Heboh 1 Dolar AS Jadi Hanya Rp8.170, Pengamat: Bentuk Sindiran Kondisi Ekonomi Indonesia
pengamat pasar uang Ibrahim, Assuaibi mengungkapkan bahwa peristiwa ini bukan terjadi secara alami.
Masyarakat di media sosial dibuat gempar dengan perubahan mendadak nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap Rupiah yang tiba-tiba tercatat di angka Rp8.170 per USD. Angka ini jauh dari nilai tukar yang sebenarnya, yang masih bertengger di atas Rp16.000-an per USD atau Dolar AS.
Menanggapi fenomena tersebut, pengamat pasar uang Ibrahim, Assuaibi mengungkapkan bahwa peristiwa ini bukan terjadi secara alami, melainkan akibat ulah hacker yang sengaja mengubah tampilan nilai tukar untuk menciptakan kehebohan.
"Itu permainan hacker," tegas Ibrahim kepada merdeka.com pada Sabtu (1/1).
Siapa Dalang di Balik Perubahan Drastis Ini?
Menurut Ibrahim, ada kemungkinan kelompok tertentu yang tidak bertanggung jawab sengaja mengutak-atik angka nilai tukar. Hal ini bisa jadi merupakan bentuk sindiran terhadap kondisi ekonomi Indonesia di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
"Oarena kita lihat bahwa bisa saja ada orang-orang yang tidak bertanggung jawab yang mereka menganggap bahwa pemerintahan saat ini rupiahnya itu masih tetap di atas Rp16.000 ya, sedangkan pemerintahan Prabowo sendiri kan mengatakan bahwa Prabowo optimis pertumbuhan ekonomi tahun 2025 itu 8 persen," jelasnya.
Optimisme ini juga didukung oleh Bank Indonesia yang memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada 4,8-5,1 persen sementara Kementerian Keuangan memperkirakan angka 5,2 persen. Namun, di sisi lain, Bank Dunia justru lebih pesimistis dengan merevisi pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2025 menjadi hanya 3,3 persen.
"Nah, yang bisa dipegang itu siapa? Ya, kemudian pada saat pemerintahan Prabowo dilantik, ya, kemudian Rupiah masih tetap di atas 16.000. Dan bahkan, ya, kemungkinan besar di perdagangan hari Senin besok pun juga masih akan melemah. Ya, memang secara statistik, ya, dalam pemerintahan Prabowo ini bersamaan dengan kemenangan Trump sebagai Presiden Amerika kemudian Trump seorang implasioner," ujar Ibrahim.
Pengaruh Donald Trump dan Ketidakstabilan Global
Tak hanya faktor domestik, kondisi global juga ikut berperan dalam pergerakan nilai tukar Rupiah. Terlebih lagi, jika Donald Trump kembali terpilih sebagai Presiden AS, kebijakan-kebijakan ekonomi yang dia bawa berpotensi mengguncang pasar keuangan dunia.
"Ya, lagi-lagi akan melakukan perang dagang, ya, baik dengan China, kemudian Eropa, Kanada, dan Meksiko. Di sisi lain pun juga kemarin Trump sendiri memberikan cenderung perang kembali terhadap negara anggota-anggota BRIS yang dalam perdagangan internasional yang tidak menggunakan dolar, itu akan mendapatkan sanksi," jelas Ibrahim.
Selain itu, kebijakan suku bunga oleh Bank Sentral AS (The Fed) juga menjadi faktor utama dalam pergerakan nilai tukar. Meskipun Trump menginginkan suku bunga yang lebih rendah, The Fed tetap mempertahankan kebijakannya secara independen.
"Tetapi apa yang terjadi pada saat pertemuan di hari Kamis kemarin, Bank Sentral Amerika masih tetap mempertahankan suku bunga. Artinya apa? Apa yang diucapkan oleh Trump," jelasnya.
"Nah, inilah yang membuat gonjang-ganjing sehingga dolar ini mengalami penguatannya yang cukup signifikan. Sehingga berdampak terhadap kelemahan mata uang rupiah," tambah dia.
Gap Up ke Rp8.000? Itu Mustahil
Ibrahim juga menegaskan perubahan kurs ke Rp8.000 per dolar tidak memiliki dasar ekonomi yang kuat.
"Tidak ada fundamental yang membuat Rp8.000, tidak ada sama sekali. Karena saat ini memang dolar terus mengalami penguatan, ya kemungkinan akan berdampak terhadap kelemahan mata uang rupiah," tegasnya.
Bahkan, hacker tersebut tidak hanya memanipulasi kurs rupiah, tetapi juga nilai tukar dolar Singapura, yang menunjukkan bahwa aksi ini dilakukan secara sistematis.
Lebih jauh, Ibrahim mengungkapkan bahwa aksi ini mungkin dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak puas dengan pemerintahan Prabowo.
"Nah itu yang membuat para hacker, orang-orang yang tidak suka dengan pemerintahan, mereka itu istilahnya dari pada kita mengkritik dengan bahasa-bahasa politik, mereka mendingan mengkritik dengan bahasa-bahasa Rupiah," tutur dia.
Beberapa pihak bahkan menghubungkan kejadian ini dengan target pertumbuhan ekonomi 8 persen yang dicanangkan Prabowo.
"Jadi kalau orang bilang gini, kalau 8 persen pertumbuhan ekonomi di tahun 2025, ini harusnya Rp8000. Harusnya Rp8000. Bahasanya itu cuma ini saja, kalau orang bilang itu ngejek lah. Kenapa 8 persen ke rupiah masih di atas Rp16.000," ungkapnya.