Jika Asteroid Tidak Menghantam Bumi, Apakah Dinosaurus Masih Bisa Hidup Hingga Kini? Ini Kata Ilmuwan
Asteroid menghantam Bumi 66 juta tahun lalu, menyebabkan punahnya dinosaurus.
Hasil penelitian terbaru mengungkapkan, dinosaurus mungkin masih ada dan menjelajahi planet Bumi jika asteroid besar tidak menghantam Bumi 66 juta tahun lalu. Menurut para peneliti, kepunahan itu terjadi secara tiba-tiba dan bukan terjadi secara perlahan akibat memburuknya kondisi Bumi pada Zaman Kapur.
Penemuan baru ini menantang teori sebelumnya yang menyatakan dinosaurus spesies itu memang hampir punah dan berjuang bertahan hidup sebelum terkena dampak hantaman asteroid, seperti dikutip dari Greek Reporter, Selasa (15/4).
Penelitian baru, yang diterbitkan Senin di Current Biology, menunjukkan bahwa teori tersebut mungkin dibangun di atas bukti yang salah. Peneliti dari University College London menganalisis hampir 8.000 fosil dinosaurus dari Amerika Utara, dengan fokus pada dua rentang waktu utama: Campanian (84 hingga 72 juta tahun lalu) dan Maastrichtian (72 hingga 66 juta tahun lalu).
Tim tersebut mempelajari empat kelompok dinosaurus utama, termasuk spesies bertanduk, berlapis baja, berparuh bebek, dan karnivora besar.
Meskipun catatan fosil menunjukkan penurunan keanekaragaman hayati selama 6 juta tahun terakhir sebelum dampak asteroid, para ilmuwan tidak menemukan perubahan lingkungan yang jelas yang dapat menjelaskan penurunan tersebut. Sebaliknya, mereka mengatakan bahwa data tersebut kemungkinan mencerminkan kesenjangan dalam pelestarian dan aksesibilitas fosil, bukan penurunan populasi dinosaurus yang sebenarnya.
"Ini telah menjadi bahan perdebatan selama lebih dari 30 tahun—apakah dinosaurus sudah punah dan sudah hampir punah sebelum asteroid menghantam?" kata Chris Dean, penulis utama penelitian dan paleontologi di University College London.
Dean melanjutkan, temuan tersebut menunjukkan bahwa hewan purba itu baik-baik saja hingga asteroid menghantam Bumi.
Pergeseran Geologis
Studi ini menyoroti beberapa pergeseran geologis yang mungkin telah mengganggu pembentukan fosil. Sekitar 75 juta tahun yang lalu, Selat Pedalaman Barat—laut pedalaman luas yang pernah membelah Amerika Utara—mulai surut. Bersamaan dengan itu, Pegunungan Rocky mulai meninggi. Perubahan ini kemungkinan mengganggu kondisi yang dibutuhkan untuk fosilisasi, khususnya di wilayah tempat banyak spesies dinosaurus pernah berkeliaran.
Selain itu, lapisan batuan dari periode Maastricht sering terkubur di bawah vegetasi sehingga membuat pemulihan fosil menjadi lebih sulit. Karena setengah dari fosil yang diketahui dari masa ini berasal dari Amerika Utara, temuan tersebut dapat memiliki implikasi global.
Di antara fosil yang diteliti, dinosaurus bertanduk seperti Triceratops—dikenal sebagai Ceratopsia—adalah yang paling sering diawetkan. Spesies ini hidup di dataran terbuka, yang lebih cocok untuk fosilisasi. Sebaliknya, dinosaurus berparuh bebek, atau Hadrosauria, lebih menyukai tepian sungai. Berkurangnya aliran sungai selama masa ini mungkin telah membatasi penumpukan sedimen, sehingga membuat pelestarian fosil menjadi agak mustahil.
"Dinosaurus mungkin tidak ditakdirkan punah pada akhir Mesozoikum (252 juta hingga 66 juta tahun lalu)," kata salah satu penulis studi, Alfio Alessandro Chiarenza.
"Jika bukan karena asteroid itu, mereka mungkin masih berbagi planet ini dengan mamalia, kadal, dan keturunan mereka yang masih hidup: burung."