Trivia: CIR Bank Jago Turun Drastis! Efisiensi Operasional Bank Jago Capai 59 Persen di Q3-2025, Laba Meroket 132%
Bank Jago berhasil meningkatkan efisiensi operasional secara signifikan pada Kuartal III-2025, menurunkan rasio CIR menjadi 59% dan mendongkrak laba bersih hingga 132%. Bagaimana strategi mereka?
PT Bank Jago Tbk menunjukkan kinerja impresif pada Kuartal III-2025 dengan peningkatan efisiensi operasional yang signifikan. Hal ini tercermin dari penurunan rasio biaya ke pendapatan (Cost to Income Ratio/CIR) yang berhasil ditekan dari 74 persen menjadi 59 persen. Pencapaian ini menegaskan komitmen perseroan dalam mengelola efektivitas biaya operasional.
Direktur Utama Bank Jago, Arief Harris Tandjung, menjelaskan bahwa pertumbuhan bisnis yang sehat menjadi prioritas utama. Strategi ini tidak hanya berfokus pada ekspansi, tetapi juga pada pengelolaan biaya yang efektif dan peningkatan produktivitas. Hasilnya, laba bersih Bank Jago melonjak drastis.
Pada periode yang sama, laba bersih Bank Jago tercatat meningkat 132 persen, mencapai Rp199 miliar, dibandingkan dengan Rp86 miliar pada posisi yang sama di tahun 2024. Angka ini menunjukkan dampak positif dari strategi efisiensi operasional yang diterapkan secara konsisten oleh Bank Jago.
Strategi Jitu Pangkas Rasio Biaya ke Pendapatan (CIR)
Penurunan rasio CIR Bank Jago menjadi 59 persen pada Kuartal III-2025 merupakan bukti nyata dari keberhasilan strategi efisiensi operasional yang diterapkan. Sebelumnya, rasio ini berada di angka 74 persen, menandakan perbaikan yang substansial dalam pengelolaan biaya. Efisiensi ini menjadi kunci dalam mendongkrak profitabilitas perusahaan.
Arief Harris Tandjung menegaskan pentingnya indikator CIR sebagai cerminan efisiensi. "Indikatornya adalah Cost to Income Ratio yang membaik dari sekitar 74 persen menjadi 59 persen. Makin rendah artinya operasi makin efisien. Saya percaya ke depan akan turun terus," ujarnya dalam diskusi dengan media di Surabaya. Komitmen untuk terus menekan rasio ini menunjukkan visi jangka panjang Bank Jago.
Peningkatan laba bersih Bank Jago sebesar 132 persen menjadi Rp199 miliar tidak dicapai melalui ekspansi besar-besaran. Sebaliknya, hal ini merupakan hasil dari efisiensi dan penerapan strategi prioritas yang lebih tajam. Bank Jago membuktikan bahwa pertumbuhan bisnis yang sehat dapat dicapai dengan pengelolaan biaya yang cermat dan fokus pada produktivitas.
Teknologi dan Sumber Daya Manusia sebagai Pilar Utama
Bank Jago memaksimalkan pemanfaatan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), untuk memperkuat sistem operasionalnya. Integrasi AI ini tidak hanya meningkatkan efisiensi, tetapi juga mendukung kinerja karyawan secara keseluruhan. Pemanfaatan teknologi menjadi tulang punggung dalam upaya Bank Jago menjaga efisiensi operasional.
Selain teknologi, peningkatan kompetensi sumber daya manusia (SDM) juga menjadi fokus utama. "Tim HR dan bisnis kami memastikan kapasitas SDM meningkat tiap tahun agar bisa tersampaikan hasil lebih baik," kata Arief. Investasi pada SDM ini krusial untuk memastikan bahwa karyawan memiliki keterampilan yang relevan dan produktif dalam menghadapi tantangan bisnis.
Hingga kini, nasabah aktif Bank Jago mencapai sekitar 19 juta, menunjukkan penerimaan pasar yang luas. Volume transaksi menggunakan kode respon cepat (QRIS) tumbuh tiga hingga empat kali lipat dibandingkan tahun lalu. "Volume transaksi QRIS meningkat 3–4 kali lipat dibanding tahun lalu, jauh lebih cepat dari pertumbuhan jumlah nasabah. Artinya, nasabah semakin engaged dan menjadikan Jago bagian dari aktivitas keuangan harian mereka," jelas Arief, menandakan intensitas penggunaan aplikasi Jago yang terus meningkat.
Pertumbuhan Aset Sehat dan Inisiatif Produk Baru
Kualitas aset Bank Jago juga patut diacungi jempol, dengan rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) yang tercatat sangat rendah, yakni 0,4 persen. Angka ini merupakan salah satu yang terendah di industri perbankan, menunjukkan manajemen risiko yang kuat. "Peningkatan bisnis terjadi karena kami mampu menumbuhkan bisnis dengan sehat sekaligus menjaga kualitas kredit. Rasio NPL kami saat ini hanya sekitar 0,4 persen," ujar Arief.
Pertumbuhan total aset Bank Jago mencapai 28 persen secara tahunan (yoy) pada Kuartal III-2025, mencapai Rp34,5 triliun, naik dari Rp26,8 triliun pada September 2024. Pertumbuhan aset ini didorong oleh penyaluran kredit sebesar Rp23,5 triliun hingga akhir September 2025, tumbuh 36 persen dibandingkan posisi yang sama tahun lalu sebesar Rp17,3 triliun.
Penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) juga menunjukkan performa cemerlang, mencapai Rp23,9 triliun hingga akhir September 2025, atau naik 41 persen dibandingkan posisi yang sama tahun lalu sebesar Rp17 triliun. Angka-angka ini mengindikasikan kepercayaan publik yang tinggi terhadap Bank Jago.
Ke depan, efisiensi operasional akan terus diiringi dengan kolaborasi strategis dan pengembangan produk yang berfokus pada nilai tambah. Bank Jago menyiapkan sejumlah inisiatif baru, di antaranya Jago Dana Siaga, produk pinjaman untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan tak terduga. "Kolaborasi bukan hanya untuk memperluas bisnis, tapi juga memberi nilai tambah bagi nasabah dari sisi ekosistem partner. Melalui sinergi yang lebih dalam, kami bisa menciptakan produk yang unik dan relevan," tutup Arief.
Sumber: AntaraNews