Bukan Rahasia Lagi, Amerika Terlibat Banyak Pergantian Rezim di Dunia, Ini Daftarnya
AS selalu melibatkan CIA dalam setiap upaya penggulingan rezim negara lain.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sebelumnya mengisyaratkan keinginan untuk "perubahan rezim" di Iran setelah menyerang pusat nukir negara tersebut pada Senin (23/6).
Dia mengklaim pemerintah Iran "sangat lemah" dan 80 persen rakyat Iran mendukung penggulingan pemerintah yang berkuasa saat ini, seperti dilansir The Guardian pada Selasa (17/6).
"Tidaklah tepat secara politis untuk menggunakan istilah, 'Pergantian Rezim', tetapi jika Rezim Iran saat ini tidak mampu membuat Iran hebat lagi, mengapa tidak ada pergantian Rezim??? MIGA (Make Iran Great Again)!!!" tulis Trump di platform media sosialnya, menggunakan huruf kapital di sebagian unggahannya dan menyamakannya dengan gerakan MAGA (Make America Great Again) miliknya.
Namun pada Selasa (24/6), Trump menyatakan dia tidak menginginkan adanya "perubahan rezim" di Iran di tengah konflik dengan Israel. Menurut Trump, perubahan rezim di Iran dalam menciptakan kekacauan.
Perubahan rezim ini juga sesuai keinginan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ketika pasukan Zionis menyerang Iran.
Netanyahu menyampaikan dalam wawancaranya dengan Fox News pada Minggu, serangannya ke Iran tidak hanya untuk menghancurkan program nuklir Iran, tapi dalam prosesnya akan membawa perubahan rezim di Teheran.
Di masa lalu, AS berada di balik penggulingan rezim di banyak negara yang sebagian besar menghasilkan konsekuensi yang tidak diinginkan seperti ketidakstabilan politik, kekerasan etnis, dan pertikaian sektarian.
Berikut ini adalah daftar singkat pergantian rezim yang didukung AS sejak Perang Dunia II yang menyebabkan perang saudara jangka panjang atau memperkuat kelompok-kelompok yang menentang kepentingan AS, seperti dikutip dari TRT World, Rabu (25/6).
Iran - 1953
Dengan dukungan Inggris, AS memainkan peran utama dalam menggulingkan pemerintahan yang dipilih secara demokratis oleh Perdana Menteri Mohammad Mossadegh pada 1953.
AS mendirikan monarki pro-Barat di bawah Shah Mohammad Reza Pahlavi, terutama untuk melindungi kepentingan minyak Barat dan melawan pengaruh Soviet di Iran.
Kudeta yang diatur CIA tersebut melibatkan penyuapan, propaganda, dan kekerasan massa. Meskipun AS berhasil mengganti Mossadegh dengan Shah, kudeta tersebut memicu kebencian jangka panjang terhadap AS di antara orang-orang Iran.
Shah memerintah Iran dengan tangan besi hingga 1979, ketika revolusi yang dipimpin oleh seorang pemimpin agama, Ruhollah Khomeini menggulingkan monarki dan mendirikan pemerintahan yang sangat anti-AS.
Kudeta tahun 1953 secara luas disebut sebagai katalisator sentimen anti-Amerika di Timur Tengah.
Guatemala - 1954
Pada 1954, AS mengatur penggulingan presiden terpilih secara demokratis Jacobo Arbenz, yang dianggap sebagai ancaman komunis karena reformasi tanahnya yang mengancam kepentingan bisnis AS.
CIA menggunakan perang psikologis, propaganda, dan pasukan tentara bayaran kecil yang dipimpin oleh perwira militer Carlos Castillo Armas untuk menggulingkan pemerintahan Presiden Arbenz.
Meskipun kudeta berhasil pada saat itu dan Armas mengambil alih kekuasaan dengan dukungan AS, intervensi rahasia tersebut memicu perang saudara selama lebih dari tiga dekade (1960–1996), yang mengakibatkan sekitar 200.000 kematian dan pelanggaran hak asasi manusia yang meluas.
Alih-alih membawa negara tersebut ke dalam lingkup pengaruh AS, ketidakstabilan politik tersebut memperkuat kelompok-kelompok kiri dan mengipasi sentimen anti-Amerika di Amerika Latin.
