Fosil Utuh Gajah Purba Stegodon Ditemukan di Nganjuk, Diperkirakan Berusia 800 Ribu Tahun.
Penemuan fosil Stegodon di Nganjuk dianggap sebagai salah satu penemuan fosil gajah purba yang paling utuh di wilayah Jawa Timur.
Tim Ekskavasi dari Museum Geologi Bandung berhasil menemukan fosil gajah purba Stegodon trigonocephalus yang paling lengkap di Hutan Tritik, Rejoso, Nganjuk, Jawa Timur. Fosil ini diperkirakan berusia sekitar 800 ribu tahun.
"Fosil Stegodon ini ditemukan masih dalam posisi anatominya di dalam lapisan Formasi Kabuh. Identifikasi jenis Stegodon trigonocephalus didasarkan pada gigi yang masih menempel pada rahangnya dan karakter gading yang ditemukan," ungkap Unggul Prasetyo, Ketua Tim Ekskavasi Museum Geologi Bandung, dalam keterangan tertulisnya kepada Liputan6, Bandung, Senin (20/10/2025).
Unggul menjelaskan bahwa proses ekskavasi dimulai pada tanggal 14 Oktober 2025, melibatkan sembilan orang dari Badan Geologi Bandung yang bekerja sama dengan Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporabudpar) Kabupaten Nganjuk, serta didukung oleh komunitas dan masyarakat setempat. Target dari kegiatan ekskavasi ini adalah selama 10 hari, dan semua fosil yang berhasil diangkat akan dikirim ke Badan Geologi Bandung untuk proses konservasi dan rekonstruksi.
"Kegiatan ekskavasi masih berlangsung, sampai sekarang sudah ditemukan 1 gading utuh sepanjang 2.5m, rusuk, kaki depan, kaki belakang, rahang bawah, tulang belikat, tulang pinggul, ruas tulang leher, tulang punggung, tulang ekor, dan jari-jarinya," jelas Unggul.
Penemuan Stegodon di Nganjuk ini dianggap sebagai salah satu temuan fosil gajah purba yang paling lengkap di Jawa Timur. Selain memiliki nilai ilmiah yang tinggi, penemuan ini juga menegaskan potensi Hutan Tritik sebagai kawasan geologi yang penting dan aset penelitian prasejarah di Pulau Jawa.
Paleontologi memiliki sejarah yang panjang di Indonesia
Menurut informasi yang diperoleh dari Museum Geologi Bandung, penelitian paleontologi di Indonesia pada awal kedatangan Belanda di abad ke-17 dan 18 masih sangat terbatas. Hal ini disebabkan oleh kondisi alam di pedalaman yang sebagian besar tertutupi hutan tropis, sehingga menyulitkan eksplorasi.
Selain itu, pada masa itu belum ada ahli geologi yang khusus, karena disiplin ini tergolong baru. Informasi mengenai sejarah alam, batuan, fosil, logam, dan mineralogi pada saat itu diperoleh dari para naturalis awal yang menggabungkan berbagai bidang ilmu. Mereka tidak hanya melaporkan aspek geologi, tetapi juga tentang vegetasi serta fauna yang ada di wilayah tersebut.
Georg Eberhard Rumpf, yang lebih dikenal sebagai Rumphius (1627-1702), adalah seorang naturalis terkemuka dan pegawai di perusahaan dagang Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Ia dikenal sebagai "si buta yang melihat dari Ambon" dan merupakan orang Eropa pertama yang mempelopori penelitian geologis serta fosil di Nusantara.
Meskipun demikian, interpretasi geologi yang dihasilkan Rumphius masih dianggap kurang memadai, karena disiplin geologi baru berkembang sekitar setengah abad setelah ia meninggal. Rumphius memulai petualangan ilmiahnya di Nusantara pada paruh kedua abad ke-17 dan menghabiskan sebagian besar hidupnya di Ambon hingga wafat pada tahun 1702.
Selama bertahun-tahun, Rumphius dengan tekun mengumpulkan berbagai temuan yang berharga untuk ilmu kebumian dan sejarah alam. Namun, ia juga mengalami banyak kesulitan, seperti kehilangan koleksi dan naskah penelitian akibat kebakaran di Kota Ambon.
