Mengenang Benyamin Sueb, Legenda Betawi yang Punya Segudang Karya
Ahli waris Benyamin Sueb melaporkan dugaan pelanggaran hak cipta atas 517 karya legendarisnya ke Polda Metro Jaya.
Ahli waris Benyamin Sueb melaporkan dua perusahaan ke polisi terkait dugaan penggunaan 517 karya cipta seniman Indonesia tanpa izin. Dua perusahaan itu dipolisikan dengan register LP/B/3992/VII/2024/SPKT POLDA METRO JAYA.
Dalam laporan tersebut, ahli waris menyebutkan bahwa dua perusahaan terlibat dalam dugaan pelanggaran ini, yaitu satu perusahaan label rekaman dan satu perusahaan lain yang tidak disebutkan. Modus pelanggaran yang dilaporkan adalah penggunaan karya-karya tersebut tanpa izin dalam bentuk Nada Sambung Pribadi (NSP) dan berbagai platform musik digital.
Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya Kombes Ade Safri Simanjuntak mengatakan, kepolisian mulai menyelidiki laporan terkait dugaan penggunaan 517 karya cipta Benyamin Sueb. Serangkaian penyelidikan dilakukan Subdit Indag Ditreskrimsus Polda Metro Jaya.
Ade Safri menyebut kepolisian telah memeriksa pelapor, terlapor, serta saksi-saksi terkait. Selain itu, kepolisian juga masih mempelajari dokumen yang telah diberikan oleh pihak pelapor maupun terlapor.
"Melakukan koordinasi awal dengan Ahli Hak Cipta dari Ditjen HKI Kemenkum HAM," kata Ade Safri kepada wartawan, Selasa (9/9).
Konstruksi Perkara
Ade Safri menyampaikan masalah ini berawal dari perjanjian antara anak pertama almarhum, Beib Habani, dengan PT GNP pada 2002–2007.
Ada dua perjanjian yaitu jual beli master lagu dan pemakaian karya cipta. Sayangnya, kesepakatan itu tidak pernah disetujui seluruh ahli waris Benyamin.
Kemudian Hendarmin Susilo selaku Direktur PT GNP yang bertanda tangan dalam surat perjanjian tersebut telah wafat pada 28 Januari 2013 dan Beib Habani telah wafat pada tahun 2012. Sejak itu, royalti tidak pernah dibayarkan ke ahli waris.
"Bahwa korban melaporkan PT GNP karena telah menguasai master lagu dan tidak membayarkan royalti kepada ahli waris,” kata dia.
Ade Safri menyebut kepolisian selanjutnya akan melakukan pemeriksaan tambahan terhadap korban dan terlapor serta pihak terkait serta akan melakukan pemeriksaan saksi ahli dari Ditjen HKI Kemenkum HAM.
Sementara itu, kuasa hukum ahli waris Benyamin Sueb, Jainal Riko Frans Tampubolon, mengapresiasi tindak lanjut yang dilakukan Ditreskrimsus Polda Metro Jaya. Ia mengaku hingga kini laporannya tidak ada perkembangan yang signifikan.
Sosok Benyamin Sueb
Benyamin Suaeb atau Sueb merupakan aktor yang punya nama besar. Dirinya ditakdirkan untuk mengangkat budaya Betawi yang kala itu sempat hampir tenggelam.
Yuk, ikuti sisi lain Benyamin yang mungkin belum banyak diketahui berikut ini.
Boleh dibilang, dekade 1970 hingga 1990-an adalah masa keemasan Benyamin sebelum tutup usia. Ada puluhan film dan lagu yang ia ciptakan, dengan tema besar jenaka. Daya tarik komedinya semakin kuat, melalui gaya ceplas-ceplos khas Betawi yang nyablak.
Meski dikenal luas, nyatanya banyak kisah yang tak terungkap dari sosok cerianya. Salah satu di antaranya adalah sosoknya yang mendadak serba bisa, setelah menjadi “korban” dari kebijakan Orde Lama pemerintahan Soekarno.
Bahkan, ia juga sempat “melawan” pemerintahan Soeharto usai berkali-kali dipanggil ke rumah cendana. Kabar baiknya, sosok Benyamin masih abadi hingga sekarang lewat kehadiran Bens Radio, Taman Benyamin Sueb hingga puluhan filmnya yang masih ditayangkan di banyak stasiun TV swasta.
Jika selama ini Benyamin selalu akrab dengan layar kaca, nyatanya seniman kelahiran 5 Maret 1939 ini justru memulai karier dengan bergabung bersama grup musik besutan sang kakak.
Menariknya, grup musik yang diberi nama Orkes Kaleng ini lain daripada yang lain, sebab komposisi musiknya dibuat dari kaleng bekas bahan bakar.
Mengutip Wikipedia, disebutkan bahwa Benyamin ditugaskan meracik irama yang unik dari kaleng-kaleng bekas bensin yang kemudian dipadukan dengan instrumen musik lainnya sehingga enak didengar. Ia bergabung dengan band ini di usia 7 atau 8 tahun.
“Sewaktu kecil, bersama 7 kakak-kakaknya, Benyamin sempat membuat Orkes Kaleng,” tulis Wikipedia.
Peduli Jakarta
Karena dekat dengan kakak-kakaknya yang menggemari musik, Benyamin pun semakin jatuh cinta dengan dunia seni. Ia menggemari berbagai jenis musik, mulai dari jazz, blues, tradisional sampai hard rock.
