ali Khamenei.
Mojtaba juga menjelaskan posisinya saat ini sebagai pelayanan untuk warga Iran. Dia mengaku baru mengetahui terpilih sebagai pemimpin tertinggi Iran berdasarkan hasil pemungutan suara Majelis Ahli melalui siaran televisi Republik Islam.
"Bagi saya, duduk di kursi yang sebelumnya ditempati oleh dua pemimpin besar—Imam Khomeini dan syahid Ayatollah Khamenei—merupakan tugas yang sangat berat," ujar Mojtaba.
Bicara Sosok Ali Khamenei
Menurut dia, jabatan sebagai pemimpin tertinggi Iran merupakan warisan lebih dari 60 tahun berjuang di jalan tuhan, meninggalkan segala bentuk kenikmatan dan kenyamanan, hingga menjadi sosok yang bersinar dan tokoh besar, bukan hanya pada masa kini tetapi dalam sejarah para pemimpin negeri ini. Baik kehidupan maupun wafatnya terikat dengan kemuliaan dan kehormatan yang bersumber dari ketergantungan pada kebenaran.
"Saya berkesempatan melihat jasad beliau setelah kesyahidannya. Apa yang saya lihat adalah sebuah gunung keteguhan, dan saya mendengar bahwa tangan beliau yang masih sehat tetap tergenggam erat," kata Mojtaba seraya menggambarkan mengenai kondisi jenazah Ali Khamenei.
Untuk menjelaskan berbagai sisi kepribadian Ali Khamenei, menurut Mojtaba, para ahli tentu membutuhkan waktu panjang. Namun dia mengaku akan menyampaikannya secara singkat dan detailnya akan disampaikan pada waktu lebih tepat.
"Inilah sebabnya mengapa sangat sulit mengisi posisi kepemimpinan setelah sosok seperti beliau. Transisi ini hanya dapat terlaksana dengan pertolongan Tuhan Yang Maha Kuasa serta dukungan rakyat," ujar dia.
Selain itu, Mojtaba menegaskan bahwa salah satu kemampuan pemimpin syahid dan pendahulunya adalah melibatkan rakyat dalam semua bidang, memberikan wawasan dan kesadaran secara terus-menerus, serta dalam praktiknya bersandar pada kekuatan rakyat.
"Dengan cara ini, mereka mewujudkan makna sejati republik dan republikanisme," kata Mojtaba.
Menurut dia, ampak nyata dari hal tersebut terlihat dalam beberapa hari terakhir ketika negara berada tanpa Pemimpin dan tanpa Panglima Tertinggi. Kebijaksanaan dan kecerdasan bangsa Iran dalam peristiwa terbaru ini, keteguhan, keberanian, dan kehadiran mereka di lapangan telah memunculkan kekaguman dari para sahabat dan kebingungan bagi musuh.
"Andalah, rakyat, yang memimpin negara dan menjamin kewibawaannya," ujar dia.
Mojtaba mengaku ayat yang dikutip di awal tulisan ini menunjukkan bahwa tidak ada tanda ilahi yang dihapus atau dilupakan oleh Allah kecuali Dia menghadirkan yang serupa atau bahkan lebih baik.
"Tujuan saya mengutip ayat ini bukan untuk menyamakan diri dengan Pemimpin syahid, apalagi menganggap diri lebih unggul darinya. Tujuan sebenarnya adalah menyoroti peran besar bangsa tercinta Iran," kata Mojtaba.
"Jika karunia besar itu telah diambil dari kita, maka ia digantikan dengan kehadiran kembali bangsa Iran di panggung sejarah," imbuh dia.
"Ketahuilah bahwa jika kekuatan Anda tidak muncul di medan, maka kepemimpinan maupun berbagai lembaga negara tidak akan memiliki efektivitas yang diperlukan," kata dia.
Prinsip Harus Dijaga Bangsa Iran
Dia juga mengingatkan masyarakat untuk tetap menjaga prinsip bangsa Iran. Untuk mewujudkan hal ini dengan baik, Mojtaba mengatakan pertama mengingat Tuhan Yang Maha Esa, bertawakal kepada-Nya, dan memohon syafaat dari para maksum merupakan kunci kemenangan dan terobosan melawan musuh.