Selain itu, kapal yang membawa naskahnya ke Belanda mengalami kecelakaan di tengah perjalanan. Bencana gempa bumi juga merenggut nyawa istri dan salah satu anak perempuannya, ditambah lagi dengan kebutaan yang dideritanya. Akibat semua ini, Rumphius tidak dapat lagi membuat sketsa dari koleksi yang ia teliti.
Beruntungnya, VOC memberikan dukungan dengan mengirimkan juru tulis dan ilustrator untuk membantu Rumphius menyelesaikan naskah-naskahnya. Namun, semua karya yang dihasilkan Rumphius baru dipublikasikan bertahun-tahun setelah ia meninggal dunia. Sehingga, meskipun banyak tantangan yang dihadapi, kontribusi Rumphius terhadap ilmu pengetahuan tetap diakui dan dihargai.
Fosil fauna laut
D'Amboinsche Rariteitkamer yang diterbitkan pada tahun 1705 membahas berbagai aspek seperti botani, mineralogi, dan geologi. Rumphius diakui sebagai penemu endapan mesozoikum di kawasan Nusantara, sehingga pengamatannya terhadap fosil dapat dianggap cukup akurat.
Berdasarkan penemuan Rumphius, fosil fauna laut berumur mesozoikum dapat ditemukan di Maluku. Salah satu deskripsinya mengenai "steenen vingers", yaitu batu yang berbentuk menyerupai jari dari Pulau Sula, menimbulkan perhatian C. E. A. Wichmann. Wichmann kemudian berhasil menemukan fosil Belemnite (cumi-cumi purba) dari endapan mesozoikum di Maluku pada tahun 1888-1889. Hingga kini, penelitian paleontologi di bagian timur Indonesia masih terus dilanjutkan.
Dalam D'Amboinsche Rariteitkamer (1705), Rumphius menyertakan sketsa fosil yang indah, yang digambar oleh Maria Sibylla Merian. Satu abad setelah wafatnya Rumphius, penelitian ilmiah di Nusantara mengalami stagnasi. Ilmu geologi dan paleontologi tidak menunjukkan kemajuan, karena penelitian pada masa itu sangat bergantung pada individu.
Sikap kompeni yang lebih fokus pada perdagangan dan perang, serta kekacauan dalam administrasi, menjadi faktor lain yang menghambat penelitian. Hanya pada abad ke-19, setelah Inggris menguasai wilayah tersebut (1811-1816), perkembangan paleontologi mulai mendapat perhatian kembali.
Pemerintah Hindia Belanda kemudian membentuk Komisi Pengetahuan Alam atau Natuurkundige Commissie, yang menghidupkan kembali semangat penelitian sejarah alam. Salah satu anggotanya yang sangat produktif dan berbakat, Junghuhn, melakukan penelitian di Jawa. Ia mendokumentasikan kondisi alam Jawa secara mendetail berdasarkan penelitian yang dilakukannya antara tahun 1845 hingga 1848.
Dalam bukunya yang berjudul "Java: deszelfs gedaante, bekleeding en inwendige structuur" yang terdiri dari empat volume, Junghuhn juga melaporkan mengenai fosil yang ditemukan di berbagai lokasi di Jawa, yang ia klasifikasikan dari A hingga Z. Fosil yang berhasil dikumpulkan Junghuhn mencakup beberapa spesies dari filum arthropoda dan moluska (yang diketahui berasal dari era neogen) serta satu jenis fosil vertebrata, yaitu gigi hiu megalodon (O. megalodon) yang ditemukan di perbatasan Djampang-Tjidamar. Beberapa fosil yang dikumpulkan oleh Junghuhn kini menjadi bagian dari koleksi Museum Geologi, meskipun pada periode awal penelitiannya, Junghuhn belum menemukan fosil vertebrata terestrial.
Ekskavasi vertebrata yang pertama kali dilakukan
Memasuki fase kedua di pulau Jawa, Junghuhn tidak lagi seaktif seperti pada periode pertamanya, disebabkan oleh penurunan kondisi kesehatan. Ia hanya diberi tugas untuk mengembangkan penanaman pohon kina di kawasan Priangan. Meskipun begitu, ketertarikan Junghuhn terhadap keindahan alam Jawa tetap ada.
