Ternyata Ini Syarat Utama untuk Bangun Kereta Cepat Jakarta-Surabaya
Dwiyana menyebut bahwa pemerintah sebenarnya sudah memiliki 'master plan' kereta cepat Jakarta-Surabaya.
Direktur Utama PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) Dwiyana Slamet Riyadi buka-bukaan soal keberlanjutan kereta cepat Jakarta-Surabaya. Menurutnya, pembangunan ini bergantung pada dukungan pemerintah.
"Kereta api cepat itu mahal, tidak semua perbankan atau lembaga keuangan mampu dan mau mendanai kereta cepat, makanya di banyak negara penyediaan kereta cepat itu dari pemerintah, tergantung good will pemerintah," kata Dwiyana dikutip dari Antara, Rabu (9/7).
"Minimal lahan dan sebagian infrastruktur itu pasti dari pemerintah, jadinya berat kalau semuanya ditanggung KCIC sehingga beban yang harus ditanggung KCIC untuk pengembalian investasinya menjadi lama, ini salah satu pelajaran dari proyek Whoosh kemarin," tambah Dwiyana.
Namun, menurut Dwiyana, sewajarnya bagi KCIC untuk terus berkembang, bukan hanya melayani rute Jakarta-Bandung. "Kalau secara skala ekonomi memang suatu keharusan untuk ditambah misalnya ke Yogyakarta atau ke Surabaya, tapi semuanya harus tergantung kepada pemerintah," ungkap Dwiyana.
Dwiyana menyebut bahwa pemerintah sebenarnya sudah memiliki 'master plan' kereta cepat Jakarta-Surabaya dalam Sistem Transportasi Nasiona.
"Tapi saat ini rencana tersebut sedang 'direview' oleh Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan. Pak AHY karena sudah lama, jadi perlu untuk menyesuaikan dengan kondisi terkini," tambah Dwiyana.
Masih Tahap Preliminary Study
Sedangkan untuk kereta cepat Jakarta-Surabaya sendiri menurut Dwiyana saat ini masih dalam tahap 'preliminary study' sehingga belum bisa ditentukan mengenai trase (rencana tapak jalur kereta cepat yang telah diketahui titik-titik koordinatnya) di mana, apakah memungkinkan untuk dibangun, kemampuan pembiayaan dan lainnya.
"Belum sampai situ, masih jauh, tapi dari pemerintah ada niat untuk mendorong ke arah sana. Tergantung sekarang dari sisi finansialnya bagaimana, atau trasenya bagaimana dan lain-lain karena kita belajar dari proyek Jakarta-Bandung yang butuh banyak evaluasi," jelas Dwiyana.
Untuk 'preliminary study' kereta cepat Jakarta-Surabaya dikerjakan oleh konsutan asal China yaitu China Railway Design Corporation (CRDC) dan beberapa konsultan dari Indonesia.
"Jadi ada beberapa yang mengerjakan, supaya masukannya lebih berimbang," ungkap Dwiyana.
Kereta Cepat Jakarta-Bandung
Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh) sendiri pertama kali beroperasi untuk umum pada 2 Oktober 2023 dan hingga Juni 2025 telah melayani lebih dari 10.014.707 penumpang.
Whoosh menelan investasi hingga USD 7,2 miliar atau setara Rp110,16 triliun. Nilai investasi tersebut sebelumnya telah mengalami pembengkakan biaya sebesar USD 1,2 miliar (Rp18,36 triliun) dari target awal biaya proyek sebesar USD 6 miliar (Rp91,8 triliun).
Sebanyak 60 persen dari pembengkakan biaya atau sekitar USD 720 juta (Rp11,1 triliun) akan dibayarkan oleh konsorsium dari Indonesia, sementara 40 persen sisanya atau sekitar USD 480 juta(Rp7,36 triliun) akan dibayarkan oleh konsorsium China.
Indonesia mendapatkan pinjaman dari China Development Bank (CBD) untuk proyek tersebut sekitar 75 persen atau sekitar Rp70,5 triliun. Dengan pembengkakan biaya tersebut, CBD kembali memberikan pinjaman kepada Indonesia sebesar USD 550 juta atau sekitar Rp8,5 triliun dengan bunga 3,4 persen dan tenor 30 tahun.
Total utang Indonesia dalam proyek kereta cepat Jakarta-Bandung pun mencapai Rp79 triliun.
Dengan asumsi bunga 3,4 persen dan tenor 30 tahun (360 bulan) maka setiap bulannya, utang pokok yang harus dibayarkan adalah sebesar Rp219,44 miliar. Sementara bunga yang harus dibayar per bulan adalah Rp7,46 miliar per bulan. Dengan hitungan kasar, nilai utang pokok dan bunga yang bakal dibayarkan untuk melunasi utang kereta cepat mencapai Rp226,9 miliar.