Surplus 159 Ribu Ton Beras, Program Presiden Dongkrak Produksi Pertanian Banyuwangi
Produksi Pertanian Banyuwangi melonjak signifikan berkat program ketahanan pangan Presiden, menghasilkan surplus beras hingga 159 ribu ton. Petani kini tak lagi kesulitan pupuk dan harga gabah stabil, melebihi HPP. Simak selengkapnya!
Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, mengalami peningkatan signifikan dalam produksi pertanian berkat berbagai program ketahanan pangan yang digulirkan oleh Presiden Prabowo Subianto. Peningkatan ini tidak hanya menciptakan surplus beras, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan para petani di wilayah tersebut. Dukungan pemerintah pusat dan daerah telah memberikan dampak positif yang nyata.
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menyatakan bahwa petani di daerahnya kini tidak lagi menghadapi kesulitan dalam mendapatkan pupuk. Selain itu, harga gabah kering panen (GKP) juga terjaga stabil dan bahkan melebihi Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Kondisi ini menciptakan iklim yang kondusif bagi sektor pertanian di Banyuwangi.
Pernyataan tersebut disampaikan Bupati Ipuk setelah berdialog langsung dengan perwakilan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Mangir, Kecamatan Rogojampi, pada Rabu (24/9) lalu. Para petani mengungkapkan rasa syukur atas kelancaran pasokan pupuk dan stabilnya harga gabah di masa kepemimpinan Presiden Prabowo.
Petani Rasakan Manfaat Program Ketahanan Pangan
Dalam dialog tersebut, perwakilan Gapoktan Desa Mangir secara langsung menyampaikan apresiasi mereka terhadap program pemerintah. Mereka merasa sangat terbantu dengan ketersediaan pupuk yang lancar, sebuah masalah yang kerap menghantui petani di masa lalu. Kelancaran ini memastikan proses tanam hingga panen berjalan optimal.
Selain itu, harga gabah kering panen yang mencapai Rp7.300 per kilogram juga menjadi kabar gembira bagi petani. Angka ini jauh di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang ditetapkan sebesar Rp6.500 per kilogram. Kondisi harga yang stabil dan menguntungkan ini meningkatkan pendapatan petani secara signifikan.
Bupati Ipuk Fiestiandani mengungkapkan rasa syukurnya atas manfaat program ketahanan pangan yang telah dirasakan langsung oleh petani. Program ini merupakan hasil kolaborasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah setempat. "Kami berterima kasih atas dukungan pemerintah pusat dan provinsi serta seluruh pihak yang terlibat, ini semua juga berkat kerja keras dari para petani," kata Ipuk.
Banyuwangi Jadi Lumbung Pangan Jawa Timur
Saat ini, Banyuwangi berhasil mencapai surplus padi dan masuk dalam lima besar penyumbang padi terbesar di Jawa Timur. Keberhasilan ini tidak hanya terbatas pada padi, tetapi juga mencakup peningkatan produksi tanaman hortikultura. Buah naga, jambu, dan berbagai komoditas lainnya menunjukkan tren peningkatan yang positif.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Banyuwangi, Ilham Juanda, menambahkan bahwa hasil panen petani cukup melimpah meskipun sempat terkendala hama. "Secara keseluruhan produksi beras Banyuwangi hingga saat ini masih surplus," ujarnya, menegaskan ketahanan pangan di daerah tersebut.
Data menunjukkan bahwa pada periode Januari hingga Mei 2025, produksi beras di Banyuwangi mencapai 228.000 ton. Sementara itu, kebutuhan masyarakat Banyuwangi pada periode yang sama sekitar 68.000 ton. Hal ini menghasilkan surplus beras sebesar 159.000 ton, menunjukkan kapasitas produksi yang luar biasa.
Komitmen Berkelanjutan untuk Sektor Pertanian
Pemerintah Kabupaten Banyuwangi berkomitmen penuh untuk terus mendukung sektor pertanian. Bupati Ipuk Fiestiandani menyatakan akan terus mengupayakan perluasan bantuan alat-alat pertanian yang dibutuhkan oleh para petani. Bantuan ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas.
Selain itu, Pemkab Banyuwangi juga berencana untuk menguatkan sistem irigasi dan infrastruktur pertanian. Optimalisasi distribusi pupuk dan benih unggul juga menjadi prioritas. Langkah-langkah ini bertujuan untuk menciptakan ekosistem pertanian yang lebih modern dan berkelanjutan.
Komitmen lain termasuk mengolah hasil panen agar bernilai tambah melalui hilirisasi dan diversifikasi pangan. "Termasuk mengolah hasil panen agar bernilai tambah melalui hilirisasi dan diversifikasi pangan, serta mendorong mekanisasi dan digitalisasi pertanian," kata Ipuk, menekankan pentingnya inovasi dalam pertanian.
Sumber: AntaraNews