Kedua menjaga persatuan seluruh lapisan masyarakat, terutama dalam masa-masa sulit. Hal ini dapat dicapai dengan mengesampingkan perbedaan.
Ketiga, kehadiran efektif di berbagai bidang—sosial, politik, pendidikan, budaya, bahkan keamanan—harus terus dipertahankan.
"Saya juga menekankan pentingnya menghadiri aksi Hari Quds tahun 1447 Hijriah (Jumat, 13 Maret 2026), dengan fokus pada pesan mengalahkan musuh," ujar dia.
Keempat jangan berhenti saling membantu. Semangat solidaritas selalu menjadi ciri masyarakat Iran dan harus semakin kuat pada masa sulit seperti sekarang.
Pesan Kepada Para Pejuang
Tak lupa, Mojtaba juga menyampaikan terima kasih kepada para pejuang pemberani yang telah memblokir langkah musuh dengan serangan balasan yang menghancurkan, ketika tanah air diserang secara tidak adil oleh para pemimpin front kesombongan.
Menurut dia, ehendak rakyat adalah pertahanan yang terus berlanjut dan menghukum musuh. Penggunaan tuas penutupan Selat Hormuz juga harus terus dipertahankan.
Selain itu, Mojtaba menegaskan pertimbangan telah dilakukan untuk membuka front baru yang belum berpengalaman bagi musuh dan akan sangat rentan terhadap serangan.
Dukungan untuk Front Perlawanan
"Kami juga berterima kasih kepada para pejuang Front Perlawanan," kata Mojtaba.
"Kami menganggap negara-negara dalam front ini sebagai sahabat terbaik. Sebab perjuangan perlawanan adalah bagian tak terpisahkan dari nilai-nilai Revolusi Islam," imbuh dia.
Mojtaba mengatakan pemerintah Iran telah melihat bagaimana Yaman dengan berani membela rakyat Gaza, Hezbollah tetap membantu Republik Islam meskipun menghadapi banyak hambatan, dan perlawanan Irak mengikuti jalur yang sama.
Pesan kepada Korban Perang
Mojtaba juga menyampaikan simpati mendalam terhadap keluarga korban meninggal dunia, para korban luka, serta mereka yang rumah atau usahanya rusak akibat serangan militer AS-Israel.
Mojtaba memastikan para korban luka mendapatkan layanan medis gratis. Serta kerugian materi masyarakat akan diganti pemerintah Iran dengan melihat kondisi kerusakan.
Janji Pembalasan Iran
“Saya meyakinkan semua orang bahwa kami tidak akan mengabaikan pembalasan atas darah para martir Anda," kata Mojtaba.
Pembalasan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kesyahidan Pemimpin Revolusi, tetapi setiap warga negara yang gugur sebagai martir oleh musuh merupakan kasus tersendiri dalam berkas pembalasan.”
Sebagian pembalasan telah terjadi, tetapi hingga pembalasan sepenuhnya tercapai, berkas ini akan tetap menjadi prioritas utama.
Pesan kepada Negara-Negara di Kawasan Teluk
Iran berbatasan darat atau laut dengan 15 negara dan selalu siap menjalin hubungan yang hangat dan konstruktif. Namun musuh telah membangun pangkalan militer dan finansial di beberapa negara tersebut untuk mendominasi kawasan.
Jika pangkalan tersebut digunakan untuk menyerang Iran, maka Iran akan terus menargetkan pangkalan tersebut tanpa menyerang negara tuan rumah.
"Kami tetap percaya pada pentingnya hubungan persahabatan dengan negara-negara tetangga," ujar Mojtaba.
Sebagai penutup pidatonya, Mojtaba berharap Tuhan menyertai seluruh rakyat Iran, umat Muslim, dan orang-orang tertindas di dunia selama hari-hari suci bulan Ramadan.
"Saya juga memohon agar bangsa kita diberikan kemenangan yang menentukan atas musuh, serta kehormatan, kesejahteraan, dan kemakmuran," pungkas Mojtaba.