10 Jet Tempur Terbaik di Dunia 2025, Nomor 4 Dikembangkan Bersama di Indonesia
Perang India vs Pakistan baru-baru ini memperlihatkan kekuatan udara tetap memegang peran penting dalam pertempuran militer modern.
Mulai dari kemampuan fitur siluman F-35 dan J-20 hingga performa tempur Su-35S dan Rafale, pesawat-pesawat ini mewujudkan rekayasa manusia dan pemikiran strategis yang mutakhir.
Seperti yang baru-baru ini terjadi, yakni pertempuran di sepanjang perbatasan India-Pakistan selama Operasi Sindoor, kekuatan udara tetap memegang peran penting dalam pertempuran militer modern.
Penembakan beberapa F-16 Pakistan yang canggih oleh Su-30MKI dan Rafale Angkatan Udara India sekali lagi telah mendorong kemampuan jet tempur menjadi berita utama internasional dan diskusi pertahanan.
Dilansir aviationa2z, berikut daftar 10 jet tempur tercanggih dunia pada 2025 berdasarkan kemampuan, sejarah operasional, dan apa yang membuat masing-masing menjadi kekuatan yang tangguh dalam peperangan udara kontemporer.
10. Sukhoi Su-35S
Sukhoi Su-35S merupakan puncak teknologi pesawat tempur non-siluman Rusia, yang mendapat julukan “Super Flanker” melalui kinerja aerodinamis yang luar biasa canggih.
Kemampuan manuver Su-35S yang luar biasa adalah mesin AL-41F1S dengan nosel vector dorong tiga dimensi, yang memungkinkan pesawat melakukan manuver yang sebelumnya mustahil seperti “Pugachev’s Cobra” dan “Kulbit.”
Mesin tersebut masing-masing menghasilkan daya dorong sekitar 14.515 kilogram, mendorong pesawat hingga kecepatan tertinggi Mach 2,25 (sekitar 2.700 km/jam) sambil mempertahankan stabilitas bahkan pada sudut serang yang sangat tinggi.
Radar Irbis-E (passive electronically scanned array) mampu mendeteksi target hingga 400 km. dengan kapasitas angkut senjata hingga 8.000 kg pada 12 titik gantung. Dengan sekitar 100 unit yang beroperasi di Rusia dan beberapa pelanggan ekspor, termasuk Rusia, China, dan Mesir. Harga per unitnya sekitar USD 85 Juta, atau sekitar Rp 1,4 Triliun.
9. Eurofighter Typhoon
Pesawat canggih satu ini merupakan hasil kerja sama antara Inggris, Jerman, Italia, dan Spanyol. Eurofighter merupakan jet tempur multirole generasi 4++ yang menonjol dalam pertempuran udara.
Desain sayap delta dan canard, dikombinasikan dengan kontrol fly-by-wire dan stabilitas yang sengaja dilemahkan sehingga membuat Typhoon sangat lincah.
Didukung oleh dua mesin Eurojet EJ200 dengan rasio daya dorong terhadap berat lebih dari 1:1, pesawat ini mampu melakukan “supercruise,” atau terbang supersonik tanpa afterburner (sistem pembakar tambahan).
Pemutakhiran terbaru melalui program Phase Enhancement meningkatkan kemampuan serangan darat. Sensor pesawat mengintegrasikan radar, sistem pencarian inframerah, dan perlindungan elektronik ke dalam satu kesatuan taktis.
Dengan lebih dari 570 unit yang beroperasi di berbagai negara termasuk Arab Saudi, Kuwait, dan Qatar, Typhoon membuktikan fleksibilitasnya dari misi patrol udara di Baltik hingga operasi tempur di Suriah dan Libya.
Harga satuan pesawat canggih ini mencapai USD 90 juta (Rp 1,44 Triliun), menjadikannya investasi besar dalam kemandirian pertahanan Eropa, dan diperkirakan akan tetap aktif hingga setelah 2040.
8. Dassault Rafale
Dassault Rafale memiliki arti “hembusan angin kencang,” nama tersebut mewakili tekad Prancis untuk mempertahankan kemandirian dalam industri pertahanan.