Kuba - 1961
AS berupaya mengganti pemerintahan komunis Fidel Castro pada 1961 dengan rezim pro-AS, dengan mengatur "invasi" orang-orang buangan Kuba yang dilatih CIA. Namun upaya ini gagal dalam beberapa hari karena pasukan Kuba secara meyakinkan mengalahkan orang-orang buangan tersebut.
Keberhasilan itu membuat Castro semakin berani, yang mengonsolidasikan kekuasaan dan memperkuat hubungan dengan Uni Soviet.
Kudeta yang gagal itu menyebabkan Krisis Rudal Kuba tahun 1962, ketika dunia hampir mengalami perang nuklir skala penuh di era Perang Dingin.
Vietnam Selatan - 1963
AS merencanakan dan melaksanakan penggulingan Presiden Ngo Dinh Diem pada 1963, yang kebijakannya diduga merusak upaya Washington untuk melawan komunisme di negara tersebut.
CIA membantu para jenderal Vietnam Selatan menggulingkan presiden, sementara duta besar AS Henry Cabot Lodge Jr menyediakan dana.
Meskipun para jenderal menggulingkan dan membunuh presiden mereka, kudeta tersebut menciptakan kekosongan politik, melemahkan pemerintah Vietnam Selatan sekaligus memperkuat pemberontakan Viet Cong.
Ketidakstabilan tersebut membuka jalan bagi peningkatan keterlibatan militer AS, yang mengakibatkan lebih dari 58.000 tentara AS tewas dan juga jutaan korban dari rakyat Vietnam.
Irak - 1963 dan 2003
AS secara aktif mendukung kudeta Partai Baath pada tahun 1963 dan perdana menteri saat itu, Abdul Karim Qasim, yang pro-komunis dan menolak bergabung dengan Republik Arab Bersatu yang berpihak pada AS.
Kudeta ini disebut "salah satu operasi CIA paling rumit dalam sejarah Timur Tengah". Qasim terbunuh, dan Partai Baath mengambil alih kekuasaan dalam waktu singkat. Namun, pemerintahan Baath kedua di bawah Saddam Hussein (1979–2003) mengubah Irak menjadi musuh AS dan menyebabkan perang, penindasan, dan ketidakstabilan regional.
Pada 2003, AS menginvasi Irak untuk menggulingkan rezim Saddam Hussein dengan dalih kepemilikan senjata pemusnah massal. AS ingin Irak dipimpin oleh sosok yang mereka sebut pro-demokrasi Barat.
Chile – 1970-1973
Pada awal 1970-an, AS berupaya mencegah presiden sosialis Chile, Salvador Allende, yang terpilih pada tahun 1970, untuk mendirikan pemerintahan pro-Kremlin di negara Amerika Latin tersebut. AS berdalih tujuannya untuk melindungi kepentingan ekonomi Washington, seperti tambang tembaga yang telah dinasionalisasi.
Richard Nixon, yang saat itu menjabat sebagai presiden AS, memerintahkan CIA untuk "membuat ekonomi (Chile) menjerit". AS menggunakan sabotase ekonomi dan mendanai kelompok oposisi hingga USD10 juta untuk menjatuhkan pemerintah Chile.
Kudeta militer yang didukung CIA pada tahun 1973 menggulingkan Allende, yang membuka jalan bagi kediktatoran Pinochet (1973–1990). Rezim Pinochet yang berpihak pada AS membunuh lebih dari 3.000 orang dan menyiksa ribuan lainnya, yang memicu kecaman internasional.
Afghanistan – 1979-1989
AS mempersenjatai mujahidin Afghanistan pada tahun 1980-an untuk menggulingkan pemerintah komunis yang dibentuk Soviet dan melawan pengaruh Kremlin selama Perang Dingin.
CIA diam-diam menyalurkan miliaran dolar dalam bentuk bantuan, senjata, dan pelatihan, yang mengakibatkan penarikan pasukan Soviet dari Afghanistan pada tahun 1989.
Namun, keterlibatan AS menyebabkan perang saudara (1989-1996) di Afghanistan, yang membantu Taliban memperoleh kekuasaan. Sementara itu, Al Qaeda memperoleh pijakan di wilayah tersebut, yang menyebabkan invasi AS pada tahun 2001 dan runtuhnya ketertiban sipil selama dua dekade berikutnya.