Mengenal Tradisi Pergantian Nama Paus yang Baru Terpilih, Ternyata Ini Sejarahnya
Tradisi pergantian nama Pauskaya makna dan simbolisme.
Setelah wafatnya Paus Fransiskus, pertanyaan mengenai siapa penerusnya dan alasan di balik tradisi pergantian nama Paus menjadi sorotan dunia. Peristiwa bersejarah ini terjadi di Vatikan, pusat Gereja Katolik Roma, setiap kali seorang Paus baru dipilih. Tradisi unik ini, yang telah berlangsung selama berabad-abad, menyimpan misteri dan makna mendalam yang menarik untuk diungkap.
Tradisi pergantian nama bukanlah keharusan hukum kanon Gereja Katolik. Namun, praktik ini dimulai sejak abad pertengahan, dengan Paus Yohanes II (nama asli Mercurius) pada abad ke-6 sebagai pelopornya. Ia mengganti namanya karena nama aslinya dianggap terlalu mirip dengan dewa Romawi. Alasan lain meliputi menghindari nama dengan konotasi negatif atau terkait dewa-dewa pagan, memberikan penghormatan kepada santo pelindung atau Paus terdahulu, dan menciptakan kontinuitas sejarah serta adaptasi bagi Paus non-Italia.
Pemilihan nama baru oleh Paus seringkali sarat makna dan simbolisme. Nama yang dipilih dapat menjadi penghormatan kepada santo pelindung, tokoh reformis, atau Paus terdahulu yang inspiratif.
Paus Fransiskus, misalnya, memilih nama Santo Fransiskus dari Assisi, yang dikenal karena cinta damai dan kepedulian terhadap kaum miskin, mencerminkan komitmennya terhadap isu-isu tersebut. Memilih nama Paus terdahulu yang sukses juga dapat menunjukkan keinginan untuk melanjutkan warisan dan jejak langkah mereka.
Dilansir CNN, tradisi mengganti nama ini, meski tidak tertulis dalam doktrin Gereja Katolik, sudah berlangsung sejak Abad Pertengahan. Paus pertama yang memulai kebiasaan ini adalah Yohanes II, yang menjabat pada tahun 533-535. Nama asli beliau adalah Mercurius, yang dianggap terlalu mirip dengan dewa pagan Romawi, sehingga ia menggantinya untuk menghormati nilai-nilai kekristenan. Paus berikutnya yang mengubah namanya adalah Peter Canepanova pada abad ke-10, yang menjadi John XIV agar tidak dipanggil Peter II.
Seiring waktu, praktik ini menjadi kebiasaan, terutama bagi Paus dari luar Italia yang ingin menyesuaikan diri dengan konteks Gereja Katolik yang lebih luas. Paus terakhir yang menggunakan nama aslinya adalah Adrianus VI pada tahun 1522. Nama kerajaan sering dipilih dengan tujuan tertentu, dan hanya sedikit Paus yang mempertahankan nama baptis mereka.
Setiap nama Paus membawa sejarah dan asosiasi tersendiri. Nama tersebut bisa menjadi penghormatan terhadap santo pelindung, tokoh reformis, atau paus terdahulu yang dianggap inspiratif. Paus Benediktus XVI, misalnya, memilih nama tersebut sebagai bentuk penghormatan terhadap Santo Benediktus dan Paus Benediktus XV, simbol perdamaian dan rekonsiliasi di tengah Perang Dunia I.