Ternyata Makin Banyak Eksportir Tukar Devisa Hasil Ekspor ke Rupiah, Kurs Jadi Terjaga Stabil
Menurut Firman, ketika devisa hasil ekspor ditukarkan ke Rupiah, otomatis suplai dolar AS di pasar meningkat.
Bank Indonesia (BI) mencatat perkembangan positif dari kebijakan penempatan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA).
Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, Firman Mochtar mengatakan bahwa DHE masih tetap besar seiring prospek pertumbuhan ekspor nasional. Salah satu indikator yang menggembirakan adalah peningkatan konversi devisa ke dalam mata uang Rupiah.
"Terkait dengan DHE yang pasti adalah memang DHE ini masih tetap ada, masih tetap besar sesuai dengan prospek kekembangan ekspor. Bahkan yang menjadi perkembangan positif konversi dari DHE itu juga meningkat," kata Firman dalam Taklimat Media di kantor Bank Indonesia, Jakarta, Kamis (24/7).
Menurut Firman, ketika devisa hasil ekspor ditukarkan ke Rupiah, otomatis suplai dolar AS di pasar meningkat. Ketersediaan dolar yang melimpah ini memicu permintaan terhadap Rupiah, sehingga berdampak pada penguatan nilai tukar Rupiah.
"Jadi, duit yang diterima itu ditukarkan ke dalam Rupiah. Kalau duitnya ditukarkan berarti ada tambahan suplai dolar. Kalau suplai dolarnya bertambah berarti nanti permintaan terhadap Rupiahnya naik. Makanya itu yang mendorong mengapa kurs kita juga menguat," jelasnya.
Menurutnya, hal ini merupakan salah satu manfaat langsung dari kebijakan konversi DHE yang diperkuat sejak 1 Maret lalu. Penguatan nilai tukar rupiah menjadi sinyal positif bagi stabilitas ekonomi domestik.
"Jadi, DHE ini yang sudah mulai diperkuat 1 Maret lalu itu berdampak positif terhadap tambahan suplainya," ujarnya.
Pasar Valas Meningkat
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea menyebut bahwa sejak diberlakukannya Peraturan Pemerintah (PP) terkait konversi DHE, transaksi di pasar valuta asing meningkat signifikan. BI mengamati adanya lonjakan transaksi sekitar USD 1 miliar per hari dari aktivitas para eksportir.
"Di pasar itu memang sejak PP untuk ada transmisi. Sejak PP konversi itu diperbolehkan. Itu kita melihat on daily basis ya. Transaksi pasar valas itu nambah kira-kira USD 1 miliar nambahnya," kata Erwin.
Menurut Erwin, peningkatan ini terjadi karena sejumlah eksportir besar memanfaatkan kelonggaran yang diizinkan oleh PP. Mereka melakukan konversi DHE ke Rupiah sesuai kebutuhan usaha dan dalam kerangka aturan yang berlaku. Ini menjadi sumber tambahan pasokan valas yang mendukung stabilitas moneter.
Jaga Kestabilan Nilai Tukar Rupiah
Erwin menjelaskan bahwa masuknya DHE ke pasar valas domestik memperkuat posisi BI dalam menjaga kestabilan nilai tukar dan menambah cadangan devisa. Jumlah USD 1 miliar per hari menjadi angka yang cukup signifikan, menandakan partisipasi aktif eksportir dalam mendukung perekonomian nasional.
Dia berharap, tren positif ini bisa berlanjut, terutama mengingat adanya perubahan kebijakan tarif perdagangan internasional yang lebih menguntungkan Indonesia. Salah satunya adalah penurunan tarif dari 32 persen menjadi 19 persen dalam kerja sama dengan negara mitra, yang berpotensi meningkatkan volume ekspor.
"Nambah USD 1 miliar kan lumayan. Dan memang kami amati itu beberapa eksportir besar melakukan penjualan. Dan mudah-mudahan ini terus bertahan. Apalagi dengan kesepakatan tarif yang turun ya dari 32 persen ke 19 persen," pungkas Erwin.