Berdasarkan hasil penelitian terbaru dari fosil tulang manusia purba dari Afrika selatan, para peneliti menemukan nenek moyang manusia ini terbiasa memanjat pohon dan menggunakan perkakas batu saat melakukan pekerjaan sehari-hari.
Para ilmuwan menelisit spesies Australopithecus sediba dari sekitar 2 juta tahun lalu dan Homo naledi dari sekitar 300.000 tahun lalu.
Ahli paleoantropologi dan salah satu penulis penelitian, Samar Syeda dari Museum Sejarah Alam Amerika (AMNH) menjelaskan, pengukuran kerangka menunjukkan jari-jari manusia purba tersebut pernah berada di bawah berbagai tekanan akibat memanjat dan gerakan lainnya.
Mereka menemukan, tulang manusia purba menebal di area yang terkait dengan cengkeraman kuat, yang menunjukkan saat-saat yang dihabiskan untuk bergantung pada dahan pohon atau menopang berat tubuh.
Mereka menggunakan pemindaian 3D canggih untuk menilai bagaimana bagian-bagian yang berbeda dari setiap jari merespons tekanan, dan hasilnya menunjukkan tekanan berulang dari memanjat.
"Mereka mungkin berjalan dengan dua kaki dan menggunakan tangan mereka untuk memanipulasi benda atau alat, tetapi juga menghabiskan waktu memanjat dan bergantung, mungkin di pohon atau tebing," jelas Syeda, dikutip dari laman Earth, Selasa (10/6).
Para ilmuwan juga menggambarkan bentuk lengkung pada tulang-tulang jari tertentu. Lengkungan tersebut umumnya dikaitkan dengan fungsi menyangga tubuh saat bergerak ke atas, yang mengisyaratkan kebiasaan yang tidak hanya tentang berjalan atau berlari.
Para peneliti juga mengamati bagaimana ibu jari dan jari kelingking mungkin berperan dalam pegangan yang berhubungan dengan alat. Mereka menemukan tanda-tanda penebalan tulang di tempat-tempat yang membantu menekan atau mencengkeram batu, yang memperkuat gagasan bahwa spesies ini tidak hanya mengamati pohon untuk mencari buah. Manusia purba menemukan cara untuk terus memanjat sambil juga mulai membentuk atau memegang batu.
Para ilmuwan mengatakan, tulang tebal di sepanjang ibu jari H. naledi dapat membantu menjepit atau menekan benda dengan kuat. Sementara itu, pengamatan pada A. sediba ditemukan pola serupa pada jari kelima, meskipun kurang kuat atau tebal. Perbedaan ini diduga karena individu tersebut mungkin mengadopsi pendekatan terpisah untuk tugas sehari-hari.
Kemungkinan besar, bekerja dengan batu, baik untuk memotong atau memecahkan makanan, membentuk bagaimana jari-jari ini berkembang secara internal.
Advertisement
Dalam konteks modern, pemanjat sering kali menghasilkan tekanan tinggi pada telapak tangan dan jari tengah, yang menyebabkan tulang lebih tebal di tempat-tempat tersebut.
Struktur internal jari-jari pada A. sediba dan H. naledi menunjukkan spesies yang berbeda mungkin memiliki strategi sendiri saat menggunakan tangan mereka. Meskipun keduanya masih memanjat, gaya mencengkeram dan kekuatan penggunaan alat mereka tidak identik. Perbedaan itu menantang gagasan tentang satu jalur menuju ketangkasan manusia modern.
Para peneliti evolusi tangan tergantung pada lingkungan dan perilaku. Beberapa spesies memprioritaskan kekuatan untuk memanjat, sementara yang lain lebih condong ke presisi bertenaga ibu jari. Keragaman ini menunjukkan manusia purba beradaptasi dengan cara yang lebih fleksibel daripada yang diperkirakan sebelumnya.
Studi ini diterbitkan dalam jurnal Science Advances.