Irak Temukan Kuburan Massal Diduga Berisi 4.000 Jenazah Korban Kekejaman ISIS
Penggalian kuburan massal ini melibatkan kolaborasi antara pemerintah daerah dan para ahli forensik untuk memastikan proses yang tepat.
Pemerintah Irak mulai melakukan penggalian di sebuah lokasi yang diyakini sebagai salah satu kuburan massal terbesar yang ditinggalkan oleh kelompok ISIS. Kuburan ini diduga menyimpan ribuan korban dari pembantaian yang dilakukan oleh kelompok ekstremis tersebut saat mereka menguasai sebagian besar wilayah Irak pada tahun 2014, sebelum akhirnya mereka dikalahkan tiga tahun kemudian.
Penggalian itu berlangsung di kawasan al-Khafsa, yang terletak sekitar 20 kilometer sebelah selatan Mosul, kota terbesar kedua di Irak. Proses ini melibatkan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, lembaga peradilan, tim forensik, Yayasan Syuhada Irak, serta direktorat khusus yang menangani kuburan massal, seperti yang dilaporkan oleh Kantor Berita Pemerintah Irak pada hari Minggu (17/8/2025).
Al-Khafsa sendiri adalah sebuah lubang runtuhan dengan kedalaman sekitar 150 meter dan lebar lebih dari 100 meter. Para penyelidik meyakini bahwa lokasi ini menjadi saksi bisu dari salah satu pembantaian paling mengerikan yang dilakukan oleh ISIS, sebagaimana dikutip dari laman Al Jazeera pada hari Senin (18/8).
"Kami mulai bekerja pada 9 Agustus atas permintaan pemerintah Provinsi Nineveh," ungkap Ahmad Qusay al-Asady, kepala departemen penggalian kuburan massal di Yayasan Syuhada, kepada Associated Press. Pada tahap awal, tim hanya akan mengumpulkan sisa-sisa jenazah yang terlihat di permukaan serta bukti-bukti lain yang mungkin ditemukan. Ekshumasi penuh, atau penggalian menyeluruh, baru dapat dilakukan setelah Irak memperoleh dukungan internasional.
Menurut al-Asady, dukungan tersebut sangat diperlukan karena lokasi tersebut dipenuhi dengan air belerang dan persenjataan yang belum meledak. Kondisi air yang menggenang juga dikhawatirkan dapat mempercepat kerusakan jenazah, sehingga menyulitkan proses identifikasi DNA. "Al-Khafsa adalah situs yang sangat rumit," ujarnya.
Pemerintah memperkirakan bahwa kuburan massal ini menyimpan sedikitnya 4.000 jenazah, meskipun jumlah pastinya bisa jadi lebih banyak. Sekitar 70 persen dari jasad yang diduga terkubur di sana diyakini merupakan anggota tentara dan polisi Irak, sementara sisanya adalah warga sipil, termasuk anggota komunitas Yazidi yang menjadi target kekejaman ISIS.
Sejumlah saksi melaporkan bahwa para pejuang ISIS sering kali menggunakan bus untuk membawa tahanan ke lokasi eksekusi. "Banyak dari mereka dipenggal," ungkap al-Asady. Menurut Rabah Nouri Attiyah, seorang pengacara yang menangani lebih dari 70 kasus orang hilang di Nineveh, al-Khafsa kemungkinan merupakan "kuburan massal terbesar dalam sejarah modern Irak." Pada masa kejayaannya, ISIS menguasai wilayah yang luasnya setara dengan setengah Britania Raya di Irak dan Suriah, dengan Raqqa sebagai pusatnya, dan dikenal karena kekejaman yang sangat brutal. Pada tahun 2014, kelompok ini membantai ribuan warga Yazidi dan memperbudak banyak perempuan mereka di Sinjar, Irak utara. Hingga saat ini, komunitas Yazidi masih berjuang untuk pulih dari trauma mendalam akibat tragedi tersebut.
Selain penggalian yang dilakukan di al-Khafsa, pihak berwenang Irak juga terus mengungkap kuburan massal dari era pemerintahan Saddam Hussein, yang merupakan diktator yang digulingkan melalui invasi yang dipimpin oleh AS pada tahun 2003. Penggalian ini mencerminkan upaya untuk mengungkap kebenaran dan memberikan keadilan bagi para korban yang hilang. Proses ini diharapkan dapat membantu keluarga korban menemukan penutupan atas kehilangan yang mereka alami dan mengingat kembali sejarah kelam yang terjadi di negara tersebut.