AS Pakai Claude AI untuk Menyerang Iran
Kabar ini disampaikan oleh dua sumber yang mengetahui tentang pemakaian AI oleh militer AS.
Militer Amerika Serikat (AS) dilaporkan telah memanfaatkan model kecerdasan buatan (AI) bernama Claude yang dikembangkan oleh perusahaan Anthropic dalam serangan terhadap Iran pada akhir pekan lalu. Kabar ini disampaikan oleh dua sumber yang mengetahui tentang pemakaian AI oleh militer AS.
Claude berfungsi sebagai "otak digital" yang fokus pada keamanan serta mampu memproses data dalam jumlah besar. Berbeda dengan AI lainnya, Claude dilengkapi dengan "panduan moral digital" yang dikenal sebagai Constitutional AI.
Sistem ini berfungsi sebagai pedoman dasar yang mengharuskan Claude untuk menilai jawabannya sendiri agar tetap jujur, sopan, dan tidak berbahaya. Dengan adanya aturan ini, Claude secara otomatis menyaring informasi yang dihasilkan agar lebih akurat dan aman bagi penggunanya.
Karena memiliki kapasitas jendela konteks yang luas, Claude dianggap sangat unggul dalam menganalisis dokumen kompleks, menulis kode pemrograman, serta melakukan penalaran logika yang mendalam untuk mendukung pengambilan keputusan strategis. Namun, Kementerian Pertahanan AS, atau Pentagon, belum memberikan penjelasan rinci mengenai bagaimana AI tersebut diterapkan dalam operasi militer.
Penggunaan Claude dalam konflik dengan Iran pertama kali dilaporkan oleh surat kabar Wall Street Journal. Meskipun pemerintah federal sebelumnya mengumumkan larangan penggunaan teknologi Anthropic, pemanfaatan AI ini tetap dilanjutkan.
Larangan terhadap teknologi Anthropic muncul setelah terjadinya perselisihan antara perusahaan tersebut dan Pentagon pada pekan lalu, yang berkaitan dengan aturan penggunaan Claude oleh pemerintah. Anthropic ingin menetapkan batasan yang jelas agar teknologi mereka tidak digunakan untuk pengawasan massal terhadap warga AS atau untuk mengoperasikan senjata otonom tanpa kontrol manusia.
Sementara itu, Pentagon menginginkan Claude dapat digunakan untuk "semua tujuan yang sah menurut hukum." Mereka berpendapat bahwa kekhawatiran Anthropic tidak terlalu relevan, karena pengawasan massal terhadap warga AS sudah dilarang oleh hukum dan kebijakan internal militer juga membatasi penggunaan senjata otonom. Kepala Teknologi Pentagon, Emil Michael, menegaskan bahwa masyarakat perlu mempercayai militer untuk bertindak dengan benar.
"Pada tingkat tertentu, Anda harus mempercayai militer Anda untuk melakukan hal yang benar," ujar Michael dalam wawancara dengan CBS News, pada Jumat (27/2).
Garis Merah Anthropic
Di sisi lain, CEO Anthropic, Dario Amodei, mengungkapkan bahwa perusahaannya dengan sengaja telah menetapkan "garis merah" terkait penggunaan teknologi mereka oleh pemerintah. Amodei menjelaskan bahwa keputusan ini diambil karena perusahaan meyakini bahwa penggunaan teknologi yang melanggar batas tersebut bertentangan dengan nilai-nilai yang dipegang oleh Amerika Serikat.
"Kami percaya bahwa melampaui garis itu bertentangan dengan nilai-nilai AS dan kami ingin mempertahankan nilai-nilai tersebut," ujar Amodei kepada CBS News.
Ia juga berpendapat bahwa adanya perbedaan pendapat dengan pemerintah adalah bagian integral dari nilai-nilai demokrasi yang dianut di AS.
"Tidak setuju dengan pemerintah adalah hal paling AS di dunia. Dan kami adalah patriot. Dalam semua yang kami lakukan di sini, kami berdiri untuk nilai-nilai negara ini," tegas Amodei.
Trump Perintahkan Setop Penggunaan Anthropic
Sementara itu, pada hari Jumat, Presiden Donald Trump memberikan perintah kepada semua lembaga federal untuk segera menghentikan penggunaan teknologi Anthropic. Pemerintah memberikan tenggat waktu enam bulan bagi lembaga-lembaga tersebut untuk secara bertahap menghentikan penggunaannya.
Menteri Pertahanan Pete Hegseth juga mengungkapkan bahwa Anthropic dianggap sebagai ancaman dalam rantai pasokan pemerintah, terutama setelah mereka menolak permintaan Pentagon untuk memberikan akses tanpa batas ke Claude demi kepentingan militer.
Situs berita keamanan nasional, Defense One, melaporkan bahwa Pentagon mungkin memerlukan waktu sekitar tiga bulan atau lebih untuk mengganti kemampuan Claude dengan platform AI lainnya.
Menurut Michael, Pentagon memanfaatkan Claude untuk membantu dalam menyintesis dokumen serta meningkatkan efisiensi dalam logistik dan pengelolaan rantai pasokan, di antara berbagai fungsi lainnya. Dengan adanya kebijakan ini, diharapkan pemerintah dapat menemukan alternatif yang lebih aman dan dapat diandalkan dalam mendukung kebutuhan militer dan operasional mereka.