Ternyata Investasi Emas Tetap Ada Risikonya, Begini Penjelasan Peneliti
Salah satu risiko utama yang terkait dengan investasi emas adalah volatilitas harga.
Investasi emas sering kali dianggap sebagai pilihan yang aman dan menguntungkan, terutama dalam situasi ketidakpastian ekonomi global. Namun, meskipun emas dikenal sebagai 'safe haven' atau tempat berlindung yang aman, investasi dalam emas juga memiliki risiko dan biaya tertentu yang perlu diperhatikan oleh para investor.
Peneliti dari Center for Sharia Economics Development (CSED) Institute for Development of Economics & Finance (Indef), Murniati Mukhlisin mengungkapkan beberapa konsekuensi yang harus dipertimbangkan oleh investor yang tertarik untuk berinvestasi dalam logam mulia ini.
Salah satu risiko utama yang terkait dengan investasi emas adalah volatilitas harga. Meskipun secara umum harga emas cenderung stabil dalam jangka panjang, harga emas tetap dipengaruhi oleh berbagai faktor global, seperti ketegangan geopolitik dan kebijakan moneter dari negara-negara besar.
Murniati mengingatkan bahwa meskipun emas sering disebut sebagai tempat perlindungan dari inflasi, harga emas bisa turun dalam periode tertentu, terutama dalam rentang waktu satu hingga dua tahun.
"Walaupun katanya itu (emas) safe haven, tapi bisa turun seperti tadi ya, ada statistiknya ditunjukkan bahwa ada yang kadang-kadang dia turun, terutama untuk jangka waktu 1 tahun, 2 tahun," kata Murniati dalam diskuis Indef Terkiat Bullion Bank, Rabu (26/2).
Selain volatilitas harga, investor emas juga harus mempertimbangkan biaya penyimpanan emas, baik itu dalam bentuk fisik maupun digital.
Emas fisik membutuhkan tempat penyimpanan yang aman, seperti safe deposit box (SDB) di bank. Biaya untuk menyewa SDB ini dapat bervariasi, tergantung pada ukuran dan lokasi box tersebut.
"Biaya penyimpanan keamanan ini juga kita bisa lihat penyimpanan fisik mahal, kita harus bayar di SDB-SDB yang ada di bank-bank syariah, di bank-bank ya, save deposit box, tergantung dari size dari save deposit box, kita harus bayar ya," ujarnya.
Menurutnya, jika emas disimpan di rumah, risiko pencurian menjadi perhatian utama, yang dapat mengurangi keamanan investasi. Sementara itu, untuk emas digital, meskipun lebih praktis dalam penyimpanan, investor tetap perlu mempertimbangkan biaya tambahan untuk pencetakan emas digital tersebut.
"Kalau simpan di rumah, nah ini dia ya, risiko pencurian. Dan kalau misalnya kita naruh di bank digital, harga untuk nyetaknya juga harus dibayar lagi. Jadi harga emas digital dengan harga emas fisik beda ya," jelasnya.
Konsekuensi Lainnya
Lebih lanjut, Murniati mengatakan, meski emas dikenal sebagai aset yang likuid, proses menjual emas fisik tetap memerlukan waktu. Di beberapa daerah, seperti Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat, emas fisik digunakan dalam transaksi tradisional seperti menggadaikan sawah.
Namun, proses untuk menebus gadai tersebut tetap membutuhkan waktu, dan nilai tebusan tergantung pada jumlah emas yang diambil saat penggadaian. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun emas dapat diperjualbelikan, likuiditasnya tidak selalu instan.
"Kemudian untuk likuiditas, kalau emas fisik walaupun ya memang memakan waktu ya," ujarnya.
Pertambangan Emas: Legalitas dan Ilegalitas
Lebih lanjut, dia menyampaikan bahwa di Indonesia, terdapat dua jenis pertambangan emas, yakni yang legal dan yang ilegal. Pertambangan yang legal tentunya memiliki izin resmi dan dikelola oleh perusahaan besar dengan standar operasional tertentu.
Namun, pertambangan ilegal seringkali dilakukan tanpa izin dan tidak memperhatikan kaidah-kaidah lingkungan yang berlaku. Dampak dari pertambangan emas ilegal sangat mencemaskan, terutama dalam hal kerusakan lingkungan.
Penggunaan bahan kimia berbahaya untuk mengekstraksi emas, seperti merkuri dan sianida, sering kali mencemari sungai-sungai di daerah sekitar, menyebabkan polusi air yang merugikan ekosistem dan kesehatan manusia.
Kegiatan pertambangan emas, baik yang legal maupun ilegal, berpotensi merusak lingkungan. Salah satu contohnya dapat dilihat di area pertambangan Newmont di Nusa Tenggara Barat, yang penulis kunjungi beberapa waktu lalu.
Di sana, proses ekstraksi emas dilakukan dengan peledakan gunung untuk mengambil bijih emas. Proses ini, yang juga melibatkan penyulingan, menghasilkan limbah yang sering kali dibuang langsung ke laut, mengancam kehidupan laut dan kualitas air.
"Saya pernah melihat di Newmont di Nusa Tenggara Barat, pernah terbang ke sana, melihat langsung bagaimana gunung di sana itu ada pengembomannya, untuk mengeluarkan emas peraknya dari dalam bumi, dan ketika itu disuling, kemudian kotorannya itu akan disalurkan ke laut. Nah," biasanya ada permasalahan dari sisi dampak lingkungan ya, dampak lingkungan sosial di daerah sekitar," pungkasnya.