Kisah Haru Mpok Alpa Hadapi Kanker, Iis Dahlia: Dia Gak Pernah Mengeluh
Iis Dahlia telah menyadari keadaan Mpok Alpa sejak awal, namun ia tetap setia menjaga amanah sahabatnya dengan tidak membocorkan informasi itu.
Di balik tawa dan kebahagiaannya yang selalu menghibur, komedian Mpok Alpa menyimpan perjuangan yang berat sendirian. Almarhumah memilih untuk melawan penyakit kanker secara diam-diam, tanpa ingin publik mengetahuinya.
Pedangdut Iis Dahlia merupakan salah satu dari sedikit orang yang mengetahui kondisi tersebut. Sejak awal, Iis sudah menyadari keadaan Mpok Alpa, dan ia berkomitmen untuk menjaga rahasia sahabatnya itu dengan tidak menyebarluaskan berita tersebut.
"Tahunya dari awal. Cuma kan karena dia nggak boleh orang tahu, ya nggak aku kasih tahu, itu kan amanah ya. Tipenya dia nggak mau orang tau dia sakit. Dia bilang akan ngomong sama wartawan nanti ketika dia sudah sembuh, rambutnya sudah panjang lagi, sudah jalani operasi," ungkap Iis Dahlia di Kawasan Tendean, Jakarta Selatan, pada hari Senin (18/8).
Rencana untuk menjalani operasi pengangkatan kanker di salah satu rumah sakit di Malaysia sebenarnya sudah dekat. Namun, takdir berkata lain ketika ada kendala kecil yang memaksa tindakan medis yang sangat penting itu harus ditunda, hingga akhirnya Mpok Alpa meninggal dunia.
Persiapan untuk operasi telah dilakukan
"Karena kan terakhir itu sudah mau diangkat kankernya. Begitu ke sana, sudah opname, sudah mau tindakan, dia batuk. Dokter bilang kamu pulang dulu, nggak boleh. Kita nggak bisa operasi kalau kamu kondisinya lagi batuk. Diobatin dulu di Jakarta, nanti kalau sudah selesai baru balik lagi, katanya gitu," ujarnya.
Dalam situasi tersebut, Iis berinisiatif untuk membantu sahabatnya, Mpok Alpa, dalam berbagai urusan administrasi medis. Ia terlibat aktif dalam mengurus BPJS dan menghubungkan almarhumah dengan dokter yang ia kenal, demi memastikan Mpok Alpa mendapatkan perawatan yang terbaik.
"BPJS nya kemarin sudah mati, dihidupkan lagi. Kebetulan yang urus asuransinya aku kenal. Kebetulan dokternya juga aku kenal, jadi komunikasinya gampang," ujarnya.
Dengan dukungan dan kerjasama yang baik, Iis berharap semua proses administrasi dapat berjalan lancar. Ia merasa perlu untuk berkontribusi dalam usaha penyembuhan sahabatnya, mengingat kondisi Mpok Alpa yang memerlukan perhatian medis segera.
Berobat ke Malaysia dimulai
Perjuangan Mpok Alpa dalam mencari pengobatan di Malaysia tidaklah mudah. Proses awal yang dilalui sangat melelahkan, karena ia salah memilih rumah sakit yang kurang sesuai dengan kebutuhannya. Iis merasa kecewa karena Mpok Alpa tidak memberitahunya lebih awal, sehingga ia bisa membantu mengarahkan ke tempat yang lebih tepat.
"Bukan kena tipu sebenarnya, dianterin orang tapi dianterin tuh kayak ke rumah sakit pemerintah gitu loh. Jadi antre, dia bisa antre berjam-jam di Malaysia, itu yang pertama. Makanya aku bilang kenapa sih kamu nggak bilang, aku tahu rumah sakit di Penang, aku tahu nomor dokter khusus untuk kanker atau teman-teman di sana yang sudah berhasil," tuturnya.
Walaupun dalam keadaan sakit, semangat Mpok Alpa untuk terus bekerja tetap menyala. Bahkan ketika dirawat di salah satu rumah sakit di Jakarta, ia merasa ingin pulang karena merasa kondisinya sudah membaik dan merindukan anak-anaknya. Ketidakpastian dan tantangan yang dihadapi tidak menyurutkan niatnya untuk terus berjuang demi kesehatan dan keluarganya.
Pengalaman pingsan diikuti dengan dirawat di Rumah Sakit Dharmais
"Keluhan terakhir yang dia rasakan adalah pada tulang belakang. Sudah hampir seminggu dia dirawat di rumah sakit dan merasa tidak sakit lagi. Dia sangat ingin pulang karena merindukan anak-anaknya dan ingin kembali bekerja, meskipun pada akhirnya dia tidak bisa bekerja," kenang Iis.
Beberapa minggu setelah itu, kondisi Mpok Alpa menurun kembali dan dia sempat pingsan. Akibatnya, mendiang harus dibawa ke rumah sakit khusus kanker berdasarkan rujukan dokter di Malaysia.
"Setelah beberapa minggu pulang, dia pingsan lagi. Akhirnya, dia dirawat di Dharmais karena dokter di sana merekomendasikannya untuk dirawat di rumah sakit yang mengkhususkan diri dalam penanganan kanker," katanya.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4736029/original/023685400_1707199571-Infografis_SQ_Raja_Charles_III_Didiagnosis_Idap_Kanker.jpg)