Arkeolog Temukan Bola Buatan Manusia Berusia 1,4 Juta Tahun, Terbuat dari Pahatan Batu Kapur
Fungsi dan kegunaan batu kapur ini belum berhasil diungkap para ilmuwan.
Sejumlah bola batu kapur ditemukan di berbagai wilayah mulai dari Afrika Timur, Eropa, Timur Tengah, dan Asia, berasal dari 2,5 juta tahun lalu. Meskipun keberadaannya tersebar luas, tujuan pembuatan bola batu ini tetap misterius.
Salah satu bola batu kapur ditemukan di situs Acheulean Awal 'Ubeidiya, yang terletak di Lembah Celah Laut Mati di selatan Levant. Levant saat ini mencakup Suriah, Palestina, Lebanon, Yordania, dan Siprus. Situs ini, berumur sekitar 1,4 juta tahun yang lalu, mewakili bukti paling awal yang diketahui tentang suku Acheulean di luar Afrika.
Periode Acheulean, bagian dari era Paleolitikum yang lebih luas, berlangsung sekitar 1,7 juta hingga 200.000 tahun yang lalu. Ini menandai masa ketika manusia purba menguasai seni pembuatan perkakas batu, memproduksi kapak tangan, parang, dan perkakas lainnya. Bola 'Ubeidiya, yang diukir dengan cermat menggunakan teknik yang disengaja, menunjukkan kecanggihan pengerjaan Acheulean.
Di situs Ubeidiya, peneliti telah menemukan 150 bola batu kapur, seperti dikutip dari laman The Brighter Side, Rabu (29/1).
Untuk pertama kalinya, para peneliti menggunakan pemetaan dan analisis 3D (tiga dimensi) tingkat lanjut untuk menyelidiki 'bola Ubeidiya'. Dipimpin oleh Antoine Muller, kandidat PhD di Universitas Ibrani Yerusalem, tim ini menggunakan harmonik bola dan metrik geometris lainnya untuk mengkarakterisasi bentuk dan fitur permukaan artefak.
Fungsi Masih Misterius
Pendekatan baru ini memungkinkan para peneliti untuk mengukur kompleksitas geometri bola dan mengungkap pola dalam pembuatannya.
“Hampir semua spheroid dari ‘Ubeidiya, bahkan yang hampir berbentuk bola sempurna, memiliki permukaan datar,” jelas Muller.
“Analisis harmonik bola membantu kami mengidentifikasi permukaan ini dan memastikan bahwa ini adalah pola yang berulang, tidak hanya dalam imajinasi kita. Permukaan datar ini kemungkinan besar berfungsi sebagai platform yang mencolok untuk membantu membentuk bola.”
Studi yang dipublikasikan di Royal Society Open Science ini menunjukkan manusia purba menggunakan strategi reduksi terencana, yang dikenal sebagai knapping, untuk menciptakan objek berbentuk bola ini. Knapping melibatkan pembentukan batu dengan memukulkannya dengan benda lain untuk menghilangkan serpihannya secara sistematis.
Menurut para peneliti, spheroid mewakili sebuah kontinum reduksi, berevolusi dari nodul awal menjadi polihedron, sub-spheroid, dan akhirnya menjadi spheroid.
Terkait fungsi bola ini, para ilmuwan belum dapat memastikannya.
“Sayangnya, masih belum jelas kegunaan spheroid tersebut,” kata Muller.
Namun demikian, temuan ini menunjukkan manusia purba mampu melakukan perencanaan tingkat lanjut dan membuat perkakas dengan sengaja, kata Muller.
Kendati fungsinya masih misterius, temuan ini memberikan gambaran sekilas tentang kecerdikan dan kemampuan beradaptasi manusia purba, serta menyoroti babak penting dalam kisah evolusi manusia.