DPR RI Soroti Tantangan Penyaluran Bantuan Pangan Bulog Mimika di Wilayah Pegunungan

Anggota DPR RI bersama Kapolda Papua Tengah memantau Penyaluran Bantuan Pangan Bulog Mimika, menyoroti kendala geografis yang memperlambat distribusi ke daerah terpencil.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
DPR RI Soroti Tantangan Penyaluran Bantuan Pangan Bulog Mimika di Wilayah Pegunungan
Anggota DPR RI bersama Kapolda Papua Tengah memantau Penyaluran Bantuan Pangan Bulog Mimika, menyoroti kendala geografis yang memperlambat distribusi ke daerah terpencil. (AntaraNews)

Anggota Komisi IV DPR RI, Yan Permenas Mandenas, bersama Kepala Kepolisian Daerah Papua Tengah, Brigjen Pol Jeremias Rontini, melakukan kunjungan kerja ke Kantor Perum Bulog Cabang Mimika. Kunjungan ini bertujuan untuk memantau langsung ketersediaan stok dan efektivitas Penyaluran Bantuan Pangan Bulog Mimika di wilayah tersebut. Fokus utama pemantauan adalah memastikan bantuan pangan dapat menjangkau masyarakat yang membutuhkan, terutama di daerah-daerah terpencil.

Dalam kesempatan tersebut, Yan Mandenas menyoroti adanya kendala signifikan dalam proses distribusi bantuan pangan, khususnya ke Kabupaten Puncak. Kondisi geografis yang ekstrem menjadi faktor utama penyebab lamanya waktu penyaluran bantuan. Hal ini mengakibatkan masyarakat di wilayah pegunungan harus menunggu lebih lama untuk menerima hak mereka atas bantuan pangan.

Brigjen Pol Jeremias Rontini menegaskan komitmen aparat kepolisian untuk mendukung penuh kelancaran Penyaluran Bantuan Pangan Bulog Mimika. Pengamanan akan dilakukan mulai dari gudang Bulog hingga titik distribusi akhir. Kolaborasi antara TNI dan Polri diharapkan dapat memastikan bantuan sampai dengan aman kepada para penerima manfaat.

Distribusi bantuan pangan di wilayah Papua, khususnya dari Bulog Mimika ke daerah pegunungan seperti Kabupaten Puncak, menghadapi tantangan geografis yang unik dan kompleks. Yan Mandenas menjelaskan bahwa akses ke wilayah tersebut sangat terbatas, hanya bisa dijangkau melalui jalur udara. Pesawat yang digunakan pun berbadan kecil, sehingga kapasitas angkutnya terbatas, mempengaruhi kecepatan penyaluran bantuan pangan.

Keterbatasan ini menyebabkan proses pengangkutan bantuan pangan hanya mampu mencapai sekitar 15 ton per hari, memperpanjang durasi Penyaluran Bantuan Pangan Bulog Mimika secara keseluruhan. Kepala Kantor Perum Bulog Cabang Mimika, Dedy Wahyudi, menambahkan bahwa durasi penyaluran di Papua tidak bisa disamakan dengan wilayah Jawa. Jika di Jawa penyaluran satu bulan bisa selesai dalam sebulan, di Papua bisa memakan waktu dua bulan atau bahkan lebih lama.

Dedy Wahyudi memberikan ilustrasi, "Di sini kalau waktunya satu bulan kami dapat melakukannya dua bulan. Jadi ketika wilayah kami diberikan waktu tiga bulan maka kami bisa selesaikan 6 bulan," ujarnya. Kondisi ini menunjukkan perlunya pendekatan yang berbeda dan lebih fleksibel dalam perencanaan serta pelaksanaan distribusi bantuan pangan di wilayah Papua yang memiliki karakteristik geografis khusus.

Menyikapi kendala distribusi, Yan Mandenas berencana untuk menyampaikan hasil pemantauan ini kepada Kantor Pusat Perum Bulog dan Badan Pangan Nasional (Bapanas). Ia akan mengusulkan agar petunjuk teknis (juknis) penyaluran bantuan pangan ke wilayah pegunungan dapat dibuat lebih fleksibel. Hal ini penting agar Bulog di daerah dapat menyesuaikan diri dengan kondisi lapangan tanpa terhambat aturan yang kaku.

Selain itu, Yan Mandenas juga meminta pemerintah daerah setempat untuk memberikan dukungan konkret kepada Perum Bulog Mimika. Dukungan tersebut dapat berupa subsidi transportasi untuk pengangkutan beras dan minyak goreng hingga ke titik lokasi masyarakat yang membutuhkan. Bantuan ini krusial untuk meringankan beban biaya operasional dan mempercepat proses penyaluran bantuan pangan.

Pemerintah daerah juga diharapkan dapat menyiapkan data penerima bantuan pangan yang valid dan akurat. Data yang tepat sasaran akan memastikan bahwa bantuan yang disalurkan benar-benar diterima oleh keluarga penerima manfaat yang berhak. Setiap keluarga penerima manfaat mendapatkan 10 kilogram beras dan dua liter minyak goreng setiap bulan, yang sangat membantu dalam memenuhi kebutuhan pokok mereka.

Brigjen Pol Jeremias Rontini menegaskan bahwa aparat kepolisian siap mendukung penuh seluruh proses Penyaluran Bantuan Pangan Bulog Mimika. Pengamanan akan dilakukan secara komprehensif, mulai dari gudang penyimpanan di Mimika hingga bandara tujuan di wilayah pegunungan. Setelah tiba di bandara, kolaborasi dengan TNI akan memastikan pengamanan berlanjut hingga ke titik penumpukan bantuan.

Ketersediaan stok pangan di Bulog Mimika saat ini dalam kondisi aman. Dedy Wahyudi melaporkan bahwa stok beras mencapai 1.000 ton, sementara stok minyak goreng tersedia sebanyak 150 ribu liter. Dengan stok yang memadai ini, Bulog Mimika berupaya untuk menjangkau wilayah terjauh lebih awal guna mengantisipasi durasi waktu penyaluran bantuan pangan yang panjang.

Hingga saat ini, Penyaluran Bantuan Pangan Bulog Mimika untuk wilayah Kabupaten Puncak telah mencapai 65 persen. Upaya percepatan terus dilakukan, meskipun kondisi cuaca dan geografis menjadi faktor penentu. Komitmen semua pihak, termasuk DPR RI, aparat keamanan, Bulog, dan pemerintah daerah, sangat dibutuhkan untuk memastikan bantuan pangan sampai kepada masyarakat di seluruh pelosok Papua.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi