Upaya LAN Cetak Agen Perubahan: Dorong Birokrat Kembangkan Diri dan Berinovasi, Wujudkan Indonesia Emas 2045
Jika melihat sejarah peradaban suatu bangsa, bahwa perubahan dilakukan hanya oleh segelintir orang yang disebut agent of change.
Dinamika global yang bergerak cepat, ditandai dengan perkembangan teknologi digital, disrupsi ekonomi, hingga pergeseran demografi, menuntut birokrasi untuk beradaptasi dengan cepat. Birokrasi Indonesia sendiri mengalami tantangan serupa, lebih dari 60 persen Aparatur Sipil Negara (ASN) atau PNS saat ini didominasi oleh generasi milenial, dan gen-Z, yang tentu saja hal ini juga mendorong adanya perubahan pola pikir dan pola kerja birokrasi dalam merespon harapan dan tuntutan masyarakat akan pelayanan publik yang lebih berkualitas.
Hal ini diungkapkan Kepala Lembaga Administrasi Negara (LAN), Muhammad Taufiq, DEA saat memberikan keynote spech pada Kick Off Reformer Academy, secara daring.
Dia menjelaskanm program Reformer Academy ini merupakan bagian integral dari agenda reformasi birokrasi yang disusun oleh LAN untuk menciptakan semangat transformasi di sektor publik dengan menciptakan agen perubahan (agent of change) di setiap lini birokrasi. Program ini juga mendorong para birokrat untuk mampu mengembangkan diri dan berinovasi mulai dari diri sendiri tanpa menunggu perubahan yang lebih besar dari luar.
"Tujuan lainnya ialah, menumbuhkan perubahan positif bagi generasi muda untuk menjadi agen perubahan, memiliki pengetahuan relevan dengan perubahan sehingga berkontribusi menjadikan indonesia lebih baik, berkontribusi dalam mewujudkan Indonesia emas 2045 mendatang," katanya.
Muhammad Taufiq menegaskan, perubahan menjadi kata kunci untuk ASN dalam merespon harapan, dan tuntutan masyarakat, pemerintah serta kemampuan beradaptasi dengan perkembangan global. Bukan hanya perubahan yang biasa saja melainkan perubahan yang adaptif, inovatif dan berdampak.
Jika melihat sejarah peradaban suatu bangsa, bahwa perubahan dilakukan hanya oleh segelintir orang yang disebut agent of change, kemudian diperkuat menjadi sebuah critical mass yang berjalan secara masif dan berkelanjutan. Melalui program Reformer Academy ini, peserta akan dididik memiliki kemampuan untuk mendorong perubahan diorganisasinya mulai dari hal-hal kecil ke hal yang lebih besar dan masif.
"Reformer Academy bukan sekedar ajang pelatihan biasa saja karena akan membekali kemampuan para future leader untuk menggagas aksi perubahan yang otentik dan disusun dengan pemikiran, value, cara baru para ASN muda yang akan menentukan trayektori perubahan indonesia di masa yang akan datang," harapnya.
Lahirkan Champion Perubahan
Sementara itu, Deputi Bidang Transformasi Pembelajaran ASN, Erna Irawaty menyampaikan, kegiatan kick off Reformer Academy ini diikuti oleh 285 ASN dari berbagai instansi. Selanjutnya, peserta akan diseleksi menjadi 100 orang untuk mengikuti bootcamp daring, lalu dikerucutkan menjadi 30 orang terpilih yang berkesempatan mengikuti offline bootcamp.
"LAN menargetkan Reformer Academy melahirkan champion perubahan dan future leader ASN, khususnya generasi muda yang tidak hanya menjadi pelaksana kebijakan, tetapi juga penggerak transformasi birokrasi menuju tata kelola yang berdampak," katanya.
Senada dengan hal tersebut, Chief of Talent and Transformation, KTM Solution, Ivan Ahda menekankan bahwa manajemen perubahan membutuhkan tiga elemen utama, pertama, Intensi, yakni dorongan kuat untuk menggagas ide perubahan, bukan sekadar menjalankan program rutin.
Kedua, kapabilitas, yaitu keterampilan ASN untuk mengeksekusi perubahan yang nyata dan terukur. Dan terakhir kemampuan mengkomunikasikan serta menginspirasi orang lain untuk melakukan perubahan tersebut.