Sebanyak 70 persen permukaan pesawat ini terbuat dari bahan komposit, yang mengurangi bobot dan jejak radar. Dengan dua mesin Snecma M88, masing-masing menghasilkan sekitar 7.670 kilogram daya dorong, Rafale mampu mencapai kecepatan Mach 1.8 (2.222 km/jam).
Keunggulan utamanya terletak pada sistem peperangan elektronik terintegrasi SPECTRA, salah satu sistem perlindungan diri terbaik saat ini.
Rafale pernah beroperasi dalam konflik di Afghanistan, Libya, Mali, Irak, dan Suriah. Setelah terbukti di medan tempur, kini pesawat ini berhasil diekspor ke India, Mesir, Qatar, Yunani, dan Kroasia. Total pesanan pesawat ini melebihi 500 unit, dengan harga sekitar USD 100 juta (Rp 1,6 Triliun) per unit.
Akuisisi 36 Rafale oleh India telah meningkatkan kemampuan tempur udaranya selama ketegangan di perbatasan baru-baru ini.
7. Boeing F-15EX Eagle II
Boeing F-15EX Eagle II adalah evolusi modern dari platform legendaris F-15 yang dirancang ulang sepenuhnya untuk menghadapi ancaman masa kini.
Pesawat ini dilengkapi radar AESA APG-82, kokpit digital, sistem kontrol fly-by-wire, dan EPAWSS (Sistem Peringatan dan Perlindungan Pasif-Aktif).
Mesin kembarnya, Pratt & Whitney F100-PW-229, menghasilkan sekitar 13.150 kilogram daya dorong dan memungkinkan kecepatan maksimum Mach 2.5 (sekitar 3.100 km/jam).
Fitur paling menonjol adalah kapasitas senjatanya yang dapat membawa hingga 22 rudal udara-ke-udara atau kombinasi senjata udara-ke-darat. Hal ini menjadikannya jet dengan daya angkut terbesar di kelasnya.
Angkatan Udara AS berencana mengakuisisi 144 unit F-15EX dengan harga USD 87 juta (Rp 1,392 Triliun) per pesawat.
6. Shenyang FC-31 Gyrfalcon
Shenyang FC-31 Gyrfalcon merupakan jet tempur siluman generasi kelima, kedua di China dan pertama kali untuk kapal induk.
Didesain twin-engine dengan stabiliser vertikal miring menyerupai F-22, lengkap dengan kompartemen senjata internal untuk menjaga kemampuan siluman.
Mesin ini awalnya adalah RD-93 buatan Rusia, namun versi terbarunya akan menggunakan mesin WS-19 buatan China yang sedang dikembangkan.
FC-31 ini dijadwalkan siap beroperasi di kapal induk baru China pada 2026 dengan kecepatan maksimal Mach 1.8 (2.205 km/jam) dan kemampuan supercruise.
Harga per unit diperkirakan USD 70 Juta (Rp 1,12 Triliun), menjadikannya simbol modernisasi armada udara laut China.
5. Sukhoi Su-57
Sukhoi Su-57 dengan kode NATO “Felon” yang merupakan jawaban Rusia atas kebutuhan jet tempur generasi kelima.
Berbeda dengan desain siluman Barat, Su-57 mengusung konsep “stealth fungsional” yang menyeimbangkan kemampuan siluman dan kinerja aerodinamis.
Desainnya meliputi sudut-sudut yang dirancang khusus, bahan penyerap radar, dan kompartemen senjata internal. Su-57 mampu mencapai kecepatan Mach 2 (2.470 km/jam).
Dengan harga USD 40-50 Juta (Rp 640 miliar – Rp 800 miliar), hanya sepertiga harga F-35, Su-57 adalah solusi ekonomis Rusia untuk tetap bersaing di udara.
Pesawat ini mulai beroperasi pada tahun 2020 dengan lebih dari 70 unit direncanakan untuk dikirimkan.
4. KAI KF-21 Boramae
KAI KF-21 Boramae memiliki arti “elang” dalam bahasa Korea. Jet ini mewakili kemunculan Korea Selatan sebagai pemain utama dalam industri kedirgantaraan internasional.
