SMBC Raup Laba Rp1,5 Triliun, Aset Tembus Rp245 Triliun Hingga Akhir 2025
Per akhir Desember 2025, total aset SMBC Indonesia secara konsolidasi mencapai Rp245,9 triliun, tumbuh 2,0 epersen secara year-on-year (yoy).
PT Bank SMBC Indonesia Tbk. (SMBC Indonesia) mencatatkan pertumbuhan kinerja pada 2025. Pertumbuhan ini bisa dicapai melalui manajemen risiko dan prinsip kehati-hatian untuk senantiasa memberikan layanan finansial komprehensif ke berbagai segmen ritel dan bisnis, mulai dari ultramikro sampai korporasi.
"Kinerja konsolidasi SMBC Indonesia periode 2025 mencerminkan strategi kami yang berfokus pada fundamental bisnis yang didasari oleh tata kelola yang baik," ujar Direktur Utama SMBC Indonesia, Henoch Munandar di Jakarta, Rabu (4/3).
Per akhir Desember 2025, total aset SMBC Indonesia secara konsolidasi mencapai Rp245,9 triliun, tumbuh 2,0 epersen secara year-on-year (yoy).
Di sisi kredit, SMBC Indonesia mencatat pertumbuhan secara konsolidasi sebesar 3,3 persen yoy menjadi Rp185,4 triliun pada akhir 2025. Pertumbuhan ini didorong oleh sejumlah segmen, seperti segmen korporasi dan komersial yang meningkat 6,5 persen yoy dan realisasi kredit Jenius di luar Digital Micro yang tumbuh 11,3 persen yoy.
Realisasi penyaluran kredit konsolidasi sepanjang 2025 juga ditopang oleh struktur pendanaan yang semakin efisien, dengan nilai pendanaan berbasis dana murah (CASA) yang naik 16,7 persen yoy menjadi Rp53,2 triliun dan rasio CASA yang tumbuh menjadi 40,6 persen.
Secara konsolidasi, total DPK SMBC Indonesia tumbuh 8,0 persen yoy menjadi Rp131,0 triliun pada akhir tahun lalu untuk menopang kebutuhan pendanaan tahun 2025.
SMBC Indonesia senantiasa menjaga rasio likuiditas dan pendanaan di tingkat yang sehat, dengan liquidity coverage ratio (LCR) mencapai 229,4 persen dan net stable funding ratio (NSFR) 123,0 persen per 31 Desember 2025. Kedua rasio tersebut juga merefleksikan upaya SMBC Indonesia dalam menerapkan prinsip kehati-hatian untuk menjaga likuiditas dan permodalan tetap kuat.
Rasio Kecukupan Modal
Rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) konsolidasi tercatat di angka 29,3 persen pada akhir tahun 2025. Angka CAR tersebut di atas rata-rata industri 25,9 persen dan menunjukkan ruang untuk lebih mengembangkan bisnis dan melayani lebih banyak nasabah di berbagai segmen ke depannya.
Bank mencatatkan gross non-performing loan ratio secara konsolidasi berada di level 2,6 persen pada akhir Desember 2025, sedikit membaik dibandingkan 2,8 persen pada akhir September 2025. Perbaikan ini merupakan upaya untuk senantiasa menerapkan manajemen risiko yang sehat.
Pendapatan operasional konsolidasi SMBC Indonesia sebesar Rp18,4 triliun, meningkat 5,8 persen yoy. Pendapatan bunga bersih tumbuh 4,6 persen yoy, dengan margin bunga bersih (net interest margin/NIM) terjaga di level 7,0 persen di tengah suku bunga kredit yang kompetitif, kenaikan biaya pendanaan, dan volatilitas pasar yang terus berjalan.
Secara konsolidasi, SMBC Indonesia memperkuat pencadangan kerugian penurunan nilai (CKPN), terutama di anak perusahaan, yaitu Grup OTO. SMBC Indonesia menilai pencadangan tersebut merupakan respons yang bijaksana terhadap dinamika ekonomi pada tahun 2025, serta upaya perusahaan induk konglomerasi keuangan (PIKK) dalam menerapkan prinsip kehati-hatian dan menjaga permodalan tetap kokoh.
"Kenaikan CKPN secara konsolidasi merupakan upaya kita sebagai PIKK untuk senantiasa meningkatkan standar penerapan tata kelola perusahaan yang baik, serta menjaga kualitas aset dan ketahanan bank. Dengan demikian, laba bersih konsolidasi SMBC Indonesia yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk yang tercatat sebesar Rp506 miliar untuk tahun 2025," jelas Henoch.
Laba Bersih
Selain itu, SMBC Indonesia sebagai bank saja membukukan laba bersih setelah pajak sebesar Rp1,5 triliun sepanjang 2025. "Sementara, anak usaha kami, yaitu BTPN Syariah (PT Bank BTPN Syariah Tbk.), mencatatkan laba bersih konsolidasi sebesar Rp1.201 miliar pada tahun 2025, tumbuh 13,2 persen yoy, dengan penyaluran pembiayaan mencapai Rp10,3 triliun, tumbuh 2 persen yoy," tambah Henoch.
Sebagai bagian dari komitmen jangka panjang, SMBC Indonesia juga terus memperkuat agenda environment, social, and governance (ESG), salah satunya, melalui program Daya, yang bertujuan memberikan perubahan berarti dalam kehidupan jutaan orang melalui pengembangan kapasitas diri, literasi keuangan, peningkatan kapasitas usaha, dan kehidupan yang berkelanjutan.
Hingga Desember 2025, Daya telah memberdayakan hampir 37 juta partisipan melalui lebih dari 12 ribu kegiatan yang mencakup aktivitas interaktif, seperti pendampingan, seminar dan pelatihan, edukasi berbasis digital, serta berbagai kegiatan pemberdayaan lainnya.
"Bagi kami, pertumbuhan berkelanjutan tidak bisa hanya diukur dari kinerja finansial, tetapi juga dari kontribusi nyata bagi masyarakat melalui pemberdayaan dan inklusi ekonomi. SMBC Indonesia akan terus melakukan inisiatif dan inovasi agar dapat berperan aktif dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang mampu menyejahterakan seluruh segmen masyarakat," tutup Henoch.