Akui Lakukan Tindakan Tak Pantas Pada Staf, Menteri Selandia Baru Mengundurkan Diri
Insiden tidak pantas tersebut terjadi pada 18 Februari 2025.
Menteri Perdagangan dan Urusan Konsumen Selandia Baru, Andrew Bayly, resmi mengundurkan diri pada 24 Februari 2025, setelah mengakui telah meletakkan tangannya di lengan seorang staf. Insiden yang terjadi pada 18 Februari ini, menurut Bayly, merupakan bagian dari diskusi yang 'bersemangat', namun ia menyadari bahwa tindakannya dianggap tidak pantas dan terlalu dominan.
Bayly menyatakan penyesalan yang mendalam atas perilakunya yang dianggap arogan dan tidak profesional. Pada Oktober 2024, ia juga dituduh bersikap kasar terhadap seorang pekerja di sebuah perusahaan, di mana ia menggunakan kata-kata kotor dan mengejek. Meskipun telah meminta maaf atas insiden tersebut, peristiwa terbaru ini tampaknya menjadi pemicu utama bagi keputusan untuk mundur dari jabatan menteri.
Bayly mengakui insiden yang memicu pengunduran dirinya terjadi dalam konteks diskusi yang hangat dengan seorang anggota staf.
"Saya terlalu jauh dalam berdiskusi, dan saya meletakkan tangan di lengan atasnya, yang tidak pantas," kata Bayly.
Pernyataan ini menunjukkan Bayly menyadari kesalahan yang ia buat dan dampaknya terhadap hubungan profesional di tempat kerja. Walaupun Bayly telah mengundurkan diri dari posisinya sebagai menteri, ia tetap akan menjabat sebagai anggota parlemen. Posisi Bayly sebagai menteri perdagangan kini diisi oleh Scott Simpson, yang diharapkan dapat membawa perubahan positif dalam kepemimpinan kementerian.
Perdana Menteri Selandia Baru, Christopher Luxon, dalam konferensi pers pada tanggal 24 Februari, menanggapi insiden tersebut dengan mengatakan bahwa penanganan pemerintah terhadap masalah ini dalam waktu seminggu cukup cepat dan mengesankan. Ia membantah bahwa seharusnya ia meminta Bayly untuk mengundurkan diri setelah insiden sebelumnya di kilang anggur, yang terjadi pada bulan Oktober. Namun, kritik dari berbagai pihak menunjukkan bahwa standar perilaku menteri yang ditetapkan oleh pemerintah saat ini dinilai sangat rendah.
Pemimpin Partai Buruh, Chris Hipkins, mengungkapkan ketidakpuasannya terhadap cara Perdana Menteri Luxon menangani situasi ini.
"Insiden dengan anggota staf itu seharusnya tidak berlarut-larut hingga akhir pekan," ujarnya.
Hipkins menilai tindakan Luxon menunjukkan standar perilaku yang rendah di kalangan menteri, yang dapat merugikan citra pemerintah.
Bayly sendiri, setelah mengundurkan diri, menyatakan bahwa ia perlu berbicara dengan keluarganya dan merasa kesulitan untuk berbicara dengan media lebih awal. Ia juga mengingat kembali insiden sebelumnya di mana ia dituduh menyebut seorang pekerja kilang anggur sebagai 'pecundang' dan menggunakan kata-kata kasar. Hal ini menunjukkan bahwa masalah perilaku Bayly bukanlah hal yang baru, melainkan telah menjadi perhatian sejak lama.