Alasan Kardinal Robert Francis Prevost Pilih Nama Paus Leo XIV, Ini Penjelasannya
Asap putih yang mengepul dari cerobong Kapel Sistine di Vatikan pada Kamis (8/5) pukul 18.07 menandakan Paus baru telah terpilih.
Kardinal Robert Francis Prevost terpilih sebagai Paus di hari kedua proses konklaf di Kapel Sistine, Vatikan, pada Kamis (8/5). Kardinal asal Amerika Serikat ini memilih nama Paus Leo XIV.
Paus Leo XIV menggantikan pendahulunya, Paus Fransiskus yang meninggal pada 21 April lalu karena sakit. Pria berusia 69 tahun ini merupakan Paus pertama dari AS dan kedua dari luar Eropa setelah Paus Fransiskus.
Keputusannya untuk menggunakan nama "Leo" menempatkannya dalam garis keturunan yang dikaitkan dengan kepemimpinan yang kuat, seperti dikutip dari laman Newsweek, Jumat (9/5).
Nama "Leo" berasal dari Paus Leo yang Agung, yang menjabat dari tahun 440 hingga 461. Menurut Brittanica, Paus Leo yang Agung membujuk bangsa Hun untuk tidak menyerang Roma.
Pemilihan "Leo" sebagai nama kepausan memiliki pengaruh yang kuat secara historis: Nama tersebut telah diadopsi oleh 14 paus.
Paus terakhir sebelum Prevost adalah Paus Leo XIII, yang memimpin gereja dari tahun 1878 hingga 1903. Ia memiliki masa pemerintahan terlama keempat dari semua Paus dan menghasilkan ensiklik Rerum Novarum.
Simbolisme nama tersebut bisa jadi merupakan penghormatan kepada Santo Leo Agung, seorang Paus awal yang berpengaruh secara doktrinal.
Meskipun Prevost belum secara eksplisit mengonfirmasi alasannya untuk nama tersebut, garis keturunan yang diikutinya meliputi Leo III, yang menobatkan Charlemagne sebagai Kaisar Romawi Suci pada tahun 800, dan Leo X, yang mengucilkan Martin Luther pada tahun 1821.