Pada tahun 1857, ia menerima laporan tentang balung buto, atau tulang raksasa, yang ditemukan berserakan di daerah Pati Ayam. Junghuhn kemudian melakukan pemeriksaan dan penggalian di lokasi tersebut, serta memberinya nama Slagvelden van Reuzen, yang berarti tempat pertempuran para raksasa, sebagai ungkapan kekagumannya terhadap banyaknya fosil fauna terestrial yang ada di Pati Ayam.
Junghuhn secara akurat mendeskripsikan fosil-fosil yang ia temukan, yang terbagi ke dalam tiga spesies, yaitu Elephas, Stegodon (yang ia sebut dengan nama lama Mastodon elephantoides), dan Bos. Ia kemudian menyerahkan hasil penelitiannya kepada Perhimpunan Ilmu Alam Kerajaan, atau Koninklijk Natuutkundige Vereinigung.
Temuan fosil vertebrata yang dilakukan Junghuhn, yang juga dipublikasikan oleh Perhimpunan Ilmu Alam Kerajaan, menjadi sangat penting sebagai langkah awal dalam penelitian dan ekskavasi fosil vertebrata atau mamalia besar di Indonesia, khususnya di pulau Jawa. Selanjutnya, penyelidikan dilakukan oleh Baron Anton Sloet van Oldruitenborgh di pegunungan Kendang pada tahun 1859, diikuti oleh P.E.C Schemulling di Sangiran pada tahun 1864, dan Raden Saleh antara tahun 1865 hingga 1867. Fosil-fosil yang ditemukan ini kemudian dideskripsikan oleh Karl Martin.
Partisipasi Maestro Lukis Raden Saleh
Raden Saleh dikenal sebagai seorang maestro dalam bidang seni lukis dan gambar yang mengusung aliran naturalisme dan romantisme. Ia lahir dari keluarga bangsawan Arab-Jawa di Semarang, Jawa Tengah. Selain itu, Raden Saleh juga merupakan pelopor dalam bidang ekskavasi paleontologi yang berasal dari tanah air. Antara tahun 1865 hingga 1867, ia aktif sebagai naturalis amatir dan melakukan berbagai ekskavasi di beberapa lokasi seperti Pati Ayam, Kedungbrubus, Solo, hingga Sentolo di Jogjakarta.
Dalam laporannya kepada Koninklijk Natuutkundige Vereenging (Over fossiele beenderen van den Pandan. Nat. Tijdschr. 1867), Raden Saleh berhasil menemukan gigi graham (molar) dan gading Stegodon di sekitar Gunung Pandan-Kedungbrubus, Madiun.
Fosil-fosil Stegodon yang ia temukan kemudian dideskripsikan oleh Karl Martin pada tahun 1887 sebagai Stegodon trigonocephalus (Martin 1887). Pada tahun 1930-an, Geologisch Museum melakukan rekonstruksi terhadap kerangka Stegodon trigonocephalus, yang menjadi kerangka pertama di dunia untuk genus tersebut (Stegodon) yang berhasil dipamerkan.
Pengumpulan fosil oleh para naturalis awal, termasuk Raden Saleh, sangat berdampak pada perkembangan paleontologi dan penelitian di masa mendatang. Temuan fosil vertebrata oleh Junghuhn dan Raden Saleh mendorong Eugne Dubois, seorang ahli paleontologi, untuk memindahkan fokus ekskavasi dari gua-gua di Sumatra ke Jawa pada tahun 1890.
Setahun setelahnya, hasil tersebut membuahkan penemuan fosil manusia Jawa (Java Man) Pithecanthropus erectus (sekarang dikenal sebagai Homo erectus) yang dianggap sebagai 'mata rantai yang hilang' (the missing link) dalam teori evolusi manusia. Penemuan ini membawa Indonesia ke dalam sorotan dunia ilmu pengetahuan dan semakin menarik perhatian para ahli paleontologi.