Demi Tingkatkan Angka Kelahiran, Negara Ini Beri USD 500 per Anak di Bawah Usia Tiga Tahun
Kebijakan ini diumumkan untuk mengatasi krisis demografi di negara itu.
Pemerintah China berencana untuk memberikan subsidi tahunan sebesar USD 500 atau setara dengan Rp8 juta bagi setiap anak yang berusia di bawah tiga tahun. Kebijakan ini diumumkan sebagai respons terhadap meningkatnya kekhawatiran mengenai krisis demografi yang sedang melanda negara dengan populasi terbesar kedua di dunia tersebut.
Dalam tiga tahun terakhir, jumlah penduduk China mengalami penurunan. Menurut model demografi yang disusun oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), populasi China dapat menyusut dari 1,4 miliar saat ini menjadi 800 juta pada tahun 2100. Berdasarkan laporan dari CCTV, subsidi ini mulai berlaku sejak 1 Januari. "Ini adalah kebijakan besar berskala nasional yang ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan publik," ungkap laporan CCTV.
Kebijakan ini memberikan subsidi tunai langsung kepada keluarga di seluruh negeri, sehingga dapat membantu meringankan beban orang tua dalam membesarkan anak. Pada tahun lalu, jumlah kelahiran di China hanya mencapai 9,54 juta, yang merupakan setengah dari angka kelahiran pada tahun 2016, saat kebijakan satu anak yang telah berlaku selama lebih dari tiga dekade resmi dicabut. Tahun lalu, populasi China mengalami penurunan sebesar 1,39 juta jiwa. Selain itu, pada tahun 2023, China harus merelakan statusnya sebagai negara terpadat di dunia kepada India. Tingkat pernikahan pun mencapai titik terendah karena banyak pasangan muda memilih untuk tidak memiliki anak, dipicu oleh mahalnya biaya pengasuhan dan pertimbangan karier.
Para analis menegaskan bahwa subsidi yang diberikan saja tidak akan cukup untuk mengubah tren penurunan populasi di China atau untuk mendorong pemulihan belanja domestik yang sudah lama lesu. "Jumlah subsidi yang diberikan terlalu kecil untuk berdampak signifikan pada peningkatan angka kelahiran atau mendorong konsumsi rumah tangga dalam waktu dekat," kata Zichun Huang, seorang ekonom China dari Capital Economics. "Namun, kebijakan ini tetap menjadi langkah penting karena untuk pertama kalinya pemerintah memberikan bantuan langsung kepada rumah tangga, dan hal ini dapat menjadi dasar bagi kebijakan transfer fiskal yang lebih besar di masa mendatang."
Jumlah populasi semakin menurun dan mengalami penuaan dengan cepat
Sebelum diterapkannya kebijakan ini, sejumlah pemerintah daerah sudah lebih dulu meluncurkan program subsidi untuk meningkatkan angka kelahiran. Pada bulan Maret, Kota Hohhot, yang merupakan ibu kota wilayah Mongolia Dalam di China utara, mulai memberikan subsidi hingga 100.000 yuan untuk setiap bayi yang lahir bagi pasangan yang memiliki tiga anak atau lebih. Sementara itu, untuk anak pertama dan kedua, masing-masing diberikan subsidi sebesar 10.000 dan 50.000 yuan. Di Kota Shenyang, Provinsi Liaoning, pemerintah setempat memberikan subsidi sebesar 500 yuan per bulan kepada keluarga yang memiliki anak ketiga, hingga anak tersebut mencapai usia tiga tahun. Selain itu, di Hangzhou, Provinsi Zhejiang, pemerintah memberikan bantuan tunai sekali bayar sebesar 25.000 yuan kepada pasangan yang memiliki anak ketiga.
Menurut data resmi, lebih dari 20 pemerintah provinsi di China saat ini telah menyediakan subsidi untuk pengasuhan anak. Di samping jumlah anak yang semakin menurun, populasi China juga mengalami penuaan yang sangat cepat. Hal ini menimbulkan kekhawatiran mengenai keberlanjutan sistem pensiun nasional, karena jumlah warga lansia yang memerlukan manfaat pensiun semakin meningkat, sedangkan jumlah penduduk usia kerja yang dapat menopang sistem tersebut justru semakin berkurang. Diperkirakan bahwa hingga tahun 2024, jumlah penduduk China yang berusia 60 tahun ke atas akan mencapai hampir 310 juta jiwa.