Ilmuwan Temukan Fosil Kanguru Raksasa Berusia 50.000 Tahun, Ternyata Dahulu Bukan Melompat
Fosil Simosthenurus occidentalis, kanguru berwajah pendek raksasa berusia 50.000 tahun ditemukan di Gua Nightshade, Victoria, Australia.
Penemuan paleontologi yang luar biasa muncul dari Gua Nightshade di Victoria Timur, Australia, tempat peneliti menemukan kerangka kanguru raksasa berwajah pendek yang memiliki nama ilmiah Simosthenerus occidentis berusia 50.000 tahun.
Temuan ini memberikan wawasan yang belum pernah ada sebelumnya tentang megafauna Australia yang punah pada Zaman Pleistosen. Temuan ini diumumkan oleh Museums Victoria Research Institute.
Spesies tersebut merupakan jenis yang termasuk pada kelompok kanguru berwajah pendek yang kini telah punah, dikenal sebagai Sthenurinae. Hewan ini memiliki garis keturunan yang beradaptasi secara unik terhadap lingkungan Australia yang terus berubah.
Rahangnya kuat
Kanguru ini memiliki moncong yang lebar dan dalam, serta rahang yang kuat, sehingga membuatnya tampak berbeda dari spesies kanguru modern.
Dr. Tim Ziegler, manajer koleksi di museum tersebut mengatakan, “Kanguru berwajah pendek (sthenurine) muncul dalam catatan fosil Australia dari 10 hingga 15 tahun yang lalu, ketika hutan hujan yang luas mulai berganti menjadi habitat yang lebih kering,” kata Dr. Tim Ziegler, manajer koleksi di museum tersebut, seperti dilansir Indian Defence Review.
“Mereka (kanguru) menjadi sangat beragam selama masa peralihan menuju iklim kering di akhir Zaman Pleistosen, sekitar 500.000 tahun lalu.”
Namun, masa kejayaan hewan yang menakjubkan ini berakhir.
Kerangka Utuh dan Lengkap
“Dalam gelombang kepunahan sekitar 45.000 tahun yang lalu, mereka lenyap dari seluruh benua, bersama dengan 85 persen megafauna Australia,” kata Dr. Ziegler.
Peristiwa kepunahan yang terjadi secara cepat ini secara drastis mengubah lanskap Australia, serta menghapus beragam spesies purba.
Spesimen Simosthenurus occidentalis yang baru ditemukan ini luar biasa lengkapnya. Tidak hanya tengkoraknya yang ditemukan dalam keadaan utuh, tetapi bagian kerangka lainnya, termasuk ruas tulang belakang, bahu, pinggul, tungkai, dan tulang rusuk yang sempit, terawetkan dalam susunan anatomi yang hampir sempurna.
Dr. Ziegler menggambarkan momen penemuannya: “Tengkorak itu memiliki moncong yang dalam, dengan rahang dan gigi yang kuat, ciri khas kanguru berwajah pendek,” jelas dia.
“Di belakangnya ada lebih banyak tulang-tulang lainnya. Sungguh menakjubkan melihat tulang belakang, bahu dan pinggul, anggota badan, serta rongga dada yang ramping. Banyak dari tulang- tulang itu sama sekali tidak rusak dan masih dalam posisi aslinya.”
Pelestarian murni seperti itu sangat langka, terutama di situs fosil Australia, di mana kerangka yang terisolasi lebih umum ditemukan daripada kerangka lengkap.
Berjalan, Bukan Melompat
Tidak seperti kanguru modern yang sangat bergantung pada lompatan untuk mobilitas, bukti menunjukkan bahwa kanguru purba ini diduga berjalan tegak dan berjalan melangkah. Tulang belakang yang hampir lengkap yang ditemukan dari spesimen muda memberikan petunjuk berharga.
Struktur tulang belakang dan pinggulnya mengisyaratkan gerakan tegak yang kuat, sangat berbeda dari gerakan melompat yang terlihat pada kanguru masa kini.
Analisis yang sedang berlangsung oleh tim Museum Victoria bertujuan untuk menentukan apakah raksasa yang telah punah ini secara unik beradaptasi untuk berjalan lebih seperti manusia purba daripada sepupu marsupial modern mereka.
Reporter Magang: Devina Faliza Rey