Kesukaannya ini mendorong Benyamin untuk berkarya di jalur tarik suara. Ia pun memilih menjadi penyanyi, ketimbang pemain musik.
Agar mudah diterima, tema yang diangkat pun kebanyakan dekat dengan masyarakat seperti lagu “Kompor Mleduk” yang kental nuansa hard rock dan blues dengan tema bencana di Kota Jakarta.
“Jakarta kebanjiran, di Bogor angin ngamuk, rumeh ane kebakaran, gare-gare kompor mleduk. Ane jadi gemeteran, ware-wiri keserimpet, rumeh ane kebanjiran, gare-gare got mampet. Ayoo-ayoo bersiin got, jangan takut badan blepot,” tulis lirik Kompor Mleduk
Korban Orde Lama
Di tahun 1960-an, kehidupan seni Benyamin tampaknya kurang berjalan mulus. Sebab kegemarannya terhadap musik barat seolah ditentang oleh kebijakan pemerintah Orde Lama yang anti budaya barat.
Benyamin yang jadi korban, karena tak bisa memainkan musik rock dan blues, lalu mulai putar otak. Karena dekat dengan budaya Betawi, ia akhirnya mulai meramu komposisi musik gambang kromong agar karyanya tidak dicekal.
Alih-alih melupakan musik barat, akal nekatnya justru terampil memasukkan unsur rock dan psikedelik dalam lagu-lagu Betawinya.
Mengutip situs Good News From Indonesia, dikatakan bahwa Benyamin mulai banyak menciptakan lagu berirama lokal, dan meramunya dengan unsur barat. Kemudian, lagu-lagu tersebut diduetkan dengan warga Jakarta asli, salah satunya Ida Royani.
Bikin Radio
Sebenarnya tahun 1980-an, industri film lokal mulai tampak tiarap. Penyebabnya, kebijakan Presiden Soeharto yang mengatur tentang kebijakan impor film dan turut memengaruhi produksi industri visual lokal.
Mengutip situs Indonesia Kaya, kebijakan ini membuat Benyamin tak mampu melanjutkan usaha rumah produksi filmnya dan berakhir di judul “Betty Bencong Slebor”. Setelah itu, production house-nya terpaksa ditutup karena tak mampu meraih pasaran.
Bergelut di industri kreatif, membuat komedian keturunan Betawi – Purworejo ini akhirnya aktif di pementasan lenong, hingga menjadi pembawa acara televisi. Namun, Benyamin masih memiliki mimpi agar budaya Betawi tak tergerus zaman yakni melalui Bens Radio.
Bens Radio berdiri pada akhir 1980-an, dan fokus di publikasi budaya Betawi kontemporer anak muda. Segmennya ada bincang-bincang, musik dan lain sebagainya. Hal yang paling ikonik dari Bens Radio di masanya adalah Pos Dongkol yang jadi ajang curhatan anak muda Betawi dengan bahasan komedi.
Tolak Jadi Menteri Soeharto
Sisi menarik Benyamin yang mungkin belum banyak diketahui adalah dirinya pernah berkali-kali ditawari menjadi menteri di era Presiden Soeharto.
Benyamin yang aktif di bidang seni dan budaya Betawi, ingin dijadikan Soeharto sebagai menteri penerangan. Cara ini dianggap efektif untuk mengenalkan budaya Jakarta dan Indonesia agar lebih dikenal secara luas.
Namun nyatanya, kesempatan ini ia tolak secara halus dengan alasan khawatir jika banyak godaannya.
Tak hanya sekali ini, Benyamin juga berkali-kali diundang ke rumah cendana terkait promosi pemerintahan namun tak ada yang diterimanya.
Karya Legendaris Benyamin Sueb
Benyamin Sueb dikenal sebagai seniman multitalenta yang telah menghasilkan lebih dari 75 album musik dan 53 judul film. Karya-karyanya yang terkenal mencakup:
- Filmografi Pilihan: "Benyamin Biang Kerok" (1972), "Si Doel Anak Betawi" (1972), "Tarsan Kota" (1974), dan "Drakula Mantu" (1974).
- Diskografi Pilihan: Lagu-lagu seperti "Ondel-ondel", "Kompor Meleduk", dan "Nonton Bioskop" masih populer hingga saat ini.
Beberapa lagu Benyamin Sueb yang belum pernah dirilis dalam albumnya, seperti "Jali-jali" dan "Mengapa Harus Jumpa", dirilis dalam bentuk digital pada tahun 2013 dalam CD berjudul "Benyamin Sueb The Legend".
Saat ini, jejak Benyamin masih bisa disaksikan di layar televisi yang merupakan penampilan dari film-film terdahulunya. Salah satu yang masih tayang di antaranya adalah Si Doel Anak Betawi.
Selain itu, jejak karya Benyamin turut hadir di Taman Benyamin Sueb yang di sana bisa disaksikan berbagai peninggalannya seperti kaset, pakaian yang pernah digunakan mendiang saat pentas, puluhan penghargaan, dan foto-foto Benyamin Sueb sejak ia kecil hingga bermain di film terakhirnya Si Doel.
Lalu ada juga Jalan Haji Benyamin Sueb yang membentang sepanjang 3,9 KM dari pintu keluar Tol Pelabuhan Pademangan Timur, Pademangan, Jakarta Utara sampai persimpangan Jalan Kemayoran Gempol.