Menggunakan dua mesin General Electric F414, mesin yang juga digunakan pada F/A-18 Super Hornet, mampu melesat hingga Mach 1.8 (2.200 km/jam).
Yang membuat jet ini terkenal adalah harganya yang mencapai USD 74 Juta (Rp 1,125 Triliun) per unit. Dengan harganya yang fantastis, KF-21 menawarkan kemampuan generasi kelima dengan harga generasi keempat.
Sebanyak 120 unit direncanakan untuk Angkatan Udara Korea Selatan hingga 2032, dengan potensi ekspor ke Indonesia (mitra pengembangan), Polandia, dan Negara-negara Asia Tenggara lainnya.
3. Lockheed Martin F-22 Raptor
F-22 Raptor masih menjadi tolak ukur jet tempur yang mendominasi udara, meski telah 20 tahun beroperasi.
Dengan dua mesin Pratt & Whitney F119 dan nozel dorong vektor dua dimensi, Raptor mencapai Mach 2.25 (2.410 km/jam) dan supercruise di Mach 1.8 tanpa afterburner.
Meskipun produksinya dihentikan pada angka 195 unit karena kendala anggaran Pasca-Perang Dingin dan larangan ekspor, pesawat ini tetap menjadi ujung tombak Angkatan Udara AS. Harga per unit jet ini mencapai USD 150 juta (Rp 2,48 Triliun).
Kemampuan jet ini sebagian telah ditunjukkan selama penempatan di Suriah, di mana Raptor beroperasi tanpa hukuman di wilayah udara yang dilindungi oleh sistem pertahanan udara Rusia yang canggih.
2. Chengdu J-20 Mighty Dragon
J-20 Mighty Dragon menandai pencapaian China sebagai produsen pesawat tempur mutakhir. Jet ini menggunakan pendekatan yang lebih selektif terhadap kemampuan pengamatan yang rendah, dengan penekanan pada kemampuan siluman untuk memungkinkan penetrasi jarak jauh jaringan pertahanan udara musuh.
Awalnya, jet ini ditenagai oleh turunan AL-31 Rusia, dan kini versi terbaru menggunakan mesin WS-10C buatan dalam negeri. Pembangkit listrik ini mendorong J-20 memiliki kecepatan hingga Mach 2 (2.470 km/jam).
Lebih dari 200 unit J-20 telah beroperasi dan berevolusi berkelanjutan melalui berbagai varian. Harga per unitnya senilai USD 100 juta (RP 1,6 Triliun). Selain itu, jet ini melambangkan komitmen China untuk menantang superioritas udara Amerika di Pasifik Barat.
1. Lockheed Martin F-35 Lightning II
Lockheed Martin F-35 Lightning II merupakan program pesawat tempur terbesar dan paling ambisius pada abad ke-21. Tidak hanya canggih, F-35 juga memiliki skala yang belum pernah ada sebelumnya, melibatkan 17 negara dan rencana produksi lebih dari 3.000 unit.
Dengan dukungan mesin Pratt & Whitney F135 (mesin tempur terkuat yang pernah dikembangkan), F-35 mampu mencapai kecepatan Mach 1,6 (1.975 km/jam). Meskipun sering dikritik karena biayanya yang mencapai USD 85 Juta ( Rp 1,36 Triliun), kini harganya telah menurun melalui skala ekonomi seiring dengan semakin matangnya program tersebut.
Lebih dari 1.000 pesawat dikirimkan ke 17 negara, termasuk Australia, Israel, Jepang, Korea Selatan, dan beberapa sekutu NATO. Selanjutnya, jet ini direncanakan akan memproduksi lebih dari 3.000 unit. F-35 mewakili standarisasi teknologi generasi kelima di seluruh Angkatan Udara Barat dan sekutu.
Meski tidak ada satu pun pesawat tempur yang dapat dianggap sempurna untuk semua misi, keberlanjutan F-35 mengamankan posisinya sebagai pesawat tempur utama dunia pada 2025.
Pada akhirnya, 10 jet tempur ini mewakili lebih dari sekadar keajaiban teknologi, mereka adalah bidak catur strategis dalam permainan geopolitik yang kompleks tentang pertahanan nasional dan proyeksi kekuatan.
Reporter Magang: Devina Faliza Rey