Tak Lagi Penyakit Lansia, Kanker Kolorektal Mengintai Generasi Muda
Kanker kolorektal tidak lagi terbatas pada usia di atas 50 tahun, melainkan kini semakin sering dijumpai pada individu yang berusia di bawah 40 tahun.
Kanker kolorektal atau kanker usus besar biasanya ditemukan pada individu berusia 50 hingga 60 tahun. Namun, dalam dekade terakhir, terdapat peningkatan signifikan pada pasien yang berusia di bawah 40 tahun.
"Insidensi kanker kolorektal meningkat sangat tajam biasanya di atas umur 50-60 tahun. Tapi sekarang cenderung muda," ungkap dokter Seno Budi Santoso SpB Subsp BD (K) dari RS EMC Pulomas Jakarta.
Dalam seminar medis yang diselenggarakan oleh EMC Healthcare, Seno juga menambahkan, "Akhir-akhir ini saya menerima pasien Ca colon di bawah 40 tahun," pada Rabu, 11 Februari 2026.
Pasien yang didiagnosis dengan kanker kolorektal pada usia muda cenderung memiliki tingkat keganasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan pasien yang lebih tua. Hal ini sejalan dengan pernyataan Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Prof. Dr. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, SpPD-KHOM, FINASIM, FACP, yang menyoroti peningkatan jumlah pasien kanker kolorektal di kalangan orang muda. "Di negara-negara maju yang di bawah umur 40 tahun itu sekitar 10 persen, di Indonesia 30 persen, jangan hanya kita kelihatan sederhana kankernya sedikit, jadi fenomena yang kita lihat sekarang ini semakin muda dan semakin banyak," kata Prof Aru saat peringatan Hari Kanker Sedunia pada 4 Februari 2026, seperti yang dilansir oleh Antara.
Usia muda dapat mengalami kanker kolorektal disebabkan oleh beberapa faktor
Mengenai penyebab meningkatnya jumlah kasus kanker kolorektal pada usia yang lebih muda, Seno menjelaskan bahwa hal ini berkaitan dengan faktor-faktor intrinsik dan lingkungan. "Faktor intrinsik seperti faktor genetik. Lalu, faktor lingkungan ada yang bisa dikendalikan atau tidak, salah satunya lifestyle ya seperti makanan atau minuman seperti alkohol, minuman manis. Dulu kan minuman manis cuma beberapa sekarang minuman botol (tinggi gula) banyak sekali. Kan gula itu salah satu makanan kesukaan sel kanker," tutur Seno. Ia juga menambahkan, "Jadi, faktor gaya hidup itu mempengaruhi," ungkapnya.
Skrining kanker kolorektal dapat dilakukan melalui analisis feses
Salah satu metode yang dapat digunakan untuk melakukan skrining kanker kolorektal adalah dengan pemeriksaan feses. Jika hasil laboratorium menunjukkan adanya darah samar dalam feses, Seno menjelaskan, maka perlu dilakukan pemeriksaan yang lebih mendalam. "Walaupun darah itu belum tentu berasal dari kanker, bisa jadi juga disebabkan oleh makanan, misalnya saat kita mengonsumsi daging yang dapat menghasilkan hasil positif pada tes darah samar. Namun, adanya darah tersebut mengharuskan kita untuk melanjutkan ke pemeriksaan lebih lanjut," ujarnya. Meskipun demikian, gold standard untuk skrining kanker kolorektal adalah melalui prosedur endoskopi.
"Gold standard-nya adalah endoskopi. Baik ada atau tidaknya gejala, terutama pada laki-laki di atas usia 50 tahun, pemeriksaan ini sangat dianjurkan," kata dokter yang berpraktik di RS EMC Pulomas Jakarta tersebut. Endoskopi merupakan prosedur medis yang bersifat minimal invasif, yang memungkinkan dokter untuk melihat organ dalam tubuh secara langsung. Dengan menggunakan selang tipis yang dilengkapi kamera, dokter dapat memeriksa kondisi di dalam usus. "Benjolan sekecil kacang pun akan terlihat, dan pada saat yang sama, kami dapat melakukan penegakan diagnosis serta biopsi. Kami bisa mengambil sedikit jaringan untuk dianalisis, sehingga kita bisa mengetahui apakah tumor tersebut ganas atau jinak," tambah Seno. Jika kanker terdeteksi pada stadium awal, maka respons terhadap pengobatan biasanya akan lebih baik.
Selain itu, untuk laki-laki yang memiliki riwayat kanker dalam keluarga, pemeriksaan endoskopi dapat dilakukan lebih awal dari usia 50 tahun. Di negara-negara lain, skrining kanker kolorektal telah berjalan dengan baik, sehingga banyak kasus dapat terdeteksi pada tahap awal.