Ketika Kardinal Robert Prevost muncul di balkon Basilika Santo Petrus dan memperkenalkan dirinya kepada dunia sebagai Paus Leo XIV, banyak orang bertanya-tanya: Mengapa Paus harus mengganti nama? Dan apa makna di balik nama yang dipilih?
Tradisi ini bukan sekadar simbolik. Pergantian nama paus sarat makna historis, teologis, dan pesan moral yang ingin disampaikan kepada umat Katolik di seluruh dunia. Artikel ini akan mengulas asal-usul tradisi tersebut, alasan di balik pilihan nama, serta makna mendalam di balik nama Leo XIV yang baru saja diambil oleh paus pertama asal Amerika Serikat.
Advertisement
Tradisi mengganti nama dimulai sejak masa awal kekristenan. Santo Petrus, paus pertama, aslinya bernama Simon. Namun Yesus sendiri mengganti namanya menjadi Petros (batu karang), menandakan perannya sebagai fondasi Gereja.
Namun, praktik paus mengganti nama secara formal baru dimulai berabad-abad kemudian. Paus pertama yang secara resmi mengganti namanya setelah terpilih adalah Paus Yohanes II pada tahun 533 M. Nama lahirnya adalah Mercurius, merujuk pada dewa Romawi Mercury. Ia merasa nama pagan tersebut tidak pantas untuk pemimpin Gereja Kristiani. Maka ia memilih nama Yohanes, dan sejak saat itu, pergantian nama menjadi tradisi tetap dalam proses pemilihan paus.
Advertisement
Mengganti nama adalah tindakan simbolis yang melambangkan kelahiran kembali secara spiritual. Seorang paus bukan lagi pribadi seperti sebelumnya; ia kini menjadi pemimpin rohani bagi lebih dari 1,4 miliar umat Katolik di seluruh dunia. Nama baru itu mencerminkan visi, nilai, dan arah yang ingin diambil selama masa kepemimpinannya.
Menurut Liam Temple dari Durham University, pilihan nama paus juga bisa menjadi sinyal politik dan teologis. “Nama-nama sebelumnya yang diasosiasikan dengan krisis besar, reformasi gereja, atau popularitas luar biasa sering dipilih untuk memberi pesan kesinambungan atau semangat baru,” ujar Temple seperti dikutip dari CNN.
Advertisement
Paus Fransiskus (Jorge Mario Bergoglio) adalah contoh yang sangat mencolok. Ia memilih nama Fransiskus untuk menghormati Santo Fransiskus dari Assisi, seorang tokoh penting dalam sejarah Gereja yang dikenal karena cintanya pada perdamaian, kemiskinan, dan alam.
Sementara itu, Paus Benediktus XVI (Joseph Ratzinger) memilih nama Benediktus sebagai bentuk penghormatan kepada Santo Benediktus, pelindung Eropa dan pendiri Ordo Benediktin, serta kepada Paus Benediktus XV, yang dikenal sebagai pelopor perdamaian saat Perang Dunia I. Nama ini menyampaikan pesan perdamaian dan stabilitas di tengah gejolak zaman.
Advertisement
Hingga saat ini, Paus Leo XIV belum secara resmi menjelaskan alasan pemilihan nama tersebut. Namun pengamat menyebut kemungkinan besar ia terinspirasi oleh Paus Leo XIII (1878–1903), paus asal Italia yang dikenal sebagai pemikir modern dan pelopor dialog antara Gereja dan dunia kontemporer. Leo XIII adalah paus keempat dengan masa jabatan terlama dalam sejarah.
Nama Leo membawa konotasi kekuatan intelektual, keterbukaan terhadap modernitas, dan semangat membangun jembatan di tengah perbedaan. Dalam pidato pertamanya dari balkon Basilika Santo Petrus, Paus Leo XIV menyampaikan pesan damai:
“Kepada semua orang di mana pun mereka berada, kepada seluruh bumi, damai besertamu.”
Ia menambahkan ajakan untuk membangun dialog dan persatuan:
“Mari kita bangun jembatan melalui dialog, melalui perjumpaan, untuk bersatu sebagai satu umat, selalu dalam damai.”
Pidatonya, yang diselingi dengan bahasa Spanyol dan penghormatan hangat kepada mendiang Paus Fransiskus, menunjukkan bahwa Leo XIV ingin meneruskan semangat kasih dan reformasi yang ditinggalkan pendahulunya.
Advertisement
Meskipun tidak ada larangan resmi dalam doktrin Gereja, satu nama yang tidak akan pernah dipakai lagi adalah Petrus (Peter). Nama ini dikhususkan bagi paus pertama dan dianggap terlalu sakral untuk diulang. Selain itu, ada keyakinan dalam beberapa nubuatan abad pertengahan bahwa Petrus II akan menjadi paus terakhir sebelum akhir zaman.
Beberapa nama lainnya juga jarang dipilih kembali karena asosiasi negatif atau karena belum cukup waktu berlalu dari masa jabatan sebelumnya. Sebagai contoh, kecil kemungkinan paus berikutnya akan mengambil nama Fransiskus II dalam waktu dekat karena nama itu masih sangat lekat dengan figur populer Paus Fransiskus.
Advertisement
Pemilihan nama biasanya dilakukan segera setelah paus baru terpilih oleh konklaf kardinal. Nama tersebut diumumkan dalam bahasa Latin saat pengumuman "Habemus Papam" dari balkon Basilika Santo Petrus.
Nama baru itu akan menjadi identitas utama sepanjang masa kepemimpinannya. Maka tidak heran, pilihan ini sangat dipertimbangkan dengan matang, karena akan membentuk persepsi publik dan arah kepausan selama bertahun-tahun.
Advertisement
Nama seorang paus bukan sekadar identitas; ia adalah simbol harapan, warisan spiritual, dan penanda arah Gereja di masa depan. Dalam kasus Paus Leo XIV, nama itu bisa dibaca sebagai sinyal untuk melanjutkan tradisi intelektual, keterbukaan terhadap zaman, dan membangun jembatan di tengah perpecahan dunia modern.
Sebagaimana yang disampaikan dalam pidatonya: “Kita harus menjadi Gereja yang misioner, Gereja yang membangun jembatan, yang berdialog, yang selalu terbuka.”
Dengan nama baru itu, seorang paus memulai perjalanan barunya bukan sebagai individu, tetapi sebagai gembala dunia yang membawa cahaya iman ke dalam dunia yang penuh tantangan.