Bandung, 21 November (ANTARA) - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan penemuan fosil Stegodon trigonocephalus di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, merupakan temuan yang luar biasa. Kondisi fosil yang diperkirakan utuh hingga 70 persen menjadikannya penemuan yang sangat langka dan signifikan bagi ilmu pengetahuan. Penemuan ini memperkaya khazanah paleontologi Indonesia.
Kepala Badan Geologi, Muhammad Wafid, pada Jumat di Bandung menjelaskan bahwa fosil tersebut ditemukan di Dukuh Tritik, Kecamatan Rejoso. Fosil ini sangat jarang ditemukan dalam kondisi individu tunggal yang hampir lengkap di satu lokasi ekskavasi. Proses ekskavasi yang dilakukan pada tahun 2025 berhasil menyingkap situs yang menyimpan fosil dengan kelengkapan luar biasa.
Identifikasi awal menunjukkan kerangka gajah purba ini memiliki panjang empat meter dan tinggi tiga meter. Penemuan ini berawal dari korespondensi Pemerintah Kabupaten Nganjuk pada tahun 2023, kemudian dilanjutkan dengan survei lapangan oleh tim Museum Geologi pada tahun 2024. Analisis fisik mengindikasikan fosil berusia sekitar 800.000 tahun, dengan geraham yang sudah aus sepenuhnya menandakan hewan ini sudah dewasa saat mati.
Advertisement
Advertisement
Penemuan Fosil Stegodon Nganjuk ini merupakan peristiwa penting dalam dunia paleontologi. Kondisi fosil yang mencapai 70 persen utuh adalah sebuah anomali yang jarang terjadi, mengingat proses alam yang cenderung merusak sisa-sisa organisme purba. Ini memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai morfologi dan anatomi Stegodon trigonocephalus.
Muhammad Wafid menekankan bahwa keutuhan fosil ini memberikan data berharga. Fosil yang ditemukan sebagai satu individu tunggal di satu situs ekskavasi sangat membantu para peneliti dalam merekonstruksi bentuk asli dan memahami karakteristik gajah purba tersebut. Ukuran kerangka yang mencapai empat meter panjang dan tiga meter tinggi juga menunjukkan bahwa individu ini adalah spesimen yang besar dan dewasa.
Analisis lebih lanjut terhadap fosil ini mengungkapkan usianya yang mencapai 800.000 tahun. Geraham yang sudah aus secara penuh menjadi indikator kuat bahwa Stegodon ini telah mencapai usia dewasa saat kematiannya. Data ini penting untuk memahami siklus hidup dan kondisi lingkungan pada era Pleistosen di Jawa.
Advertisement
Advertisement
Karakteristik geologi zona Perbukitan Kendeng di Nganjuk memberikan potensi besar untuk penemuan fosil lanjutan. Wafid menjelaskan bahwa litologi daerah ini didominasi oleh batuan napal dan lempung, yang merupakan lingkungan alami sangat mendukung pelestarian fosil. Kondisi tanah seperti ini memungkinkan sisa-sisa organisme purba untuk terawetkan dengan baik selama ribuan hingga jutaan tahun.
Meskipun baru satu fosil besar yang ditemukan, keyakinan akan adanya penemuan tambahan di lokasi ini sangat tinggi. Situs tersebut kemungkinan besar merupakan habitat purba yang menyimpan lebih banyak jejak kehidupan masa lalu. Hal ini membuka peluang besar bagi penelitian lebih lanjut untuk mengungkap ekosistem purba di Jawa.
Penemuan di Nganjuk ini menambah daftar panjang temuan fauna purba di Pulau Jawa, melengkapi penemuan-penemuan sebelumnya di Blora dan sepanjang aliran Sungai Bengawan Solo. Temuan-temuan ini secara signifikan meningkatkan pemahaman ilmiah tentang ekologi dan migrasi fauna di Dataran Sunda selama era Pleistosen. Setiap penemuan baru menjadi potongan puzzle yang penting.
Advertisement
Advertisement
Sebagai tindak lanjut dari penemuan penting ini, fosil Stegodon Nganjuk akan ditangani oleh Museum Geologi di Bandung. Proses konservasi dan rekonstruksi akan dilakukan secara cermat oleh para ahli. Tahapan ini sangat krusial untuk memastikan keawetan fosil dan memulihkan bentuk aslinya.
Wafid memperkirakan bahwa proses konservasi dan rekonstruksi ini akan memakan waktu delapan hingga sembilan bulan. Selama periode ini, para peneliti akan bekerja keras untuk membersihkan, menguatkan, dan menyusun kembali bagian-bagian fosil yang ditemukan. Proses ini memerlukan ketelitian dan keahlian khusus.
Setelah selesai, fosil Stegodon ini direncanakan untuk dipamerkan kepada publik. Tujuan utama pameran ini adalah sebagai sarana edukasi, memberikan kesempatan kepada masyarakat luas untuk belajar tentang sejarah bumi dan kehidupan purba di Indonesia. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran akan pentingnya pelestarian warisan geologi dan paleontologi.
Advertisement
Sumber: AntaraNews